https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Pembukaan Simposium dan Munas ASAFI 2026 Soroti Redupnya Cendekiawan Muslim

Vaza Diva | Jum'at, 23/10/2026 13:38 WIB



Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) resmi membuka perhelatan Simposium dan Musyawarah Nasional (Munas) ASAFI 2026 di Bandung. Pembukan Simposium dan Musyawarah Nasional Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) di Bandung, pada Kamis (22/10). (Foto: Ist)

Bandung, Jurnas.com - Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) resmi membuka perhelatan Simposium dan Musyawarah Nasional (Munas) ASAFI 2026 di Bandung, pada Kamis (22/10).

Forum nasional yang dihadiri puluhan pengelola Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini digelar untuk mengevaluasi arah pendidikan Islam sekaligus merumuskan langkah strategis masa depan disiplin ilmu filsafat Islam.

Dalam pidato pembukaannya, Ketua ASAFI Prof. Kholid Al Walid menyampaikan gelisah mendalam terkait realitas pendidikan Islam saat ini.

Baca juga :
Pengamat Sebut Kekuatan Iran Berasal dari Tradisi Keilmuan

Ia menyoroti ironi melimpahnya lembaga pendidikan Islam dan jutaan santri, namun dunia Islam justru mengalami krisis dalam melahirkan kembali ilmuwan kaliber dunia layaknya Al-Ghazali, Ibn Sina, maupun Al-Biruni.

"Kegelisahan itu bermula dari satu pertanyaan sederhana yang sering saya ajukan kepada diri sendiri: mengapa pendidikan Islam kita, yang begitu luas dan begitu ramai, dengan puluhan ribu madrasah dan pesantren serta jutaan santri dan siswa, tidak lagi melahirkan al-Ghazali, Ibn Sina, atau al-Biruni yang baru?" kata Kholid Al Walid.

Baca juga :
Diskusi Buku Republik Islam Iran: Kekuatan Baru di Dunia Multipolar

Menurut Kholid Al Walid, salah satu akar masalah utama terletak pada tercabutnya pengajaran logika dan filsafat secara mendalam dari kurikulum madrasah dan pesantren, serta adanya pemisahan atau dikotomi antara ilmu agama dan sains.

Ketua ASAFI menilai upaya integrasi-interkoneksi ilmu yang berjalan selama ini belum menyentuh akar fondasi epistemologi.

Baca juga :
AS Disebut Telah Kalah Strategi Perang dengan Iran

Sebagai solusinya, ia menawarkan pemulihan paradigma tauhid dan konsep scientia sacra yang menempatkan keesaan Tuhan sebagai pusat seluruh cabang pengetahuan.

Ia menekankan bahwa filsafat tidak boleh dipandang sebelah mata hanya dari kacamata pasar kerja.

Menurutnya, logika dan filsafat merupakan tulang punggung paradigma pemikiran yang melatih daya nalar dan daya kritis generasi muda.

"Filsafat mestinya bukan sekadar pelajaran, tetapi bangunan dari setiap kurikulum fakultas dan prodi di seluruh Indonesia," ujar Kholid Al Walid.

Menanggapi hal tersebut, Perwakilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. H. Munir, M.A., yang mewakili Rektor dan Dekan Fakultas Ushuluddin, menegaskan relevansi filsafat Islam dan akidah di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern.

Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) tidak akan membawa kebaikan tanpa ditopang oleh moralitas, etika, dan nilai spiritualitas.

Lebih lanjut, Dr. Munir juga mengingatkan para pengelola prodi untuk tidak berpuas diri hanya dengan raihan status akreditasi.

Menurutnya, tantangan terbesar pengelola prodi Aqidah dan Filsafat Islam saat ini adalah membuktikan nilai manfaat ilmu tersebut kepada masyarakat luas.

"Sekarang AFI rata-rata sudah terakreditasi Unggul. Tetapi apa setelah Unggul? Setelah unggul, apakah jumlah mahasiswa meningkat? Ini permasalahan ilmu, dan kita punya tanggung jawab besar. Kalau AFI tidak disukai orang, maka itu tanggung jawab kita untuk membalik opini tersebut, bukan tanggung jawab yang lain," ujar Dr. Munir.

Kegiatan ini dihadiri oleh 58 peserta yang mewakili 25 program studi Aqidah dan Filsafat Islam jenjang S1 maupun S2 dari berbagai daerah.

Selain simposium akademik, forum ini juga menyajikan agenda laporan pertanggungjawaban pengurus lama serta pemilihan Ketua ASAFI yang baru.

"Momentum kali ini mari kita maksimalkan, supaya punya nilai lebih untuk kita semua dan untuk prodi. Tentu kalau berkolaborasi, tantangan yang ada akan dilewati dengan sangat cepat, sedangkan tanpa kolaborasi, kita bisa pusing sendiri," kata Maman Lukmanul Hakim, selaku Ketua Panitia Pelaksana.

Melalui penyelenggaraan Simposium dan Munas 2026 ini, ASAFI berharap dapat membangun sinergi antarprodi, memperkuat posisi institusional filsafat Islam, serta merumuskan pembaharuan kurikulum nasional yang mampu merespons tantangan zaman.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Munas ASAFI 2026 Kholid Al Walid Mahasiswa Filsafat Cendekiawan Muslim

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777