Bulan purnama akan memasuki bayangan Bumi pada 27–28 Agustus 2026, memunculkan salah satu gerhana Bulan sebagian paling dalam dalam beberapa tahun terakhir (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan purnama akan memasuki bayangan Bumi pada 27–28 Agustus 2026, memunculkan salah satu gerhana Bulan sebagian paling dalam dalam beberapa tahun terakhir. Saat puncak fenomena, sekitar 96 persen permukaan Bulan akan berada dalam bayangan Bumi dan dapat tampak berwarna merah tembaga.
Fenomena ini menjadi perhatian karena diperkirakan sebagai gerhana Bulan terdalam yang terjadi di dunia hingga 31 Desember 2028, ketika gerhana Bulan total berikutnya diperkirakan berlangsung.
Dikutip dari Live Science, gerhana Bulan sebagian terjadi ketika Bulan bergerak memasuki bayangan Bumi. Tidak seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti sehingga fenomena tersebut tidak dikategorikan sebagai gerhana Bulan total.
Meski begitu, sebagian besar permukaan Bulan akan tampak mengalami perubahan warna ketika berada di dalam bayangan Bumi.
Mengapa Bulan berubah merah? Warna merah pada Bulan saat gerhana bukan berasal dari Bulan itu sendiri. Fenomena tersebut terjadi karena atmosfer Bumi membelokkan sebagian cahaya Matahari menuju permukaan Bulan.
Cahaya Matahari terdiri atas berbagai warna. Ketika melewati atmosfer Bumi, sebagian cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek lebih banyak tersebar, sementara cahaya merah dapat melewati atmosfer dan dibiaskan menuju Bulan.
Cahaya merah inilah yang membuat Bulan di dalam bayangan Bumi terlihat merah tembaga hingga kemerahan gelap.
Tampilan Bulan tidak selalu memiliki warna yang sama pada setiap gerhana. Kondisi atmosfer Bumi ikut menentukan seberapa terang atau gelap warna merah yang terlihat. Debu gurun dan abu vulkanik, misalnya, dapat membuat Bulan selama gerhana tampak lebih gelap.
Di Amerika Utara dan Amerika Selatan, seluruh tahapan gerhana dapat diamati pada malam hari.
Fase gerhana dimulai sekitar pukul 21.23 EDT pada Kamis, 27 Agustus, kemudian berakhir sekitar pukul 03.00 EDT pada Jumat, 28 Agustus. Puncaknya terjadi sesaat setelah tengah malam waktu setempat.
Sementara itu, di sejumlah wilayah Eropa, gerhana terjadi menjelang fajar ketika Bulan semakin rendah menuju horizon.
Perbedaan waktu dan posisi Bulan terhadap horizon membuat waktu pengamatan berbeda di setiap wilayah.
Perlu kacamata gerhana? Gerhana Bulan berbeda dengan gerhana Matahari. Mengamati Bulan saat gerhana tidak memerlukan kacamata gerhana khusus. Fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang selama Bulan berada di atas horizon dan kondisi langit mendukung.
Untuk mendapatkan tampilan yang lebih jelas, pengamat dapat menggunakan teropong atau teleskop. Peralatan tersebut akan membantu melihat batas bayangan Bumi yang bergerak melintasi permukaan Bulan sekaligus perubahan warna yang terjadi.
Bagi penggemar fotografi astronomi, gerhana ini juga menjadi kesempatan untuk mengabadikan Bulan dengan kamera yang sesuai untuk pemotretan langit malam.
Mengapa gerhana ini istimewa? Keistimewaan gerhana 27–28 Agustus terletak pada kedalaman gerhananya. Sekitar 96 persen permukaan Bulan akan masuk ke dalam bayangan Bumi, sehingga hanya sebagian kecil permukaan Bulan yang tetap berada di luar bayangan inti.
Karena tidak seluruh Bulan masuk ke dalam umbra, fenomena ini bukan gerhana Bulan total. Istilah blood moon juga secara teknis tidak tepat untuk menyebutnya sebagai gerhana Bulan total, meskipun bagian Bulan yang masuk bayangan dapat terlihat merah tembaga.
Dengan kedalaman tersebut, gerhana Bulan sebagian ini disebut sebagai gerhana Bulan terdalam di dunia hingga gerhana Bulan total pada 31 Desember 2028.
Catatan: waktu 21.23 EDT dalam data tersebut merupakan waktu Amerika Serikat. Waktu dan apakah seluruh fase gerhana dapat terlihat harus disesuaikan dengan lokasi pengamat. (*)
SUmber: Live Sceince