https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Pemanasan Global Disebut 5.000 Kali Lebih Cepat dari Evolusi Padi

Agus Mughni | Rabu, 20/05/2026 12:05 WIB



Perubahan iklim global kini berkembang jauh lebih cepat dibanding kemampuan alami tanaman padi untuk beradaptasi Varietas padi Inpari yang ditanam di Sambas, Kalimantan Barat siap panen (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim global kini berkembang jauh lebih cepat dibanding kemampuan alami tanaman padi untuk beradaptasi. Penelitian terbaru mengungkap bahwa pemanasan global berlangsung sekitar 5.000 kali lebih cepat daripada proses evolusi padi selama ribuan tahun sejarah pertanian manusia.

Studi tersebut menemukan bahwa sejumlah wilayah penanaman padi mulai memasuki suhu yang belum pernah dialami dalam 9.000 tahun budidaya padi di dunia. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran besar terhadap ketahanan pangan global, terutama bagi miliaran orang yang bergantung pada beras sebagai makanan pokok dan sumber penghidupan.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Communications Earth & Environment.

Baca juga :
Kebakaran Hutan Kini Aktif Sepanjang Malam, Studi Ungkap Penyebab-Dampaknya

Padi Disebut Mendekati “Batas Termal”

Dikutip dari Live Science, penulis utama penelitian, Nicolas Gauthier dari Florida Museum of Natural History, mengatakan padi kemungkinan sedang mendekati “thermal limit” atau batas suhu maksimal yang masih memungkinkan tanaman tersebut beradaptasi secara alami.

Menurutnya, manusia memang masih dapat mengembangkan varietas padi tahan panas atau memindahkan area budidaya ke wilayah baru. Namun laju pemanasan global yang terlalu cepat tetap berpotensi menimbulkan gangguan besar.

Baca juga :
Ilmuwan Temukan Tanaman Terus Naik ke Puncak Himalaya, Ini Penyebabnya

“Kami tidak ingin meremehkan fleksibilitas adaptasi manusia,” kata Gauthier.

“Tetapi kami juga harus mengakui bahwa banyak bentuk adaptasi sebenarnya sudah dilakukan, dan dalam beberapa kasus, kita mungkin sudah mendekati batas kemampuan beradaptasi yang realistis dalam rentang waktu tersebut,” lanjutnya.

Baca juga :
Studi Ungkap Batas Suhu Padi, Indonesia Hadapi Ancaman Penurunan Produksi

Padi Jadi Makanan Pokok Lebih dari Separuh Populasi Dunia

Padi merupakan sumber pangan utama bagi lebih dari separuh populasi dunia. Sekitar 90 persen budidaya padi global berada di kawasan Asia.

Namun sejumlah wilayah penghasil padi kini mulai mengalami peningkatan suhu ekstrem yang berdampak langsung pada hasil panen. Kondisi ini sebelumnya juga telah menjadi perhatian World Economic Forum.

Meski dikenal sebagai tanaman yang menyukai panas, padi ternyata memiliki batas suhu tertentu untuk bertahan hidup secara optimal.

Fotosintesis tanaman padi diketahui mulai berhenti pada suhu sekitar 104 derajat Fahrenheit atau 40 derajat Celsius. Suhu tinggi juga dapat mengganggu kesuburan serbuk sari dan pertumbuhan bulir padi.

Selain itu, padi merupakan tanaman yang sangat bergantung pada air. Karena itu, perubahan pola musim hujan dan kemarau menjadi ancaman serius. Kenaikan permukaan laut juga berisiko merendam sawah dataran rendah dengan air asin yang dapat mematikan tanaman.

Suhu Maksimal Budidaya Padi Tidak Berubah Selama 9.000 Tahun

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengumpulkan data iklim masa lalu dari situs-situs arkeologi yang menyimpan bukti budidaya padi selama ribuan tahun.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sepanjang sejarahnya, padi memang berhasil diperluas ke wilayah yang lebih dingin berkat rekayasa varietas tahan dingin dan penyesuaian teknik pertanian oleh manusia.

Namun menariknya, batas suhu atas untuk budidaya padi ternyata hampir tidak berubah sejak awal domestikasi padi sekitar 9.000 tahun lalu.

Penelitian menemukan bahwa budidaya padi secara historis selalu berada di wilayah dengan suhu rata-rata tahunan di bawah 28 derajat Celsius dan suhu maksimum musim panas rata-rata di bawah 33 derajat Celsius.

Kini, perubahan iklim mulai mendorong banyak wilayah penghasil padi melewati ambang tersebut.

Produksi Padi Bisa Bergeser, Tapi Tidak Mudah

Gauthier mengatakan pemanasan global memang mungkin membuka peluang budidaya padi di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin. Namun perpindahan tersebut tidak semudah memindahkan tanaman begitu saja.

Sawah dan sistem irigasi di banyak negara Asia telah dibangun selama ratusan bahkan ribuan tahun, sehingga relokasi pertanian akan sangat kompleks dan mahal.

Selain itu, perubahan wilayah produksi juga dapat memicu dampak ekonomi dan sosial yang besar, terutama di negara-negara Asia Selatan yang sangat bergantung pada padi untuk konsumsi sehari-hari.

“Anda mungkin bisa menjaga total produksi beras dunia tetap sama dengan memindahkan area budidaya,” ujar Gauthier.

“Tetapi itu tidak menyelesaikan masalah bagi masyarakat di Asia Selatan yang bergantung pada padi untuk konsumsi mereka.”

Ancaman Ketahanan Pangan Global

Temuan ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan cuaca ekstrem, tetapi juga ancaman serius terhadap sistem pangan dunia.

Jika suhu bumi terus meningkat lebih cepat daripada kemampuan tanaman pangan untuk beradaptasi, maka produksi beras global berisiko mengalami penurunan besar dalam beberapa dekade mendatang.

Bagi miliaran orang yang menjadikan nasi sebagai makanan utama setiap hari, kondisi ini dapat berdampak langsung pada harga pangan, stabilitas ekonomi, hingga ketahanan pangan global di masa depan. (*)

Sumber: Live Science

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Pemanasan Global Perubahan Iklim Evolusi Padi Ketahanan Pangan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777