https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Hotspot Karhutla Turun, Tapi Kalbar dan Kalteng Masih Jadi Perhatian

Agus Mughni | Selasa, 01/09/2026 08:41 WIB



penanganan karhutla masih terus diperkuat karena konsentrasi hotspot dan kejadian kebakaran masih tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Kalbar dan Kalteng Pemadaman karhutla di Kalimantan (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia menurun pada 30 Agustus 2026.

Namun, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus diperkuat karena konsentrasi hotspot dan kejadian kebakaran masih tinggi di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 21.02 WIB tercatat 946 hotspot high confidence secara nasional. Angka tersebut turun 629 titik dibandingkan sehari sebelumnya.

Baca juga :
Kemenhut Tutup Sementara Sejumlah Jalur Pendakian Gunung Mulai 1 September

Sebarannya sebagai berikut Kalimantan Barat: 455 titik; Kalimantan Tengah: 308 titik; Sumatera Selatan: 36 titik; Kalimantan Selatan: 18 titik; Jambi: 1 titik; dan Riau: 0 titik.

"Data tersebut menunjukkan penurunan hotspot secara nasional, namun konsentrasi titik panas masih cukup tinggi terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi dalam keterangan tertulis, Senin (31/8).

Baca juga :
Hotspot Karhutla Naik Jadi 20.378, Kalteng dan Kalbar Jadi Perhatian

Kemenhut mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi titik panas berdasarkan penginderaan satelit dan tidak selalu berarti kejadian kebakaran.

"Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga seluruh indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan," ujar Ristianto.

Baca juga :
SE Mendikdasmen Lengkap tentang Pembelajaran selama Karhutla

Berdasarkan Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 93 laporan kejadian karhutla di 12 provinsi, dengan 33 lokasi dilaporkan telah padam dan 60 lokasi masih dalam proses pemadaman.

Pada skala provinsi, penanganan terbanyak dilakukan di Kalimantan Tengah sebanyak 21 lokasi, disusul Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.

Penanganan juga dilakukan di Sulawesi Tenggara sebanyak 3 lokasi, Sulawesi Selatan 2 lokasi, serta masing-masing satu lokasi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah. Secara kumulatif sepanjang 2026, tercatat 4.801 kali operasi penanganan karhutla dengan luas areal yang ditangani sebesar 38.829,46 hektare.

Tim gabungan terus melakukan penanganan melalui pemadaman darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta kegiatan pencegahan dan pengendalian di wilayah prioritas. Operasi melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan para pihak lainnya.

Dukungan operasi udara diperkuat dengan 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera untuk mendukung water bombing dan patroli udara. Selain operasi pemadaman, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk mendukung penanganan karhutla.

Kondisi udara di sejumlah wilayah terdampak juga masih menjadi perhatian. Laporan operasi menunjukkan kualitas udara pada sejumlah titik pemantauan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada dalam kondisi bervariasi dari Sedang hingga Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, bahkan Berbahaya.

Dampak asap juga terlihat pada jarak pandang di beberapa bandara. Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, Bandara Supadio, Pontianak, tercatat dalam kondisi berasap dengan jarak pandang 1,3 kilometer pada pukul 08.00 WIB. Di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, kondisi berasap tercatat dengan jarak pandang 1,5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Di Sumatera, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, tercatat berasap dengan jarak pandang 4 kilometer pada pukul 07.30 WIB, sedangkan Bandara Sultan Thaha, Jambi, mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang 5 kilometer pada pukul 08.00 WIB. Sementara di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, BMKG mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang 3 kilometer pada pukul 09.00 WITA.

Kemenhut menegaskan bahwa penurunan jumlah hotspot belum berarti risiko karhutla telah berakhir. Pemantauan dan operasi lapangan tetap diperkuat, terutama di wilayah dengan kejadian kebakaran yang masih aktif serta wilayah yang mulai mengalami gangguan asap dan penurunan jarak pandang.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG, menjaga kesehatan, serta mengurangi aktivitas di luar ruang apabila kondisi udara memburuk.

Kemenhut juga mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap atau indikasi kebakaran, masyarakat dapat segera melaporkannya kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Hotspot Karhutla Kementerian Kehutanan Titik Panas Kebakaran Hutan dan Lahan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777