Sabtu, 19/09/2026 07:29 WIB

Insiden Hotel Yamato 19 September 1945: Ini Sejarah dan Latar Belakangnya





Setiap tanggal 19 September, bangsa Indonesia mengenang salah satu aksi perlawanan paling heroic dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan.

Ilustrasi - kolase peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Majapahit saat teatrikal peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/9/2018). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia pada 19 September 1945 (Foto: Ant/ZABUR KARURU)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 19 September, bangsa Indonesia mengenang salah satu aksi perlawanan paling heroic dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan, yaitu Insiden Hotel Yamato, atau yang kerap dikenal sebagai Peristiwa Tunjungan.

Dikutip dari berbagai sumber, insiden yang terjadi di Jalan Tunjungan, Surabaya pada 1945 ini menjadi pemantik utama gejolak perlawanan rakyat Jawa Timur sebelum akhirnya memuncak pada pertempuran 10 November.

Peristiwa ini bermula ketika sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di tiang tingkat teratas Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) tanpa izin dari Pemerintah RI Daerah Surabaya.

Pengibaran ini dilakukan pada malam hari tanggal 18 September 1945 untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Keesokan harinya, 19 September 1945, pemuda Surabaya dan para pejuang yang melintas di Jalan Tunjungan melihat bendera tersebut berkibar.

Pengibaran bendera asing itu dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap kedaulatan Indonesia yang baru saja diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Residen Soedirman bersama pejuang muda seperti Sidik dan Hario Kecik mendatangi lokasi untuk menemui Ploegman.

Soedirman meminta agar bendera Belanda segera diturunkan untuk menjaga keamanan kota. Namun, Ploegman menolak keras dan justru mengancam dengan menodongkan pistol.

Perkelahian tak terhindarkan di dalam ruang negosiasi. Ploegman tewas di tempat setelah dicekik oleh Sidik, sementara Sidik sendiri gugur setelah ditembak oleh tentara Belanda yang menjaga area tersebut.

18 September 1945 (Malam)

Sekelompok warga Belanda di bawah pimpinan W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Merah-Putih-Biru di atap Hotel Yamato.

19 September 1945 (06.00 - 09.00 WIB)

Residen Soedirman menemui Ploegman. Negosiasi gagal, memicu perkelahian yang menewaskan Ploegman dan pejuang muda bernama Sidik.

19 September 1945 (10.00 WIB)

Pemuda Surabaya memanjat menara hotel, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna biru, lalu mengibarkan kembali warna Merah Putih.

Mendengar kericuhan di dalam hotel, massa pemuda yang berkumpul di Jalan Tunjungan mulai mendobrak masuk. Beberapa pemuda, di antaranya Kusno Wibowo dan Haryono, memanjat dinding luar hotel menuju tiang bendera di puncak gedung.

Di tengah rentetan tembakan, pejuang berhasil menurunkan bendera Belanda. Tanpa ragu, mereka merobek kain warna biru di bagian bawah bendera tersebut dan mengikatkan kembali sisa kain berwarna Merah dan Putih ke tiang.

Sorak-sorai "Merdeka!" bergema di sepanjang Jalan Tunjungan saat bendera Merah Putih kembali berkibar gagah di langit Surabaya.

Hingga saat ini, Pemerintah Kota Surabaya rutin menggelar teaterikal drama kolosal di depan Hotel Majapahit setiap tanggal 19 September.

Peringatan ini tidak hanya bertujuan mengenang keberanian para veteran, tetapi juga menanamkan jiwa patriotisme dan keteguhan mempertahankan kedaulatan negara kepada generasi muda.

KEYWORD :

Insiden Hotel Yamato Kota Surabaya Sejarah Indonesia 19 September




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :