Presiden Iran, Masoud Pezeshkian di Sidang Majelis Umum PBB (Foto: NYTimes)
New York, Jurnas.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan secara bebas memberikan izin perlintasan pelayaran di Selat Hormuz, selama sanksi ekonomi dan blokade Amerika Serikat masih berlaku.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Pezeshkian dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB di New York pada Kamis (24/9), sekaligus menggarisbawahi rumitnya pencapaian kesepakatan damai dengan Washington.
"Republik Islam tidak dapat menerima situasi di mana semua pihak mendapat manfaat dari jalur perairan tersebut, sementara penjaga historis perairan itu justru dirampas haknya akibat sanksi penindasan," ujar Pezeshkian dikutip dari Bloomberg.
Pezeshkian menyatakan bahwa Iran siap melanjutkan perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan, namun menolak bernegosiasi di bawah ancaman.
Dia menambahkan bahwa meskipun Teheran tidak berupaya membangun senjata atom, Iran tidak akan melepaskan haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir demi kepentingan ekonomi.
Pidato Pezeshkian menetapkan sejumlah syarat ketat sebelum dialog substantif dapat dimulai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa syarat Teheran mencakup pencabutan secepatnya blokade angkatan laut AS, pembekuan kembali aset-aset Iran yang disita, serta penghentian perang di seluruh front, termasuk operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Sebelumnya pada 22 September, Presiden AS Donald Trump sempat menyebutkan adanya pembicaraan sangat baik dengan utusan Iran, meski dalam pidatonya di forum PBB dia mengancam akan menghancurkan Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan bahwa hingga 23 September, militer AS telah mengalihkan rute 115 kapal komersial sebagai bagian dari penegakan blokade.
Menanggapi pidato Pezeshkian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuding Teheran merusak sistem internasional melalui penyokongan terhadap kelompok-kelompok milisi di kawasan.
Sementara itu, dampak ketegangan di Selat Hormuz yang juga memicu perdebatan terkait usulan Iran untuk mengenakan tarif lintas kapal terus menekan pasar energi global, dengan harga minyak mentah Brent melonjak mendekati level USD$103 per barel.
Kamis, 24/09/2026 21:05 WIB