Ilustrasi kasus ebola di Kongo (Foto: AFP)
Bunia, Jurnas.com - Sedikitnya 100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat virus Ebola dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, sejak pemerintah menyatakan status wabah di wilayah timur Kongo.
Serangan terhadap petugas medis oleh warga yang marah, sikap skeptis sebagian penduduk lokal, serta konflik bersenjata di wilayah-wilayah rawan terus menjadi tantangan berat bagi upaya penanganan wabah yang pertama kali diumumkan pada 15 Mei lalu tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru yang dikutip Associated Press pada Selasa (9/6) malam, dari total 550 kasus terkonfirmasi hingga hari Minggu, tercatat ada 101 korban jiwa dan 19 pasien dinyatakan sembuh.
Gelombang wabah ini berpusat di Provinsi Ituri, Kongo timur, yang menyumbang lebih dari 90 persen dari keseluruhan kasus. Selain itu, sebaran virus juga telah terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan, bahkan kini telah meluas hingga melewati batas negara ke Uganda.
Jumlah kasus riil di Kongo diyakini jauh lebih tinggi karena konfirmasi status wabah baru dilakukan beberapa minggu setelah penyakit menyebar. Proses penanggulangan di lapangan juga kian pelik lantaran jenis virus yang menyebar saat ini belum memiliki vaksin ataupun metode pengobatan resmi yang disetujui.
Wabah terbaru ini dipicu oleh virus jenis Bundibugyo yang langka, berbeda dengan jenis virus Zaire yang bertanggung jawab atas sebagian besar dari 16 wabah Ebola di Kongo sebelumnya dan sudah memiliki vaksin penangkal.
Pihak otoritas menjelaskan bahwa lonjakan tajam pada jumlah kasus baru sebagian disebabkan oleh adanya peningkatan kapasitas diagnostik, sehingga petugas medis dapat menyelesaikan pengujian terhadap tumpukan sampel yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Di sisi lain, para petugas kesehatan di garis depan yang bekerja dengan upah minim dan waktu istirahat yang sangat terbatas, telah berulang kali menjadi sasaran kekerasan fisik oleh warga lokal.
Mereka juga kerap terisolasi dan tidak dapat menjangkau sejumlah komunitas akibat konflik bersenjata yang melibatkan kelompok-kelompok pemberontak di wilayah Kongo timur.
Kawasan Kongo timur telah diguncang oleh aksi teror dari puluhan kelompok milisi dan pemberontak selama bertahun-tahun, beberapa di antaranya memiliki jaringan luar negeri hingga terafiliasi dengan kelompok ekstremis Daesh.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa situasi konflik ini sangat membatasi akses bagi tim penanggulangan, mengacaukan aktivitas surveilans, serta meningkatkan risiko terjadinya penularan yang tidak terdeteksi di masyarakat.
WHO menambahkan bahwa rentetan insiden ini menggarisbawahi beratnya tantangan medan di Kongo sekaligus krusialnya kerja sama erat dengan para pemimpin lokal dan komunitas setempat.
Selasa, 09/06/2026 17:47 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB
Selasa, 09/06/2026 10:30 WIB
Senin, 08/06/2026 13:10 WIB