Ilustrasi pemanis buatan rendah kalori (Foto: Earth)
Ljubljana, Jurnas.com - Penggunaan pemanis buatan berkalori rendah dilaporkan tidak memicu keinginan makan makanan manis (sweet tooth), maupun meningkatkan nafsu makan berlebih. Temuan ini diperoleh dari hasil analisis terhadap tiga program uji klinis berskala besar yang meneliti dampak penggunaan pemanis sintetis pada tubuh manusia.
Tiga studi independen bernama SWEET, SWITCH, dan Sweet Tooth tersebut melacak ratusan partisipan dewasa selama hingga satu tahun. Hasil ulasan ilmiah ini menjawab kekhawatiran publik serta panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terdahulu yang sempat mengimbau pembatasan pemanis buatan dalam strategi penurunan berat badan.
"Kekhawatiran umum yang kerap muncul adalah bahwa mengganti gula dengan pemanis non-nutritif dapat memicu preferensi yang lebih kuat terhadap makanan manis berkalori tinggi atau merangsang nafsu makan," ujar psikolog dari Universitas Leeds sekaligus salah satu penulis ulasan ilmiah, Graham Finlayson, sebagaimana dikutip dari Earth.
"Melalui studi terontrol ini, dugaan tersebut tidak terbukti," dia menambahkan.
Peneliti utama dari Universitas Ljubljana, Eva Marija Cad, mengumpulkan data riset yang menunjukkan bahwa partisipan yang rutin mengonsumsi pemanis buatan justru memiliki tingkat keinginan terhadap makanan manis yang lebih rendah, dibandingkan kelompok yang menghindari pemanis sama sekali.
Dalam riset SWEET yang melibatkan 341 orang dewasa selama satu tahun, kelompok yang menggunakan pemanis buatan berhasil mempertahankan penurunan berat badan hingga 1,6 kilogram lebih banyak.
Sementara itu, riset Sweet Tooth membuktikan bahwa tingkat kemanisan makanan yang dikonsumsi tidak mengubah berat badan maupun preferensi rasa pada lidah partisipan secara signifikan.
Pengujian laboratorium terhadap kadar gula darah puasa, insulin, serta HbA1c pada para partisipan juga tidak menunjukkan perbedaan berisiko antara kelompok pengonsumsi pemanis buatan dan kelompok kontrol.
Meski demikian, para peneliti menyatukan catatan bahwa mayoritas subjek riset merupakan orang dewasa di Eropa yang sedang menjalani program pengelolaan berat badan terencana.
Penelitian lanjutan masih sangat diperlukan untuk menguji dampak penggunaan pemanis buatan jangka panjang pada kelompok anak-anak dan remaja. Hasil ulasan medis ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah Nutrients.
Kamis, 10/09/2026 17:56 WIB
Kamis, 10/09/2026 16:58 WIB