PM Kepulauan Solomon, Matthew Wale mengambil sumpah jabatan (Foto: Arab News)
Honiara, Jurnas.com - Matthew Wale resmi terpilih sebagai Perdana Menteri Kepulauan Solomon melalui jajak pendapat parlemen pada pekan lalu, setelah pendahulunya digulingkan melalui mosi tidak percaya.
Pergantian kepemimpinan di negara kepulauan yang terletak sekitar 1.600 kilometer di timur laut Australia ini terus dipantau ketat oleh para diplomat Barat, mengingat China dan Australia merupakan donor serta mitra keamanan terbesar yang saling bersaing berebut pengaruh di sana.
Tak lama setelah terpilih, PM Wale tampaknya bakal melakukan manuver dalam agenda politik globalnya. Dia menunjuk mantan perdana menteri, Rick Hou, sebagai Menteri Luar Negeri. Serta, Peter Kenilorea sebagai Menteri Perencanaan Nasional dan Koordinasi Pembangunan.
Dikutip dari AFP pada Senin (18/5), Kenilorea merupakan anggota Aliansi Antar-Parlemen untuk China (IPAC), sebuah kelompok internasional beranggotakan para anggota parlemen yang vokal mengkritik kebijakan Beijing.
"China mungkin akan menganggapnya sedikit menyulitkan. Dia akan menempatkan masalah transparansi sebagai prioritas utamanya," ujar James Batley, mantan Komisaris Tinggi Australia untuk Kepulauan Solomon, kepada AFP.
Batley menilai bahwa penunjukan kabinet baru ini memang mengirimkan sebuah sinyal politik yang jelas. Namun, ia menambahkan bahwa sangat kecil kemungkinan bagi Kepulauan Solomon untuk membatalkan atau membalikkan keputusan diplomatik mereka terkait hubungan resmi dengan China.
Menteri Luar Negeri baru, Rick Hou, tercatat pernah menjabat sebagai perdana menteri pada 2017 hingga 2019, tepat sebelum Kepulauan Solomon mengalihkan hubungan diplomatiknya dari Taiwan ke China pada tahun 2019, sebuah keputusan yang kala itu sempat dikritik keras oleh Hou.
Sejumlah utusan diplomatik dari China dan Australia juga dilaporkan telah mengadakan pertemuan langsung dengan PM Wale pada Sabtu kemarin. Berdasarkan pernyataan resmi pemerintah Kepulauan Solomon hari ini, PM Wale menyampaikan kepada Duta Besar China, Cai Weiming, bahwa negaranya tetap berkomitmen pada prinsip Satu China (One China principle), dan berniat untuk bekerja sama erat demi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, dalam pertemuannya dengan Komisaris Tinggi Australia, Jeff Roach, PM Wale mendorong Australia untuk berpikir besar dan berjangka panjang dalam menumbuhkan serta membina kemitraan di antara kedua negara. Pihak kantor perdana menteri menambahkan bahwa Australia telah menjadi donor terbesar sekaligus mitra pembangunan utama pilihan mereka selama beberapa dekade terakhir.
Selain perombakan kabinet, PM Wale juga mengumumkan pemulihan kembali kebijakan larangan ekspor lumba-lumba hidup, sebuah langkah cepat yang langsung disambut baik oleh berbagai kelompok pencinta lingkungan.
Jum'at, 15/05/2026 05:41 WIB