Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), (Foto istimewa/Jurnas)
Jakarta, Jurnas.com - Berdiri megah di jantung ibu kota, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bukan sekadar fasilitas olahraga biasa.
Dirangkum dari berbagai sumber, stadion ini merupakan simbol ambisi besar, nasionalisme, dan kebangkitan bangsa Indonesia di mata dunia.
Berikut adalah kilas balik sejarah pembuatan SUGBK yang kini menjadi salah satu ikon paling ikonik di DKI Jakarta.
1. Ambisi Bung Karno dan Penunjukan Tuan Rumah Asian Games IV
Sejarah mencatat bahwa pembangunan megaproyek ini bermula ketika Presiden pertama RI, Soekarno (Bung Karno), berhasil meyakinkan Dewan Federasi Asian Games pada tahun 1958 bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962.
Bung Karno ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia yang baru seumur jagung merdeka adalah bangsa yang besar, modern, dan mampu membangun infrastruktur raksasa.
Untuk merealisasikannya, Jakarta harus memiliki kompleks olahraga yang belum pernah ada sebelumnya.
2. Pemilihan Lokasi di Senayan
Melansir arsip harian Kompas, awalnya ada beberapa opsi lokasi pembangunan, termasuk kawasan Rawamangun, Bendungan Hilir, hingga MH Thamrin.
Namun, Bung Karno akhirnya memilih kawasan Senayan yang saat itu masih berupa perkebunan karet dan pemukiman warga seluas sekitar 270 hektare.
Pemilihan Senayan didasari oleh letaknya yang strategis sebagai poros penghubung antara Jakarta Pusat dengan kawasan satelit baru saat itu, Kebayoran Baru. Pembangunan secara resmi dimulai lewat peletakan batu pertama oleh Bung Karno pada tanggal 8 Februari 1960.
3. Arsitektur Temu Gelang dan Bantuan Uni Soviet
Dalam proses pembangunannya, Indonesia mendapat dukungan pinjaman dana lunak serta bantuan insinyur dari Uni Soviet di era Perdana Menteri Nikita Khrushchev. Namun, konsep arsitektur utama stadion ini murni lahir dari visi besar Bung Karno.
Bung Karno menghendaki atap stadion berbentuk "Temu Gelang" (lingkaran penuh tanpa putus).
Desain ini mematahkan tren stadion-stadion barat saat itu yang umumnya menggunakan atap berbentuk kanopi sebagian.
Filosofi Temu Gelang ini melambangkan persatuan bangsa yang bulat dan gotong royong tanpa sekat.
4. Selesai Tepat Waktu dan Mengguncang Dunia
Mengerahkan belasan ribu pekerja dan teknisi yang bekerja dalam tiga giliran selama 24 jam penuh, proyek raksasa ini berhasil diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 2,5 tahun.
Stadion Utama diresmikan secara megah pada 21 Juli 1962. Saat pertama kali dibuka untuk Asian Games IV pada Agustus 1962, stadion ini mampu menampung hingga 110.000 penonton, menjadikannya salah satu stadion terbesar di dunia pada masanya.
5. Dinamika Nama dan Wajah Baru SUGBK
Sepanjang perjalanannya, nama kompleks olahraga ini sempat berubah menjadi Kenari (Kawasan Olahraga Senayan) pada era Orde Baru melalui Keppres No. 4/1984.
Namun, pasca-reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengembalikan nama aslinya menjadi Gelora Bung Karno melalui Keppres No. 7/2001 sebagai bentuk penghormatan kepada sang proklamator.
Menjelang Asian Games 2018, SUGBK mengalami renovasi besar-besaran untuk memenuhi standar FIFA.
Kapasitasnya kini disesuaikan menjadi sekitar 78.000 kursi tunggal (single seat) demi kenyamanan dan keamanan, lengkap dengan sistem pencahayaan mutakhir berkekuatan 3.500 lux yang menjadikannya salah satu yang terbaik di dunia.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
DKI Jakarta Stadion SUGBK Presiden Soekarno Ikon Kota Jakarta























