Ilustrasi - mengenal sosok Husain bin Ali, Cucu Nabi Muhammad SAW yang Syahid di bulan Muharram, tepatnya pada 10 Muharram di Karbala, Irak (Foto: ISTIMEWA)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Muharram tidak hanya menjadi penanda Tahun Baru Islam.
Tetapi juga mengingatkan umat Muslim pada salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah Islam, yakni syahidnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah atau 680 Masehi.
Nama Husain bin Ali memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai sosok yang saleh, pemberani, dan teguh mempertahankan prinsip yang diyakininya.
Kisah hidupnya hingga gugur di Karbala terus dikenang oleh umat Islam di berbagai belahan dunia hingga saat ini.
Husain bin Ali merupakan putra dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri bungsu Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Husain adalah cucu langsung Rasulullah SAW dari garis keturunan Ahlul Bait.
Menurut sejumlah riwayat sejarah Islam, Husain lahir di Madinah pada 3 Syaban atau tahun 4 Hijriah (sekitar 626 Masehi). Ia lahir sekitar satu tahun sepuluh bulan setelah kakaknya, Hasan bin Ali.
Sejak kecil, Husain tumbuh di lingkungan yang penuh dengan pendidikan agama dan akhlak mulia. Ia mendapatkan perhatian dan kasih sayang langsung dari Nabi Muhammad SAW.
Banyak hadis yang menggambarkan besarnya kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada Hasan dan Husain.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Rasulullah pernah menggendong kedua cucunya sambil berdoa:
"Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya dan cintailah orang-orang yang mencintai keduanya."
Hadis lainnya yang cukup populer menyebutkan:
"Hasan dan Husain adalah pemimpin para pemuda penghuni surga."
Kedudukan istimewa tersebut membuat Husain dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam sejak masa awal.
Sejumlah ulama dan sejarawan mencatat bahwa Husain bin Ali dikenal sebagai pribadi yang tekun beribadah. Ia banyak mengerjakan puasa sunah, salat sunah, memperbanyak sedekah, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Husain pernah menunaikan ibadah haji puluhan kali.
Bahkan, sejumlah sumber sejarah menyebut ia melakukan sekitar 25 kali perjalanan haji dengan berjalan kaki dari Madinah menuju Makkah sebagai bentuk ketawadukan dan pengabdian kepada Allah SWT.
Selain dikenal sebagai ahli ibadah, Husain juga memiliki keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran.
Nama Husain bin Ali semakin dikenang setelah peristiwa Karbala yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah.
Saat itu, Husain menolak memberikan baiat kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah yang memimpin Dinasti Umayyah.
Penolakan tersebut didasari keyakinannya bahwa kepemimpinan harus dijalankan dengan prinsip keadilan dan nilai-nilai Islam.
Dalam perjalanan menuju Kufah, rombongan Husain dicegat pasukan Umayyah di wilayah Karbala, yang kini berada di Irak.
Husain bersama keluarga dan para pengikutnya kemudian dikepung selama beberapa hari.
Pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura, Husain gugur dalam pertempuran bersama sebagian besar anggota keluarganya. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling penting dalam sejarah Islam.
Bagi banyak umat Islam, Husain bin Ali tidak hanya dikenang sebagai cucu Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Kisah Karbala mengajarkan pentingnya mempertahankan prinsip kebenaran meskipun harus menghadapi risiko besar.
Karena itu, setiap datangnya bulan Muharram, nama Husain bin Ali kembali dikenang melalui berbagai kajian sejarah dan kegiatan keagamaan.
Lebih dari 13 abad setelah peristiwa Karbala, keteladanan Husain bin Ali masih menjadi inspirasi bagi umat Islam di seluruh dunia.
Sosoknya dikenang sebagai cucu Rasulullah SAW yang mengabdikan hidupnya demi mempertahankan nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan kebenaran.
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB