Ilustrasi lahan pertanian (FOTO: GAMBINO GROUP)
Jakarta, Jurnas.com - Upaya mencapai target iklim melalui penanaman hutan dan penghilangan karbon berbasis lahan berpotensi menekan produksi pangan dunia. Studi terbaru memperkirakan luas lahan pertanian global dapat menyusut hampir 13 persen pada 2100 jika strategi tersebut diterapkan secara luas.
Penelitian yang dipimpin Shaokun Li dari Beijing Normal University bersama peneliti dari sejumlah institusi di China dan University of Reading itu menyoroti persoalan perebutan lahan antara kebutuhan mengurangi emisi dan produksi pangan.
Dikutip dari Earth, strategi penghilangan karbon berbasis lahan, terutama penghijauan atau afforestation, mengandalkan kemampuan pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Namun, lahan yang digunakan untuk hutan baru pada saat yang sama tidak lagi tersedia untuk menanam pangan.
Dampaknya tidak akan merata. Brasil diproyeksikan mengalami penurunan lahan pertanian terbesar, mencapai 25 persen.
Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan potensi penurunan 9,6 persen, sedangkan Argentina diperkirakan mengalami penurunan 3,7 persen.
Penurunan produksi di negara-negara tersebut berpotensi memengaruhi pasar pangan global karena ketiganya merupakan negara penting dalam produksi dan perdagangan komoditas pertanian.
Negara yang bergantung pada impor pangan dapat menghadapi tekanan tambahan. Pasokan dari negara pemasok berkurang ketika kebutuhan impor di negara lain tetap tinggi.
Peneliti mencontohkan Vietnam dan Korea Selatan. Kapasitas impor keduanya diproyeksikan turun masing-masing 14,1 persen dan 14,4 persen dalam skenario yang dianalisis.
Penelitian tersebut juga menemukan perbedaan dalam proyeksi kehilangan lahan pertanian.
Model yang banyak digunakan untuk analisis kebijakan iklim, seperti GCAM, memperkirakan penurunan lahan pertanian sekitar 10 persen. Setelah memperhitungkan kepadatan dan fragmentasi lahan pertanian, estimasinya meningkat menjadi 12,8 persen.
Menurut penelitian tersebut, faktor kepadatan dan fragmentasi penting karena lahan pertanian yang tersisa tidak selalu dapat menggantikan fungsi lahan yang dialihkan untuk penghijauan.
Karena itu, kebijakan iklim dinilai perlu memperhitungkan kebutuhan produksi pangan secara bersamaan, bukan hanya menghitung jumlah karbon yang dapat diserap dari suatu kawasan.
Peneliti merekomendasikan agar perlindungan lahan pertanian dan restorasi ekosistem dipertimbangkan dalam kebijakan iklim secara bersamaan.
Produktivitas pertanian juga perlu ditingkatkan tanpa mengabaikan petani kecil. Langkah lain yang disarankan mencakup pengurangan hambatan perdagangan, penguatan cadangan pangan darurat, serta mekanisme stabilisasi harga untuk menghadapi gangguan pasokan.
Model yang digunakan untuk menentukan kebijakan juga dinilai perlu diperbarui dengan memasukkan perubahan pola makan, kebijakan nasional, kondisi cuaca ekstrem, serta perbedaan kondisi sosial dan ekonomi setiap wilayah.
Peneliti juga menilai pengurangan emisi dari sektor energi perlu dipercepat agar pencapaian target iklim tidak terlalu bergantung pada penghilangan karbon berbasis lahan.
Dengan pendekatan tersebut, hutan dan lahan pertanian tidak harus terus bersaing untuk mendapatkan ruang yang sama ketika kebutuhan pangan dunia terus meningkat.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Environmental and Biogeochemical Processes.
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB