https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Pelajaran Prasekolah Berdampak pada Kesehatan Mental hingga Dewasa

Agus Mughni | Jum'at, 23/10/2026 16:15 WIB



 Temuannya menunjukkan, pendidikan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca/berbahasa, tetapi juga dengan keterampilan sosial-emosional Ilustrasi membimbing anak belajar (foto:okezoneWomen)

Jakarta, Jurnas.com - Pelajaran sederhana tentang mengenali emosi, berbagi, dan menyelesaikan perselisihan sejak usia prasekolah ternyata berpotensi memberikan manfaat hingga seseorang memasuki usia dewasa muda.

Sebuah studi menemukan, peserta yang mengikuti program pembelajaran sosial dan emosional saat kecil melaporkan tingkat kesepian lebih rendah, gejala depresi lebih sedikit, serta kepuasan hidup lebih tinggi ketika berusia 21–22 tahun.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal American Psychologist ini menelusuri perkembangan anak selama hampir dua dekade. Temuannya menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan berbahasa, tetapi juga dengan keterampilan sosial dan emosional yang dapat mendukung kesejahteraan dalam jangka panjang.

Baca juga :
Penanganan Anak Usia Dini Butuh Upaya Bersama

Studi tersebut melibatkan 356 anak berusia rata-rata sekitar 4,5 tahun dari keluarga berpenghasilan rendah yang mengikuti program prasekolah Head Start, sebuah program pendidikan prasekolah yang didanai pemerintah di Amerika Serikat.

Tim peneliti yang dipimpin psikolog Karen Bierman dari Penn State mengembangkan program tambahan bernama REDI. Sebanyak 44 kelas di tiga wilayah Pennsylvania dibagi secara acak untuk mengikuti REDI atau tetap menjalankan pembelajaran Head Start seperti biasa.

Baca juga :
Peneliti Kaitkan Suhu Panas dengan Lonjakan Masalah Kesehatan Mental Anak

“Kami ingin memahami apakah memberikan keterampilan sosial, pemecahan masalah, dan bahasa kepada siswa dapat menempatkan mereka pada jalur menuju kesuksesan seumur hidup,” kata Bierman.

Program REDI menggabungkan kegiatan membaca dan pengembangan bahasa dengan pelajaran mengenai emosi, berbagi, serta cara menyelesaikan perselisihan. Setiap pekan, guru memberikan pelajaran selama 20 menit dengan menggunakan cerita, boneka, dan permainan peran.

Baca juga :
DPR Kawal Isu Reformasi Bea Cukai Hingga Kesehatan Mental Anak

Salah satu metode yang diajarkan disebut doing turtle. Anak-anak dilatih untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, kemudian menjelaskan masalah yang dihadapi dan perasaan mereka.

Guru tidak hanya mengajarkan metode tersebut di dalam kelas. Ketika perselisihan benar-benar terjadi, anak-anak dibimbing untuk mempraktikkan langkah-langkah itu. Poster dan pengingat harian juga digunakan agar mereka terbiasa mengelola emosi, sementara buku dengan tema serupa dibacakan setiap hari. Pelaksanaan program turut didukung oleh kunjungan pelatih setiap pekan.

Pendekatan ini membantu anak berlatih menghadapi situasi yang kerap terjadi dalam keseharian, seperti berebut mainan atau mengalami perbedaan pendapat dengan teman. Alih-alih langsung bereaksi ketika marah, mereka didorong untuk mengenali perasaan dan menyampaikan masalah dengan lebih baik.

Hampir dua dekade setelah program dimulai, peneliti berhasil menghubungi kembali 263 peserta awal ketika mereka berusia 21 atau 22 tahun. Melalui wawancara telepon, peserta menjawab pertanyaan mengenai kesehatan, hubungan sosial, perilaku, dan kepuasan hidup.

Kelompok yang mengikuti REDI menunjukkan hasil lebih baik pada tujuh dari 11 aspek yang diteliti. Mereka melaporkan tingkat kesepian lebih rendah, gejala depresi lebih sedikit, serta lebih sedikit masalah perilaku, termasuk berkelahi dan mencuri.

Peserta kelompok REDI juga melaporkan empati yang lebih tinggi, yakni kemampuan memahami dan peduli terhadap perasaan orang lain. Mereka merasa memperoleh dukungan sosial lebih besar dan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Meski demikian, perbedaan antara kedua kelompok tergolong kecil hingga sedang. Empat aspek lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang jelas, termasuk hiperaktivitas dan perasaan memiliki atau diterima dalam suatu kelompok.

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan jangka panjang yang menjanjikan antara pembelajaran sosial-emosional pada masa prasekolah dan sejumlah indikator kesejahteraan ketika dewasa muda. Namun, hasil tersebut tidak berarti program ini menjamin seseorang terhindar dari depresi atau masalah kesehatan mental lainnya.

Salah satu temuan yang dinilai penting berkaitan dengan jumlah hari ketika masalah kesehatan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Peneliti menanyakan berapa hari selama sebulan terakhir kondisi kesehatan fisik atau mental yang buruk menghambat kegiatan peserta, seperti bekerja atau merawat diri sendiri.

Peserta yang mengikuti REDI rata-rata melaporkan memiliki 27,4 hari sehat dari total 30 hari. Sementara itu, kelompok yang mengikuti pembelajaran Head Start biasa mencatat rata-rata 25,6 hari.

Artinya, terdapat selisih sekitar 1,8 hari sehat dalam sebulan antara kedua kelompok. Jika selisih tersebut bertahan sepanjang tahun, jumlahnya dapat melampaui 20 hari.

“REDI meningkatkan kehidupan dengan cara yang bermakna,” kata salah satu penulis studi, Damon Jones, profesor riset di Edna Bennett Pierce Prevention Research Center, Penn State.

Angka tersebut menggambarkan perbedaan yang dilaporkan peserta dalam aktivitas sehari-hari. Peneliti tidak menyatakan bahwa setiap peserta REDI memperoleh tambahan hari sehat dalam jumlah yang sama.

Manfaat program REDI juga terlihat pada akhir masa prasekolah. Anak-anak yang mengikuti program tersebut mengalami peningkatan lebih besar dalam kemampuan membaca awal dan keterampilan sosial dibandingkan anak-anak di kelas reguler.

Mereka memiliki pengetahuan lebih baik tentang kata dan huruf, lebih mampu memahami emosi, serta menunjukkan perilaku agresif yang lebih rendah.

Namun, keunggulan dalam membaca dan berbahasa berangsur menghilang dalam beberapa tahun pertama sekolah dasar. Sebaliknya, peningkatan keterampilan sosial dan emosional bertahan lebih lama.

Dalam pemantauan sebelumnya ketika peserta duduk di bangku sekolah menengah atas, kelompok REDI juga menunjukkan lebih sedikit masalah perilaku dan tekanan emosional.

Peneliti menemukan petunjuk mengenai bagaimana manfaat itu dapat bertahan ketika anak berpindah kelas, berganti guru, dan berinteraksi dengan teman-teman baru. Pemahaman emosi yang lebih baik saat prasekolah berkaitan dengan hubungan yang lebih kuat bersama teman sekelas dan guru di sekolah dasar.

Hubungan tersebut kemudian berkaitan dengan lebih sedikit masalah emosional dan perilaku ketika peserta berada di sekolah menengah atas.

Rangkaian temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan memahami perasaan sejak dini dapat membantu anak membangun hubungan sosial yang mendukung perkembangannya pada tahap berikutnya.

Peneliti turut memeriksa pengalaman sulit yang dialami anak sebelum memasuki prasekolah. Orang tua melaporkan sembilan jenis kesulitan, termasuk sering mengalami hukuman fisik berupa pukulan dan berpindah rumah sebanyak tiga kali atau lebih.

Hampir separuh anak memiliki orang tua yang menunjukkan tanda-tanda depresi. Hampir separuh lainnya memiliki orang tua yang pernah ditangkap.

Anak-anak yang menghadapi kesulitan paling berat cenderung melaporkan hasil yang lebih buruk ketika dewasa pada tujuh indikator, terlepas dari apakah mereka mengikuti REDI atau pembelajaran biasa.

Meski demikian, pengalaman sulit pada masa awal kehidupan tidak tampak menghilangkan seluruh manfaat program. Dampak REDI terhadap empati dan kemampuan bersosialisasi justru lebih besar pada anak-anak yang mengalami lebih banyak kesulitan sejak dini.

Salah satu penulis studi, Janet Welsh, profesor riset di pusat penelitian Penn State tersebut, menekankan pentingnya melindungi anak dari bahaya sekaligus membekali mereka dengan keterampilan untuk menghadapi berbagai pengalaman hidup.

“Kami perlu melakukan segala yang kami bisa untuk melindungi anak-anak dari bahaya sekaligus membantu mereka membangun keterampilan untuk menghadapi apa pun yang mereka alami dalam hidup,” kata Welsh.

“Ini membutuhkan biaya, tetapi merupakan investasi yang kuat untuk masa depan kita bersama,” tambahnya.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Data mengenai kondisi peserta ketika dewasa sepenuhnya berasal dari laporan mereka sendiri. Ingatan yang tidak sempurna atau keinginan untuk memberikan gambaran diri yang lebih baik dapat memengaruhi jawaban.

Peneliti juga tidak berhasil menghubungi seluruh peserta awal. Mereka yang tetap mengikuti penelitian lebih banyak perempuan dan lebih mungkin berasal dari kelas Head Start reguler. Penyesuaian statistik yang dilakukan belum tentu sepenuhnya mengatasi ketimpangan tersebut.

Selain itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji apakah hasil serupa juga ditemukan pada anak-anak dari komunitas lain. Data mengenai pengalaman sulit yang dilaporkan orang tua hanya mencakup masa sebelum prasekolah sehingga tidak menggambarkan seluruh pengalaman anak pada masa berikutnya.

Program REDI juga menggabungkan beberapa bentuk dukungan sekaligus. Karena itu, peneliti masih perlu menentukan komponen mana yang paling berpengaruh, berapa biaya pelaksanaannya, dan seberapa efektif program tersebut jika diterapkan di lingkungan berbeda. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Pendidikan Anak Usia Dini Kesehatan Mental Anak Pembelajaran Sosial Emosional

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777