Kawasan Pasar Tanah Abang di Jakarta (Foto: Jakarta Smart City)
Jakarta, Jurnas.com - Tanah Abang selama ini dikenal sebagai pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara dan salah satu kawasan perdagangan tersibuk di Indonesia. Namun, mungkin tak banyak yang mengetahui bahwa nama "Tanah Abang" ternyata menyimpan sejarah panjang yang membentang sejak abad ke-17, melibatkan pasukan Mataram, konglomerat Tionghoa, hingga pemerintahan kolonial Belanda.
Kawasan yang kini menjadi jantung perdagangan Jakarta itu ternyata memiliki sejumlah versi mengenai asal-usul namanya. Meski belum ada kesepakatan tunggal di kalangan sejarawan, berbagai sumber menunjukkan bahwa nama Tanah Abang lahir dari perpaduan sejarah, budaya, dan dinamika perdagangan di Batavia tempo dulu.
Dikutip dari berbagai sumber, versi yang paling banyak dipercaya menyebut nama Tanah Abang berasal dari warna tanah di kawasan tersebut yang kemerahan.
Sejarah ini dikaitkan dengan kedatangan pasukan Kesultanan Mataram saat menyerbu Batavia pada 1628. Saat bermarkas di wilayah tersebut, pasukan Mataram disebut melihat warna tanah yang merah mencolok.
Dalam bahasa Jawa, kata "abang" berarti merah. Karena itulah kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Tanah Abang atau tanah yang berwarna merah.
Sejumlah sejarawan menilai versi ini cukup kuat karena nama Tanah Abang diduga sudah dikenal jauh sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi pusat perdagangan.
Versi lain mengaitkan nama Tanah Abang dengan seorang saudagar sekaligus konglomerat keturunan Tionghoa bernama Phoa Beng Gan atau dikenal pula sebagai Phoa Bing Am.
Pada pertengahan abad ke-17, Phoa Beng Gan memperoleh izin dari pemerintah VOC untuk mengelola kawasan hutan di daerah tersebut. Ia diberikan hak membuka lahan, membangun kanal, serta membuat jalur transportasi air guna mendukung aktivitas ekonomi.
Dalam proses pembangunan itu, banyak pekerja asal Banten yang terlibat. Menurut sejumlah catatan, para pekerja inilah yang mulai menyebut kawasan tersebut sebagai Tanah Abang.
Meski demikian, sejumlah sumber menyebut nama Tanah Abang kemungkinan sudah lebih dahulu digunakan sebelum Phoa Beng Gan membuka lahan di kawasan tersebut.
Ada pula versi lain yang menyebut nama Tanah Abang berasal dari banyaknya pohon nabang yang dahulu tumbuh di kawasan berbukit tersebut.
Pada masa kolonial Belanda, kawasan ini disebut "De Nabang". Dalam perkembangannya, masyarakat setempat melafalkan nama itu menjadi Tenabang, sebelum akhirnya berubah menjadi Tanah Abang seperti yang dikenal sekarang.
Meski demikian, versi ini masih menjadi bahan diskusi di kalangan peneliti sejarah Jakarta.
Sejarah Tanah Abang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pasar legendarisnya.
Berdasarkan berbagai catatan sejarah, Pasar Tanah Abang didirikan pada 1735 oleh Justinus Vinck setelah memperoleh izin dari Gubernur Jenderal VOC Abraham Patras.
Pada masa awal berdirinya, pasar ini hanya beroperasi setiap hari Sabtu sehingga dikenal sebagai Pasar Sabtu. Bangunannya pun masih sangat sederhana, beratapkan rumbia dan berdinding anyaman bambu.
Perjalanan pasar sempat terhenti akibat tragedi Geger Pecinan 1740, yakni pembantaian besar-besaran terhadap etnis Tionghoa oleh VOC. Aktivitas perdagangan baru kembali menggeliat pada akhir abad ke-19 ketika para saudagar Arab dan Tionghoa kembali berdagang di kawasan tersebut.
Seiring waktu, pemerintah Batavia melakukan berbagai renovasi hingga akhirnya Pasar Tanah Abang berkembang menjadi pusat perdagangan tekstil terbesar di Indonesia.
Keberadaan Stasiun Tanah Abang yang mulai beroperasi pada 1899 semakin memperkuat posisi kawasan ini sebagai simpul distribusi barang ke berbagai daerah.
Hampir tiga abad sejak pertama kali berdiri, Tanah Abang masih menjadi salah satu kawasan paling sibuk di Jakarta. (*)
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB