Ilustrasi rokok elektrik vape/pod (Foto: Katakini.com)
Vienna, Jurnas.com - Tren penurunan penggunaan rokok konvensional dalam satu dekade terakhir dilaporkan tidak lantas membebaskan generasi muda dari jerat kecanduan nikotin.
Riset terbaru menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi di mana remaja kini beralih ke rokok elektrik (vape) serta produk nikotin non-tembakau lainnya dengan usia pemula yang jauh lebih muda.
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Ludwig Boltzmann Institute for Lung Health di Wina menganalisis jawaban survei dari 15.056 responden di Austria sejak 2012 hingga 2024.
Hasil data mengungkapkan bahwa angka perokok konvensional berhasil merosot dari 24,2 persen menjadi 16,3 persen, namun penggunaan vape dan produk alternatif justru melonjak drastis dari nol hingga menyentuh angka 17,2 persen.
"Pesan paling penting yang ingin kami sampaikan adalah bahwa epidemi nikotin tidak menghilang, melainkan berganti bentuk," ujar peneliti utama dari Ludwig Boltzmann Institute, Charmaine Helk-Lim, sebagaimana dikutip dari Earth.
Riset ini turut menyoroti fakta mengkhawatirkan terkait penurunan usia pertama kali mengenal nikotin. Perokok yang lahir pada dekade 2000-an dilaporkan mulai mengonsumsi nikotin pada kisaran usia 15 tahun, atau lima tahun lebih awal dibandingkan generasi kelahiran 100 tahun lalu yang rata-rata memulainya di usia 20 tahun.
Hasil penelitian serupa dari TobaccoFree Research Institute Ireland menegaskan perubahan alur konsumsi nikotin pada kalangan remaja. Pada 2015, setengah dari pengguna vape usia 15 dan 16 tahun tercatat pernah merokok konvensional terlebih dahulu, namun pada 2024 melonjak hingga 76 persen remaja langsung mengonsumsi vape tanpa pernah menyentuh rokok biasa.
Helk-Lim mengingatkan bahwa paparan nikotin pada usia yang kian dini meningkatkan risiko kecanduan jangka panjang serta menyulitkan proses penghentian di kemudian hari. Penggunaan ganda yaitu mengonsumsi rokok konvensional sekaligus vape juga mencatatkan kenaikan tiga kali lipat.
"Terlepas dari apa yang diiklankan oleh industri komersial, tidak ada cara yang aman untuk mengonsumsi nikotin," kata Helk-Lim.
Para peneliti mengimbau orang tua dan pembuat kebijakan untuk segera memperluas jangkauan edukasi pencegahan. Langkah penanganan kini tidak boleh hanya berfokus pada rokok batang, melainkan harus mencakup produk vape, rokok shisha, hingga kantong nikotin (nicotine pouches) sebelum anak-anak terjerat ketergantungan.
Temuan ilmiah ini disampaikan secara resmi dalam Kongres European Respiratory Society (ERS) 2026 di Barcelona.
Kamis, 10/09/2026 17:56 WIB
Kamis, 10/09/2026 16:58 WIB
Kamis, 10/09/2026 16:47 WIB