https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Tak Bisa Miskin

Agus Mughni | Senin, 06/07/2026 17:05 WIB



Prinsip inilah yang membuat bisnisnya terus berkembang hingga ia menjadi salah satu saudagar terbesar di Jazirah Arab Ilustrasi - Kisah Abdurrahman bin Auf (Foto: Zakat Sukses)

Jakarta, Jurnas.com - Banyak orang khawatir hartanya akan berkurang jika terlalu sering dibagikan. Namun, kisah Abdurrahman bin Auf RA justru menunjukkan hal yang berbeda.

Sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai salah satu saudagar terkaya dalam sejarah Islam itu berkali-kali membagikan kekayaannya kepada sesama dalam jumlah sangat besar, tetapi hartanya tetap melimpah hingga akhir hayat.

Bahkan, sejarah mencatat Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan puluhan ribu dinar, ratusan ekor kuda dan unta, memerdekakan sekitar 30.000 budak, hingga memberikan bantuan kepada para veteran Perang Badar. Meski demikian, kekayaannya tidak pernah benar-benar habis.

Baca juga :
Apakah Sholat Safar Harus di Masjid?

Lantas, apa rahasia di balik kisah tersebut? Dikutip dari berbagai sumber, sebelum menjadi saudagar sukses, Abdurrahman bin Auf pernah mengalami masa yang sangat sulit.

Ketika hijrah dari Makkah ke Madinah bersama Rasulullah SAW pada 622 M, ia meninggalkan hampir seluruh hartanya. Di Madinah, Rasulullah kemudian mempersaudarakannya dengan Sa`ad bin Rabi`, seorang sahabat Anshar yang terkenal kaya raya.

Baca juga :
Lima Doa Setelah Melaksanakan Sholat Safar

Melihat kondisi Abdurrahman, Sa`ad menawarkan separuh hartanya. Bahkan ia rela menceraikan salah satu istrinya agar dapat dinikahi Abdurrahman setelah selesai masa iddah.

Namun, Abdurrahman menolak tawaran tersebut dengan jawaban yang kemudian menjadi salah satu kalimat paling terkenal dalam sejarah Islam. "Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar berada."

Baca juga :
Mahar-mahar yang Dilarang dalam Islam, Catat Ya

Kalimat sederhana itu mencerminkan prinsip hidupnya: membangun kehidupan melalui kerja keras, bukan bergantung kepada orang lain. Sejak memasuki pasar Madinah, Abdurrahman memulai usaha dagangnya dari bawah.

Dengan kejujuran, kecerdasan berdagang, serta komitmen menjaga kehalalan setiap transaksi, usahanya berkembang sangat pesat. Berbagai riwayat juga menyebutkan bahwa ia selalu berusaha menjauhi harta haram maupun perkara syubhat atau sesuatu yang belum jelas status halal dan haramnya.

Prinsip inilah yang membuat bisnisnya terus berkembang hingga ia menjadi salah satu saudagar terbesar di Jazirah Arab.

Meski hartanya terus bertambah, Abdurrahman bin Auf tidak pernah merasa bangga berlebihan. Sebaliknya, ia justru khawatir kekayaan itu menjadi sebab yang memberatkannya di akhirat.

Dalam sebuah riwayat, ia berkata, "Aku adalah orang terkaya di Makkah. Tapi semua ini justru membuatku takut. Jangan-jangan hartaku sendiri yang akan menjerumuskanku."

Rasa takut itulah yang membuatnya semakin banyak berbagi kepada sesama. Perubahan terbesar dalam hidup Abdurrahman terjadi setelah mendengar nasihat Rasulullah SAW.

Nabi bersabda, "Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang kaya dan engkau akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu berilah pinjaman kepada Allah, niscaya Dia akan melepaskan kedua kakimu."

Nasihat tersebut begitu membekas. Sejak saat itu, Abdurrahman semakin gemar menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Berbagai riwayat menyebutkan, Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan separuh hartanya sekaligus. Ia juga pernah menginfakkan 40.000 dinar, menyumbangkan 500 ekor kuda dan 500 kendaraan untuk perjuangan umat Islam, serta memerdekakan sekitar 30.000 budak.

Tidak hanya itu, ia memberikan 400 dinar kepada setiap veteran Perang Badar yang masih hidup dan menjelang wafatnya masih berwasiat agar para istri Rasulullah SAW memperoleh bantuan dari hartanya.

Kedermawanannya membuat Sayyidah Aisyah RA mendoakannya dengan doa yang sangat mulia. "Semoga Allah menyiraminya dengan minuman dari mata air surga."

Besarnya kekayaan Abdurrahman bin Auf juga tercatat dalam berbagai kitab sejarah Islam. Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa ketika beliau wafat, masing-masing dari empat istrinya menerima warisan sebesar 100.000 dinar. Berdasarkan perhitungan faraidh, total harta yang ditinggalkannya diperkirakan mencapai sekitar 3,2 juta dinar, yang jika dikonversikan ke nilai saat ini diperkirakan setara lebih dari Rp6 triliun.

Riwayat lain yang dikutip Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ia juga meninggalkan sekitar 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, dan 3.000 ekor kambing, selain berbagai aset perdagangan lainnya.

Namun, yang membuat nama Abdurrahman bin Auf dikenang hingga kini bukanlah besarnya kekayaan tersebut.

Warisan terbesarnya adalah teladan bahwa harta yang diperoleh secara halal, dikelola dengan amanah, dan dibelanjakan di jalan Allah tidak hanya menjadi sumber keberkahan bagi pemiliknya, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi banyak orang.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa kekayaan dalam Islam bukan diukur dari banyaknya harta yang disimpan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama. (*)

Wallahu`alam

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Info Keislaman Kisah Inspiratif Abdurrahman bin Auf Sahabat Nabi Dermawan

Terpopuler

Minggu, 05/07/2026 20:30 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Portugal vs Spanyol

Jum'at, 03/07/2026 03:03 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Australia vs Mesir

Sabtu, 04/07/2026 06:06 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Belgia vs Amerika Serikat

Humanika

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777