News

PBB: Krisis Kemanusiaan Yaman Memburuk, 300 Ribu Warga Mengungsi

PBB soroti krisis kemanusiaan di Yaman semakin memburuk seiring meningkatnya konflik, memaksa hampir 300.000 warga mengungsi sejak Agustus 2026
Potret warga di Yaman ketika mengungsi (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Krisis kemanusiaan di Yaman semakin memburuk seiring meningkatnya konflik yang memaksa hampir 300.000 orang meninggalkan tempat tinggal mereka sejak Agustus 2026. Di tengah gelombang pengungsian tersebut, kota Taiz menghadapi kekurangan pasokan kebutuhan pokok, sementara layanan kesehatan dan penyediaan air bersih semakin tertekan.

Kepala bantuan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, memperingatkan bahwa warga sipil harus menanggung dampak paling berat dari eskalasi konflik. Ia mendesak pihak-pihak yang bertikai membuka akses jalan agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

"Warga sipil Yaman membayar harga yang sangat berat akibat konflik yang semakin meningkat ini," kata Fletcher melalui unggahan di platform media sosial X, Senin.

Menurut Fletcher, situasi di Taiz semakin mengkhawatirkan karena sejumlah jalan ditutup dan persediaan kebutuhan masyarakat mulai menipis. Kota yang dihuni sekitar satu juta orang itu menghadapi tekanan serius terhadap pasokan air, pangan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Penutupan akses jalan membuat distribusi kebutuhan pokok ke Taiz semakin sulit. Produksi air di kota tersebut dilaporkan turun hingga separuh, sedangkan harga pangan melonjak sedikitnya 50 persen.

Kondisi rumah sakit juga semakin memprihatinkan. Sejumlah fasilitas kesehatan mulai kehabisan bahan bakar dan obat-obatan, sehingga kemampuan mereka memberikan layanan kepada masyarakat terancam terganggu.

Fletcher mengatakan telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Yaman Afrah Abdulaziz Al-Zouba mengenai kondisi kemanusiaan tersebut. Mitra kemanusiaan PBB sejauh ini telah menjangkau hampir 260.000 orang yang mengungsi akibat konflik.

Namun, jumlah bantuan yang berhasil disalurkan belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.

"Kebutuhan terus melampaui kemampuan respons kami," kata Fletcher.

Ia menegaskan bahwa pembukaan akses jalan menjadi langkah mendesak agar bantuan dapat masuk ke wilayah terdampak.

"Tuntutan kami jelas. Buka jalan dan biarkan bantuan masuk. Warga sipil tidak boleh dijadikan sandera dalam pertempuran," ujarnya.

Selain memperingatkan memburuknya kondisi warga sipil, Fletcher juga menyampaikan kemarahan atas kematian Mohammad el Shami, staf Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Yaman, saat berada dalam tahanan kelompok Houthi.

El Shami sebelumnya ditahan secara sewenang-wenang sejak 6 Juni 2024. Ia menjadi pegawai PBB kedua yang meninggal dalam tahanan Houthi.

Kasus serupa dialami Ahmed Ba'alawi, staf nasional Program Pangan Dunia (WFP), yang ditahan otoritas setempat di wilayah utara Yaman sejak 23 Januari 2025. Ba'alawi meninggal pada 11 Februari 2025 saat masih berada dalam tahanan.

Fletcher juga menyebut sekitar 70 staf PBB dan puluhan pekerja kemanusiaan lainnya masih ditahan. Ia mendesak agar mereka segera dibebaskan.

"Mereka bukan alat tawar-menawar. Bebaskan mereka," tegasnya.

Yaman telah terperosok dalam konflik berkepanjangan sejak 2014, ketika kelompok Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa. Perkembangan tersebut kemudian memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Jutaan warga Yaman masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. (*)

Sumber: Anadolu