Sebuah kapal tanker minyak berlayar melalui Selat Hormuz pada 17 April 2026, sesaat sebelum Iran mengumumkan bahwa selat tersebut akan ditutup kembali (Foto: Mohammed Aty/Reuters)
Singapura, Jurnas.com - Lonjakan biaya pengiriman minyak mentah akibat polemik di Timur Tengah, mendorong para pelaku usaha mulai mengoreksi ulang kesepakatan perdagangan, menyusul minimnya keuntungan bisnis yang didapat.
Kenaikan ini dipicu oleh kelangkaan parah kapal tanker minyak raksasa (Very Large Crude Carrier/VLCC), yang berisiko mengubah rute pasokan minyak global di tengah kondisi pasar bahan bakar yang mengalami kelangkaan ketat.
Berdasarkan laporan Bloomberg, biaya pengiriman minyak mentah dari Houston ke Asia naik sekitar USD$26 per barel, atau setara dengan USD$52 juta untuk satu kali pengiriman kargo. Nilai ini mencakup hampir seperempat dari total harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI).
Sebelum perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah, komponen biaya logistik hanya mencakup porsi kecil dari harga minyak. Namun, minimnya ketersediaan kapal tanker siap sewa membuat harga logistik terlalu melambung, sehingga mendorong kilang minyak beralih mencari pasokan yang berjarak lebih dekat secara geografis.
"Biaya pengangkutan minyak belum pernah setinggi ini. Peningkatan porsi biaya logistik terhadap nilai total minyak mentah menjadikan sektor logistik sebagai faktor yang kian berpengaruh di pasar," ujar Kepala Ekonom Trafigura, Saad Rahim, dikutip dari Aljazeera pada Sabtu (19/9).
Pada rute utama dari Teluk Persia menuju China, tarif harian kapal tanker VLCC berkapasitas dua juta barel melampaui rekor USD$1,2 juta per hari. Tekanan ini juga merembet ke kategori kapal lainnya. Biaya kapal tanker Suezmax berkapasitas satu juta barel melonjak hingga melebihi USD$300.000 per hari.
Kenaikan tarif kargo ini telah mendongkrak nilai pasar saham perusahaan-perusahaan kargo tanker terbesar dunia hingga mendekati rekor USD$70 miliar dalam sepekan. Sebaliknya, kondisi ini memberikan tekanan berat bagi para pedagang minyak dan kilang pengolahan karena khawatir tingginya biaya logistik menghilangkan keuntungan dari proses pemurnian minyak.
Dampak dari lonjakan tarif pengiriman ini mulai terlihat pada dinamika perdagangan. Data Vortexa mencatat adanya penurunan pengiriman minyak mentah dari AS ke Asia dalam beberapa pekan terakhir, seiring biaya kargo yang membengkak hingga tiga kali lipat.
Sementara itu, kilang minyak di Jepang dilaporkan membeli kargo minyak dari Alaska, meski ini merupakan jenis minyak yang biasanya tidak digunakan secara masif oleh kilang Jepang, demi memanfaatkan jarak tempuh pelayaran yang lebih pendek.
Di Eropa, berkurangnya pengiriman minyak dari Arab Saudi juga memaksa kilang Eropa memburu kargo terdekat. Hal ini mendorong harga fisik Dent Brent melampaui USD$131 per barel, sementara harga kontrak berjangka Brent berada di kisaran USD$110 per barel.
Kelangkaan kapal tanker besar yang tersedia untuk disewa memaksa kilang-kilang di Asia melakukan penyesuaian armada, seperti menggunakan kapal Aframax berkapasitas 700.000 barel untuk mengangkut sebagian kargo dari AS.
Selain itu, kargo dari pelabuhan Atlantik dan Brasil dialihkan menggunakan dua kapal Suezmax berkapasitas satu juta barel sebagai pengganti satu kapal VLCC.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Biaya Kargo Minyak Kapal Tanker VLCC Krisis Migas Perang AS vs Iran
























