https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Bumil Wajib Waspada, Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Bayi

Mutiul Alim | Senin, 05/10/2026 14:30 WIB



Fenomena gelombang panas ekstrem semakin mengancam keselamatan ibu hamil dan bayi yang baru lahir. Ilustrasi kehamilan (Foto: Earth)

New York, Jurnas.com - Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell, memperingatkan bahwa fenomena gelombang panas ekstrem semakin mengancam keselamatan ibu hamil dan bayi yang baru lahir.

Pernyataan tersebut disampaikan Stiell dalam KTT pre-COP yang berlangsung di Nadi, Fiji. Dia mengutip hasil survei terbaru yang menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga tenaga medis profesional di lima benua, menyaksikan berbagai komplikasi kehamilan yang dipicu oleh suhu panas intens selama lima tahun terakhir.

"Suhu udara yang meningkat berarti bahaya yang kian membesar dalam kehamilan," kata Stiell dikutip dari AFP pada Senin (5/10).

Baca juga :
Kelahiran Prematur, Komplikasi Umum bagi Ibu Hamil Kembar

Stiell menjelaskan bahwa gelombang panas ekstrem akibat perubahan iklim semakin erat kaitannya dengan risiko kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat badan lahir rendah, hingga komplikasi pada ibu hamil.

"Gambarannya sangat jelas dan amat mengkhawatirkan, seiring memburuknya panas ekstrem, kehamilan dan proses kelahiran kini menjadi garis patahan baru dalam krisis iklim global yang berpotensi fatal," ungkap Stiell.

Peringatan ini muncul di tengah peringatan para ilmuwan bahwa perubahan iklim memicu cuaca ekstrem yang semakin intensif. Berdasarkan analisis data dari observatorium iklim Copernicus Uni Eropa, sekitar 33 negara mulai dari Eropa Barat, wilayah Sahel, hingga Amerika Tengah mencatatkan rekor Juli terpanas sepanjang sejarah pada tahun ini.

Peringatan dari pimpinan iklim PBB ini didasarkan pada survei terhadap 1.000 bidan dan dokter di Inggris, Australia, India, Brasil, serta Zimbabwe yang diprakarsai oleh yayasan amal Wellcome.

Mantan Perdana Menteri Australia sekaligus Ketua Yayasan Wellcome, Julia Gillard, menegaskan bahwa para ibu dan bayi kian terancam akibat dampak perubahan iklim.

"Panas ekstrem adalah pembunuh tak terlihat, namun ibu hamil tidak boleh menjadi tak terlihat. Para pemimpin dunia memiliki bukti dan solusi yang mereka butuhkan, kini mereka harus bertindak," ujar Gillard.

Survei tersebut menemukan bahwa hampir seluruh bidan dan dokter yang menjadi responden pernah merawat ibu hamil atau bayi yang menderita dampak panas ekstrem. Sekitar sepertiga responden melaporkan telah menangani kasus berat badan lahir rendah atau pertumbuhan terhambat, kesulitan menyusu, hingga dehidrasi dan penyakit akibat sengatan panas.

Stiell menambahkan bahwa kehamilan seharusnya menjadi masa penuh harapan, namun bagi jutaan orang kini berubah menjadi masa penuh kecemasan akibat risiko iklim harian. Pertemuan pre-COP di Fiji dan Tuvalu ini menjadi ajang persiapan menuju KTT iklim global PBB (COP31) yang akan digelar bulan depan di Turkiye.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Panas Ekstrem Ibu Hamil Bahaya Gelombang Panas Komplikasi Kehamilan

Terpopuler

Jum'at, 02/10/2026 14:05 WIB
Olahraga

Prediksi Susunan Pemain Timnas Prancis vs Italia

Sabtu, 03/10/2026 00:16 WIB
Humanika

3 Oktober 2026, Cek Daftar Peringatan Hari Ini

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777