Ilustrasi - Hari Lompat Sedunia setiap 20 Juli, ini sejarah hingga maknanya (Foto: National Today)
Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 20 Juli kerap kali diidentikkan dengan catatan sejarah besar umat manusia, mulai dari momen legendaris pendaratan Apollo 11 di Bulan pada tahun 1969, hingga perayaan Hari Catur Internasional yang diakui resmi oleh PBB.
Namun, di samping peringatan formal tersebut, ada satu perayaan global bernada santai, unik, sekaligus memicu diskusi yang diperingati setiap tanggal 20 Juli: Hari Lompat Sedunia (World Jump Day).
Meski terdengar seperti lelucon, hari ini memiliki latar belakang sejarah yang menarik dan membawa pesan lingkungan yang dikemas secara kreatif.
Hari Lompat Sedunia pertama kali dicetuskan dan dirayakan pada 20 Juli 2006. Sosok di balik ide nyeleneh ini adalah Torsten Lauschmann, seorang seniman asal Jerman yang menetap di Inggris.
Lauschmann membuat sebuah situs web khusus yang mengajak masyarakat dari berbagai belahan dunia, terutama di belahan bumi bagian barat untuk melakukan lompatan secara bersamaan tepat pada pukul 11:39:13 GMT (Greenwich Mean Time).
Kampanye digital ini ternyata viral di masanya. Tercatat ada lebih dari 600 juta orang (tepatnya sekitar 600.256.820 partisipan) yang mendaftarkan diri di situs tersebut untuk ikut melompat bersama.
Gagasan awal dari aksi melompat massal ini sebenarnya didasarkan pada sebuah klaim teoritis yang provokatif, jika ada ratusan juta manusia melompat secara serentak di waktu yang sama, energi dari pendaratan mereka diklaim mampu mengubah atau menggeser orbit Bumi.
Bergesernya orbit Bumi ini diharapkan bisa menjauhkan planet kita sedikit saja dari Matahari, sehingga bisa menghentikan atau meminimalisir efek pemanasan global (global warming).
Tentu saja, klaim bahwa lompatan manusia bisa menggeser orbit Bumi langsung memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Namun, secara astronomi dan fisika modern, teori tersebut telah dipatahkan dan dinyatakan tidak terbukti.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa gabungan berat seluruh manusia di Bumi ini masih terhitung sangat kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan total massa planet Bumi itu sendiri.
Secara hukum fisika (hukum kekekalan momentum), ketika manusia melompat dan kembali turun ke tanah, gaya yang dihasilkan akan saling membatalkan, sehingga tidak akan memberikan efek apa pun pada lintasan orbit Bumi.
Oleh karena itu, hari ini dipastikan bukan sebuah agenda ilmiah yang serius, melainkan sebuah bentuk satire dan proyek seni konseptual yang cerdas.
Senin, 20/07/2026 21:01 WIB