Jakarta, Jurnas.com - Harga minyak mentah dunia bergerak menguat pada perdagangan Rabu di tengah bayang-bayang ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta hasil Pemilu Sela AS yang menunjukkan kemenangan Partai Demokrat atas Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump.
Minyak mentah berjangka Brent tercatat naik 82 sen atau 0,8 persen menjadi US$104,42 per barel pada pukul 08.10 pagi waktu Arab Saudi. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 50 sen atau 0,5 persen ke posisi US$96,59 per barel, membalikkan penurunan yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Pergerakan pasar minyak terjadi bertepatan dengan proses penghitungan suara Pemilu Sela AS, di mana Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas suara di dua kamar Kongres AS untuk sisa masa jabatan periode kedua Presiden Donald Trump.
"Sinyal yang kontradiktif dari Presiden Trump—di mana serangan militer terus berlanjut di samping pernyataan yang meredakan eskalasi—membuat para pelaku pasar kesulitan membangun keyakinan arah pasar yang kuat," ungkap Kepala Riset Pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Sachdeva menambahkan bahwa langkah aksi untung (profit-taking) dan pengurangan posisi long spekulatif memang wajar terjadi setelah reli tajam pada Oktober. Kendati demikian, risiko gangguan pasokan di sekitar Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang, didukung oleh penurunan cadangan minyak mentah AS yang tidak terduga.
Di sektor militer, pejabat AS mengonfirmasi bahwa militer AS melancarkan serangan "defensif" di Pulau Qeshm, Iran, yang menargetkan sistem rudal permukaan-ke-udara yang digunakan untuk melawan aset-aset AS. Namun, serangan tersebut dinilai terbatas dan tidak menandakan kembalinya operasi tempur skala besar.
Di jalur diplomasi, Qatar terus meningkatkan upaya mediasi guna mencegah meluasnya serangan pasca-pemilu di AS. Meski demikian, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa posisi Iran dan AS masih sangat jauh dari kesepakatan damai. Sementara itu, Presiden Trump menegaskan kepada Financial Times bahwa AS tidak memiliki rencana mendesak untuk menyerang Iran.
Dari sisi pasokan, data American Petroleum Institute (API) mencatat stok minyak mentah AS menyusut hingga 5,27 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober. Angka penurunan ini berbanding terbalik dengan perkiraan delapan analis yang disurvei Reuters yang memproyeksikan kenaikan sekitar 880.000 barel. Selain itu, stok minyak distilat turun 1,19 juta barel, sedangkan persediaan bensin naik 1,43 juta barel.
"Persediaan diesel tetap ketat, sementara stok bensin naik lebih tinggi dari perkiraan. Secara umum data ini memberikan sentimen positif bagi harga minyak," tulis lembaga analisis Haitong Futures dalam catatan risetnya.






