Jakarta, Jurnas.com - Harapan dikenang orang lain setelah meninggal dunia ternyata berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik. Sebuah penelitian terbaru menemukan, orang yang merasa kehidupan dan karya mereka akan diingat cenderung melaporkan tingkat depresi, kecemasan, serta gangguan tidur yang lebih rendah.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin psikolog Uri Lifshin dan Mario Mikulincer dari Hebrew University of Jerusalem. Keduanya merupakan bagian dari Israel Center for Addiction and Mental Health di universitas tersebut.
Penelitian ini melibatkan 2.912 orang dewasa Yahudi di Israel yang disurvei pada Februari 2025, ketika negara itu tengah menghadapi perang dengan Hamas, Hezbollah, dan Iran. Hasilnya menunjukkan bahwa harapan untuk tetap hidup dalam ingatan orang lain memiliki hubungan dengan berbagai indikator kesehatan mental dan perilaku adiktif.
Menariknya, hubungan tersebut tidak ditemukan pada keyakinan tentang kehidupan setelah kematian, seperti surga atau reinkarnasi. Dengan kata lain, harapan untuk dikenang oleh keluarga, teman, atau masyarakat memiliki keterkaitan yang berbeda dibandingkan kepercayaan bahwa seseorang akan menjalani kehidupan lain setelah meninggal.
Harapan untuk dikenang dan kesehatan mental
Para peneliti menggunakan pertanyaan sederhana untuk mengukur keyakinan seseorang tentang warisan yang akan ditinggalkan setelah meninggal dunia.
Peserta diminta menjawab, “Apakah Anda berpikir bahwa orang lain akan mengingat Anda setelah meninggal, misalnya melalui pencapaian atau warisan yang ditinggalkan?”
Jawaban diberikan dalam skala 1 hingga 7, mulai dari sangat yakin tidak akan dikenang hingga sangat yakin akan tetap diingat. Rata-rata jawaban peserta mencapai 4,55, menunjukkan kecenderungan untuk percaya bahwa mereka akan dikenang.
Tim peneliti kemudian membandingkan jawaban tersebut dengan sejumlah ukuran kesehatan psikologis, termasuk depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, masalah tidur, dan kemampuan mengendalikan emosi.
Hasil analisis memperlihatkan hubungan paling kuat antara harapan untuk dikenang dan perasaan bahwa hidup memiliki makna, dengan nilai korelasi 0,45. Hubungan dengan harga diri dan perasaan mendapat dukungan dari orang lain masing-masing mencapai 0,35.
Sementara itu, harapan untuk dikenang berkaitan dengan lebih rendahnya masalah dalam mengelola emosi, dengan nilai korelasi 0,27, serta gejala depresi sebesar 0,26.
Para peneliti menegaskan bahwa angka tersebut menunjukkan kecenderungan hubungan dalam kelompok besar, bukan kepastian bahwa setiap orang yang merasa akan dikenang otomatis memiliki kesehatan mental lebih baik.
Berkaitan dengan lebih rendahnya perilaku adiktif
Hubungan serupa juga terlihat pada sembilan jenis perilaku adiktif yang diteliti. Peserta yang merasa akan dikenang setelah meninggal melaporkan lebih sedikit tanda-tanda perilaku bermasalah, mulai dari penggunaan alkohol hingga kebiasaan menggunakan internet dan media sosial secara kompulsif.
Hubungan paling lemah ditemukan pada perjudian, dengan nilai korelasi 0,07, dan masalah penggunaan alkohol sebesar 0,08. Sementara itu, hubungan paling kuat terlihat pada kecanduan internet, yakni 0,18, disusul perilaku bermasalah terkait pornografi dan media sosial.
Peneliti menduga keterhubungan dengan orang lain, makna hidup, dan keyakinan bahwa sebagian dari diri seseorang akan tetap ada melalui kenangan atau warisan dapat berjalan beriringan dengan kesehatan mental yang lebih baik.
Temuan ini berkaitan dengan konsep symbolic immortality, yakni perasaan bahwa seseorang dapat terus hadir dalam kehidupan setelah kematian melalui kenangan orang lain, karya, pencapaian, atau kelompok sosial yang menjadi bagian dari kehidupannya.
Konsep tersebut juga berhubungan dengan terror management theory, teori psikologi yang menjelaskan bagaimana manusia menghadapi ketakutan terhadap kematian. Teori ini berangkat dari gagasan bahwa manusia berusaha mengelola kesadaran akan kematian dengan membangun rasa berharga, dicintai, dan menjadi bagian dari sesuatu yang dapat bertahan setelah dirinya tiada.
Keyakinan tentang kehidupan setelah kematian menunjukkan hasil berbeda
Penelitian tersebut juga mengukur keyakinan peserta terhadap kehidupan setelah kematian, termasuk surga dan reinkarnasi. Keyakinan ini memang memiliki hubungan dengan harapan untuk dikenang, dengan nilai korelasi 0,37.
Namun, kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian lebih erat berkaitan dengan religiositas. Hubungannya dengan keyakinan kepada Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi mencapai 0,79.
Berbeda dengan harapan untuk dikenang, keyakinan tentang kehidupan setelah kematian tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, masalah tidur, maupun kesulitan mengendalikan emosi.
Kepercayaan tersebut hanya berkaitan dengan sedikit lebih rendahnya beberapa perilaku bermasalah, seperti konsumsi alkohol, penggunaan ganja, pornografi, dan perilaku seksual kompulsif. Sebaliknya, keyakinan tentang kehidupan setelah kematian juga memiliki hubungan dengan sedikit lebih tingginya masalah penggunaan internet.
Meski menemukan sejumlah hubungan, penelitian ini belum membuktikan bahwa keyakinan akan dikenang setelah meninggal secara langsung meningkatkan kesehatan mental atau mencegah kecanduan.
Survei dilakukan hanya satu kali sehingga tidak dapat memastikan mana yang lebih dulu muncul. Perasaan bahwa hidup akan dikenang mungkin membantu seseorang menghadapi tekanan psikologis, tetapi depresi atau perilaku adiktif juga bisa melemahkan keyakinan bahwa kehidupannya memiliki arti bagi orang lain.
Peneliti juga mengakui pengukuran harapan untuk dikenang hanya menggunakan satu pertanyaan. Selain itu, situasi perang di Israel saat survei dilakukan mungkin memengaruhi hasil karena ancaman, identitas nasional, dan trauma menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan melalui eksperimen, pengamatan jangka panjang terhadap orang yang sama, serta survei di negara lain untuk mengetahui apakah hubungan serupa juga muncul dalam kondisi berbeda.
Temuan penelitian tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Mental Health and Addiction. Para peneliti menyimpulkan bahwa perasaan terhubung dengan orang lain, memiliki makna hidup, dan percaya bahwa sebagian dari diri akan tetap dikenang dapat berjalan beriringan dengan kesehatan mental yang lebih baik serta lebih sedikit perilaku adiktif. (*)
SUmber: Earth






