https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Prancis Siaga Jelang Demo 24 Oktober, Macron Batasi Aksi di Sejumlah Kota

Agus Mughni | Jum'at, 23/10/2026 08:52 WIB



Kami berada pada tingkat kewaspadaan maksimum Aksi unjuk rasa di Prancis (Foto: Anadolu)

Paris, Jurnas.com - Pemerintah Prancis meningkatkan pengamanan ke tingkat tertinggi menjelang gelombang demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Presiden Emmanuel Macron mengumumkan pembatasan terhadap demonstrasi yang tidak diselenggarakan serikat pekerja, sementara sejumlah kota menerapkan larangan aksi dan Paris memberlakukan jam malam di kawasan tertentu.

Menteri Delegasi untuk Kementerian Dalam Negeri Prancis, Jean-Didier Berger, mengatakan aparat berada dalam kondisi siaga penuh untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan selama aksi berlangsung.

Baca juga :
Prancis Perpanjang Jam Malam di Sejumlah Kota Usai Kerusuhan Demonstrasi

“Kami berada pada tingkat kewaspadaan maksimum,” kata Berger kepada stasiun televisi BFMTV pada Kamis.

Ia menegaskan pemerintah tidak menutup kemungkinan mengambil langkah tambahan, termasuk melarang pertemuan massa maupun kegiatan budaya dan olahraga, jika dinilai diperlukan dalam beberapa hari dan pekan mendatang.

Baca juga :
Hampir 2.000 Tahanan Kabur dan 20 Tewas akibat Serangan Barak Militer di Sierra Leone

Jumlah personel keamanan yang dikerahkan pada Sabtu juga akan ditingkatkan sebesar 20 persen dibandingkan pengamanan demonstrasi pada 17 Oktober. Pemerintah bahkan membatalkan cuti dan memanggil kembali personel yang sebelumnya dijadwalkan tidak bertugas.

Pasukan khusus, termasuk Operation Sentinelle, GIGN, dan RAID, turut disiapkan untuk mendukung pengamanan.

Baca juga :
Gelombang Omicron Melunak, Afrika Selatan Cabut Jam Malam

Dalam rapat dewan keamanan, Macron mengumumkan bahwa demonstrasi yang tidak diorganisasi oleh serikat pekerja akan dilarang selama beberapa hari ke depan, khususnya pada 24 Oktober, sejauh memungkinkan.

Pemerintah menugaskan para prefek untuk memeriksa permohonan demonstrasi dari serikat pekerja dan mengusulkan rute alternatif. Langkah tersebut ditujukan untuk melindungi pusat kota, tempat usaha, dan bangunan publik.

Juru bicara pemerintah Maud Bregeon menjelaskan bahwa pembatasan terhadap demonstrasi di luar serikat pekerja akan diputuskan berdasarkan kondisi masing-masing kasus.

Di Paris, kepolisian menyetujui rute demonstrasi serikat pekerja CGT dari Bastille menuju Nation. Kelompok Yellow Vests Coordination juga akan bergabung dalam aksi tersebut setelah rute yang mereka ajukan dari Bastille menuju Opera ditolak.

Sementara itu, demonstrasi dilarang di seluruh wilayah Lyon, kawasan pusat Toulon, serta sejumlah bagian Lille pada Sabtu.

Kepolisian Paris memberlakukan jam malam di sekitar Place de la République dan Les Halles mulai pukul 23.00 hingga 06.00. Pembatasan tersebut berlaku sejak Kamis malam hingga Minggu.

Sejumlah tempat wisata budaya juga akan terdampak. Museum Louvre, Musée d`Orsay, dan Museum Picasso dijadwalkan tutup pada Sabtu, 24 Oktober.

Di Toulon, jam malam juga diberlakukan bagi anak di bawah umur yang tidak didampingi orang dewasa di pusat kota, mulai Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Namun, pembatasan demonstrasi tidak berlaku tanpa pengecualian. Pengadilan administratif Paris pada Kamis membatalkan larangan terhadap aksi yang diajukan gerakan mahasiswa Interfac. Setelah keputusan itu, kepolisian memerintahkan demonstrasi tetap berlangsung di satu lokasi, yakni Boulevard de l`Hôpital, tanpa berpindah tempat.

Peningkatan pengamanan dilakukan setelah demonstrasi pada 17 Oktober menimbulkan kerusakan pada sejumlah tempat usaha dan bangunan publik. Aksi sebelumnya melibatkan kelompok Yellow Vests dan mahasiswa yang memprotes biaya hidup serta harga bahan bakar.

Menteri Kehakiman Prancis Gérald Darmanin mengatakan sebanyak 2.700 orang telah ditempatkan dalam tahanan polisi sejak Sabtu. Dari jumlah tersebut, 217 orang telah dijatuhi hukuman penjara, menurut keterangan yang disampaikannya.

Darmanin juga menginstruksikan jaksa untuk meminta sanksi tambahan terhadap pelaku pelanggaran. Sanksi yang dapat diajukan mencakup larangan mengikuti demonstrasi, pencabutan sementara hak-hak sipil, serta pembatasan penggunaan media sosial.

Pemerintah turut mengimbau pemilik toko untuk mengamankan tempat usaha dan memeriksa sistem pengawasan. Kepolisian Paris merekomendasikan penggunaan petugas keamanan swasta, termasuk yang didampingi anjing pelacak jika diperlukan.

Di tengah persiapan pengamanan, Macron dijadwalkan bertemu dengan perwakilan pelajar sekolah menengah pada Jumat. Perdana Menteri Sébastien Lecornu juga dijadwalkan bertemu dengan organisasi mahasiswa universitas pada Senin.

Pemerintah menghadapi rangkaian demonstrasi yang berkaitan dengan tekanan biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar. Aksi pada 17 Oktober sebelumnya diwarnai kerusakan pada sejumlah tempat usaha dan bangunan publik, sehingga memicu pembatasan keamanan di beberapa kota.

Demonstrasi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober. Serikat pekerja juga telah menyerukan aksi mogok nasional dan demonstrasi pada 5 November. (*)

Sumber: Anadolu

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kota di Prancis Jam Malam Demonstrasi Besar

Humanika

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777