Kebakaran akibat serangan militer Houthi di kawasan Bandara Internasional King Khalid, Arab Saudi (Foto: Reuters)
Riyadh, Jurnas.com - Koalisi militer pimpinan Arab Saudi secara resmi mengumumkan keberhasilan mereka mencegat satu peluru kendali balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi asal Yaman menuju Kota Riyadh.
Serangan udara balasan dari kelompok yang didukung Iran tersebut, terjadi hanya sehari setelah operasional penerbangan di Bandara Internasional King Khalid Riyadh kembali dibuka untuk publik.
Gelombang ledakan keras sempat mengguncang ibu kota Arab Saudi pada Minggu hingga memicu otoritas setempat mengirimkan pesan peringatan darurat mengenai adanya ancaman udara ke ponsel warga.
Aksi pencegatan ini merespons serangan masif kelompok Houthi sebelumnya di bandara tersebut yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 warga lainnya.
Juru bicara resmi koalisi militer, Turki Al-Malki, mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara nasional berhasil menghancurkan ancaman rudal tersebut di udara.
"Pertahanan udara mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi ke arah Riyadh, serta menghancurkan dua peluncur rudal balistik di ibu kota Yaman, Sanaa," kata Al-Malki dikutip dari CNA pada Senin (26/10).
"Kami melanjutkan proses pembongkaran jaringan rudal balistik milik milisi teroris Houthi," dia menambahkan.
Di sisi lain, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa pihaknya telah melancarkan serangan balistik yang mengenai sasaran utama di area bandara Riyadh. Saree mengklaim bahwa Angkatan Bersenjata Yaman menjalankan dua operasi militer kualitatif yang menargetkan konsentrasi pasukan dan depot senjata musuh Saudi di wilayah Aden dan Lahj yang menimbulkan puluhan korban.
Saree memberikan peringatan keras kepada publik dan maskapai penerbangan internasional bahwa kawasan bandara Riyadh masih berstatus sebagai target militer yang tidak aman.
"Rezim Saudi harus menanggung seluruh konsekuensi dari setiap operasional yang berlangsung di bandara tersebut," ujar Saree.
Rentetan serangan udara ini memberikan dampak ekonomi dan sosial yang sangat luas bagi kerajaan Arab Saudi, termasuk penundaan konferensi investasi utama hingga tahun 2027. Selain itu, ajang kejuaraan otomotif dunia Reli Dakar turut menambah daftar panjang acara internasional yang terpaksa dibatalkan atau dipindahkan posisinya akibat konflik yang memanas.
Menanggapi meningkatnya ancaman udara tersebut, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis menyetujui permintaan Saudi untuk memperpanjang penempatan sistem pertahanan rudal Patriot di wilayah Yanbu.
Penyiagaan sistem artileri canggih buatan Amerika Serikat tersebut ditujukan untuk melindungi pusat infrastruktur ekspor minyak utama Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah.
Lembaga pertahanan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa puing-puing jatuhan rudal yang berhasil dicegat telah menyebabkan dua warga di wilayah selatan mengalami luka-luka serta merusak beberapa bangunan dan kendaraan. Militer juga memastikan pemantauan ruang udara akan terus diperketat guna menjamin keselamatan warga serta kelancaran transportasi nasional.
Selasa, 20/10/2026 08:35 WIB
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB