Kecelakaan maut antara kereta barang dan bus di Bangkok, Thailand (Foto: AFP)
Bangkok, Jurnas.com - Masinis yang terlibat dalam insiden kecelakaan maut dengan sebuah bus di ibu kota Bangkok, Thailand, dilaporkan positif mengonsumsi narkoba dan kini resmi dijatuhi dakwaan atas kelalaian dalam mengemudi. Kepolisian pada Senin (18/5) mengonfirmasi perkembangan tersebut setelah mengamankan sang masinis pasca-kejadian.
Kereta api barang tersebut menghantam bus umum pada Sabtu sore di sebuah persimpangan yang padat di Bangkok, hingga menyebabkan kendaraan bus hangus terbakar dan melukai 30 orang penumpang lainnya.
Pihak kepolisian resmi mendakwa masinis yang juga mengalami luka-luka, serta seorang petugas penjaga perlintasan kereta api pada Minggu (17/5) kemarin dengan pasal kelalaian yang menyebabkan luka-luka dan kematian orang lain.
"Keduanya membantah dakwaan tersebut," ujar Urumporn Koondejsumrit, kepala kantor polisi setempat tempat kecelakaan itu terjadi, kepada AFP.
Urumporn menjelaskan bahwa hasil tes urine awal terhadap masinis menunjukkan adanya kandungan zat narkotika ilegal di dalam sistem tubuhnya, meski dia tidak merinci lebih lanjut jenis zat terlarang apa yang dikonsumsi.
Pemeriksaan lanjutan serta tes serupa nantinya juga akan diterapkan kepada masinis cadangan serta seorang teknisi yang ikut berada di dalam rangkaian kereta tersebut.
Sejumlah rekaman video yang beredar luas di media sosial pada Sabtu kemarin memperlihatkan momen ketika kereta api mendekati perlintasan sebidang dengan kecepatan sedang, sebelum akhirnya menghantam bus yang tengah terjebak di tengah kemacetan tepat di atas rel.
Kepala Kepolisian Bangkok, Siam Boonsom, menyatakan bahwa kemacetan lalu lintas di perlintasan tersebut memang terjadi setiap hari, namun baru kali ini berujung pada kecelakaan fatal.
Pihak kepolisian saat ini tengah memeriksa seluruh rekaman video di lokasi kejadian guna menentukan apakah ada unsur kelalaian dari petugas penjaga perlintasan yang berjaga saat itu.
"Kami melihat petugas tersebut memegang bendera merah yang berarti jalur kereta tidak aman, tetapi kami juga melihat bahwa kereta tetap berjalan tanpa berhenti atau melambat, sehingga menyebabkan tabrakan terjadi," kata Siam kepada wartawan.
Siam menambahkan bahwa rekaman situasi di lokasi pada hari-hari biasa menunjukkan kendaraan memang sering berhenti di atas rel, dan dalam kondisi tersebut petugas biasanya akan mengibarkan bendera merah sebagai sinyal agar kereta yang datang segera berhenti sampai kemacetan lalu lintas terurai. Pihak berwenang kini juga tengah menyelidiki kecepatan laju kereta serta jarak pengereman yang dilakukan sebelum tabrakan.
Berdasarkan data dari layanan darurat lokal, total korban tewas akibat insiden ini mencapai delapan orang dan 30 orang lainnya mengalami luka-luka. 17 korban luka di antaranya dilaporkan masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit hingga Minggu malam kemarin.
Jum'at, 15/05/2026 05:41 WIB