Potret sungai pasca banjir bandang dan longsor di sepanjang perbatasan Nepal-China (Foto: Anadolu)
New York, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mendesak negara-negara kaya bertanggung jawab atas perubahan iklim, yang justru dampaknya dirasakan oleh negara-negara miskin.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul bencana dahsyat yang melanda Nepal pada akhir Agustus lalu, ketika banjir bandang serupa tsunami yang dipicu oleh runtuhnya gunung gletser di perbatasan Nepal-China merusak kawasan pemukiman.
Bencana tersebut menewaskan lebih dari 1.400 orang, menyebabkan 6.000 jiwa masih hilang, serta menimbulkan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar.
"Isu perubahan iklim ini bukan lagi hal yang teoritis. Kejadian ini nyata, dan frekuensi bencana serupa kemungkinan akan lebih sering terjadi dalam beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya suhu dan melelehnya gletser," ujar Khanal di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, dikutip dari AFP pada Jumat (25/9).
Khanal menggarisbawahi bahwa kontribusi negaranya terhadap krisis iklim global sangat minim. Lebih dari 90 persen listrik Nepal bersumber dari pembangkit hidro, 70 persen mobil baru berdaya listrik, dan emisi gas rumah kaca Nepal hanya menyumbang 0,1 persen dari total emisi dunia.
"Lantas mengapa kami, yang tidak berkontribusi pada masalah ini, harus menanggung seluruh bebannya secara mandiri?" kata Khanal.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga mendesak negara-negara kaya tidak hanya memberikan bantuan saat bencana terjadi, tetapi juga "menyediakan pembiayaan agar kami dapat membangun komunitas yang tangguh."
Pemerintah Nepal memperkirakan estimasi awal biaya pemulihan bencana mencapai USD$5 miliar. Nepal telah mengajukan permohonan dana sebesar USD$20 juta dari Dana Kerugian dan Kerusakan PBB, jumlah maksimal yang diizinkan meski hanya mencakup sebagian kecil dari total kebutuhan.
Meski mendapat komitmen bantuan awal dari Amerika Serikat sebesar USD$31 juta serta janji dari negara-negara G7 dan Inggris, Khanal menegaskan perlunya bantuan teknis dan finansial jangka panjang.
Bantuan tersebut mencakup pengembangan sistem peringatan dini berbasis satelit guna memantau laju pencairan gletser dan mengantisipasi bencana susulan di masa depan.
Jum'at, 25/09/2026 14:31 WIB
Jum'at, 25/09/2026 08:08 WIB