PM Israel, Benjamin Netanyahu di Sidang Majelis Umum PBB (Foto: Reuters)
New York, Jurnas.com - Kunjungan singkat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat (AS) guna menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, dianggap mencerminkan merenggangnya hubungan bilateral antara Washington dan Tel Aviv.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan kunjungannya selama seminggu penuh pada tahun lalu, yang diwarnai pertemuan hangat bersama Presiden AS Donald Trump.
Dua pejabat Israel mengonfirmasi bahwa Netanyahu diperkirakan hanya berada di New York selama kurang dari delapan jam, sebelum langsung terbang kembali ke Israel.
Kantor Perdana Menteri menyatakan bahwa Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan sembilan pimpinan negara, termasuk lima di antaranya berasal dari negara-negara Amerika Latin.
Langkah ini dilakukan di tengah upaya Israel memperdalam hubungan di wilayah tersebut seiring memburuknya diplomasi dengan mitra tradisional di Eropa akibat perang di Gaza dan perluasan permukiman di Tepi Barat. Namun, jadwal resmi tersebut sama sekali tidak mencantumkan agenda pertemuan dengan pejabat tinggi Amerika Serikat.
Mantan Duta Besar Israel untuk AS, Michael Oren, menilai absennya agenda pertemuan dengan presiden AS sebagai pukulan politik bagi Netanyahu, terutama menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang.
"Saya tidak dapat mengingat kapan seorang perdana menteri Israel berkunjung ke Amerika Serikat tanpa bertemu dengan presiden. Jadi saya yakin dia merasa kecewa dengan hal tersebut," ujar Oren dikutip dari Reuters pada Kamis (24/9).
Dia menambahkan bahwa pidato Netanyahu di PBB kemungkinan besar akan berfungsi sebagai pidato kampanye politik yang ditujukan kepada pemilih di dalam negeri.
Kantor Netanyahu mengklarifikasi bahwa keterbatasan waktu serta persiapan menyambut hari raya keagamaan Sukkot menjadi alasan utama pembatasan agenda pertemuan bilateral.
Meskipun Trump dan Netanyahu sempat melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran pada Februari lalu, dinamika kedua negara merenggang, setelah Washington berupaya menarik diri dari konflik tersebut dan sempat mengupayakan kesepakatan interim dengan Teheran pada Juni.
Keretakan ini kian diperparah oleh merosotnya dukungan publik AS terhadap kebijakan militer Israel, serta pengenaan sanksi atas permukiman Tepi Barat oleh sekutu Barat seperti Inggris, Prancis, dan Kanada.
Kamis, 24/09/2026 21:05 WIB