https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Ilmuwan Peringatkan Kerusakan Great Barrier Reef Terancam Meluas

Mutiul Alim | Selasa, 21/07/2026 17:01 WIB



Keberadaan terumbu karang Great Barrier Reef di Australia dalam risiko yang sangat tinggi untuk mengalami pemutihan ekstrem dan meluas Terumbu karang Great Barrier Rief di Australia (Foto: AFP)

Auckland, Jurnas.com - Keberadaan terumbu karang Great Barrier Reef di Australia dalam risiko yang sangat tinggi untuk mengalami pemutihan ekstrem dan meluas, serta keruntuhan ekosistem yang terkait dengan fenomena cuaca El Nino pada 2026.

Sering dijuluki sebagai struktur hidup terbesar di dunia, terumbu karang ini membentang sejauh 2.300 km di sepanjang pantai negara bagian Queensland dan merupakan daya tarik pariwisata utama bagi Australia.

Pada Juli ini, kawasan tersebut terhindar dari daftar status terancam punah, meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan keprihatinan mendalam mengenai pemutihan karang massal dan dampak perubahan iklim.

Baca juga :
Perubahan Iklim Bikin Penyakit Air Berubah, Risiko Kolera-Salmonel Naik

Morgan Pratchett, ahli ekologi konservasi laut di James Cook University di Queensland, mengatakan pada Simposium Terumbu Karang Internasional (International Coral Reef Symposium) di Auckland, Selandia Baru, bahwa El Nino ekstrem menimbulkan kekhawatiran yang signifikan.

"Bukan hal yang mustahil bahwa gangguan besar berikutnya akan menyebabkan kepunahan spesies secara lokal,. dan keruntuhan ekosistem yang meluas," kata Pratchett dikutip dari AFP pada Selasa (20/7).

Baca juga :
Kenaikan Suhu Panas Global Diprediksi Picu Lonjakan Bunuh Diri pada 2050

El Nino pada 2026 diperkirakan akan memecahkan rekor karena fenomena ini menghangatkan suhu permukaan di ekuator tengah dan timur Samudra Pasifik, yang membawa perubahan pada pola angin, tekanan, dan curah hujan di seluruh dunia.

"Sangat besar kemungkinannya kita akan melihat tingkat keparahan yang sangat tinggi dan pemutihan massal berskala besar di Great Barrier Reef," ungkap Pratchett.

Baca juga :
Juni 2026 Jadi Bulan Terpanas di Eropa Barat

UNESCO telah memantau terumbu karang tersebut setiap tahun sejak 2021, ketika mereka memperingatkan bahwa kawasan ini berisiko dimasukkan ke dalam daftar Warisan Dunia dalam bahaya.

Tutupan karang keras di seluruh Great Barrier Reef menurun secara substansial pada 2024-2025, di mana suhu air di atas rata-rata menyebabkan peristiwa pemutihan karang massal keenam sejak 2016.

Cuaca ekstrem, limpasan air dari darat, pembangunan wilayah pesisir, dan pemangsaan oleh bintang laut Mahkota Duri (Crown of Thorns) juga menempatkan terumbu karang tersebut di bawah tekanan besar.

Profesor studi kelautan Ove Hoegh-Guldberg dari University of Queensland mengatakan bahwa kurangnya tindakan pemerintah telah mengancam masa depan terumbu karang di seluruh dunia secara global.

"Ini bisa menjadi awal dari kepunahan umat manusia. Jika Anda berada di kapal besar, seperti Titanic, dan seseorang mendatangi Anda serta memberi tahu bahwa kapal itu akan tenggelam, Anda tentu akan segera naik ke sekoci penyelamat dan mulai bertindak serta melakukan sesuatu," ujar Ove.

"Kita tidak melakukan hal itu. Kapal ini mulai tenggelam dengan sangat masif, dan kita tidak melihatnya sebagaimana mestinya. Ini sangat serius," dia menambahkan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Great Barrier Reef Pemutihan Terumbu Karang Perubahan Iklim Karang Australia

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777