https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi Ungkap Alasan Manusia Bisa Terikat Emosional dengan Benda Mati dan AI

Agus Mughni | Senin, 18/05/2026 09:05 WIB



Studi terbaru mengungkap kebiasaan itu berkaitan dengan cara manusia membangun ikatan emosional dengan benda non-manusia. Ilustrasi ikatan emosional (Foto: Dravin Gupta/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Kebiasaan manusia memberi nama pada mobil, berbicara dengan tanaman, hingga merasa kasihan pada robot vacuum ternyata bukan sekadar perilaku unik sehari-hari. Studi terbaru mengungkap kebiasaan itu berkaitan dengan cara manusia membangun ikatan emosional dengan benda non-manusia.

Penelitian yang dipimpin Yen-Ping Chang dari University of Tasmania menemukan bahwa manusia cenderung merasa berterima kasih kepada objek atau sistem yang dianggap memiliki niat, emosi, atau kesadaran layaknya manusia.

Dikutip dari Earth, fenomena tersebut dikenal sebagai antropomorfisme, yakni kecenderungan memberi sifat manusia kepada benda mati, hewan, teknologi, maupun fenomena alam. Selama ini perilaku itu dianggap hanya sebatas ekspresi lucu atau emosional semata.

Namun, studi terbaru menunjukkan efeknya jauh lebih dalam. Ketika seseorang percaya sebuah mesin, hutan, atau sistem alam memiliki “niat baik”, mereka cenderung membangun rasa percaya, keterikatan emosional, bahkan keinginan untuk melindunginya.

Penelitian ini melibatkan lima eksperimen daring terhadap lebih dari 2.000 responden di Amerika Serikat. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok yang menerima deskripsi berbeda mengenai objek yang sama.

Salah satu kelompok diberi penjelasan bernuansa manusiawi, misalnya komputer digambarkan memiliki pikiran yang terus berkembang dan mungkin suatu saat mempunyai kehendak bebas. Sementara kelompok lain hanya menerima penjelasan teknis bahwa komputer hanyalah mesin tanpa kesadaran.

Hasilnya, peserta yang membaca deskripsi bernuansa manusia lebih mudah melihat komputer sebagai “rekan” yang responsif. Persepsi itu memunculkan rasa syukur, kepercayaan, hingga dorongan untuk menjaga teknologi tersebut.

Menurut Chang, temuan paling mengejutkan bukanlah munculnya emosi positif terhadap benda mati, melainkan alasan di balik emosi itu. Selama ini rasa syukur dipahami sebagai respons atas manfaat yang diterima seseorang dari pihak lain.

Namun, penelitian ini menemukan rasa syukur ternyata lebih dipengaruhi oleh persepsi adanya niat baik dibanding manfaat nyata yang diberikan. Dengan kata lain, manusia bisa merasa terhubung secara emosional hanya karena menganggap suatu objek “bermaksud baik”.

Efek serupa juga muncul saat penelitian dilakukan terhadap program kecerdasan buatan (AI), Amazon Rainforest, hingga Arus Kuroshio di Samudra Pasifik. Ketika objek-objek tersebut dijelaskan seolah memiliki kesadaran atau tujuan, keterikatan emosional responden meningkat secara signifikan.

Dalam salah satu eksperimen berbasis permainan, peserta bahkan merasa lebih berterima kasih kepada program AI yang membantu mereka memenangkan permainan. Menurut Chang, kondisi itu menunjukkan manusia dapat membangun hubungan emosional dengan non-manusia layaknya hubungan antarmanusia.

Penelitian juga menemukan antropomorfisme dapat memengaruhi kepedulian lingkungan. Responden yang memandang hutan hujan atau arus laut sebagai entitas “hidup” menunjukkan niat lebih besar untuk mendukung gerakan konservasi.

Temuan ini dinilai penting karena menjelaskan mengapa narasi emosional dalam isu lingkungan sering kali lebih efektif dibanding sekadar data ilmiah. Rasa syukur disebut menjadi jembatan antara persepsi bahwa alam itu “hidup” dan dorongan untuk melindunginya.

Meski demikian, Chang mengingatkan keterikatan emosional terhadap teknologi juga memiliki risiko. Salah satunya adalah munculnya hubungan tidak sehat dengan chatbot AI atau sistem digital yang sengaja dibuat terasa manusiawi.

Menurut dia, perusahaan teknologi berpotensi memperkuat ikatan emosional itu melalui penggunaan nama manusia pada AI seperti Siri, Alexa, atau Watson. Strategi tersebut dinilai dapat mendorong pengguna semakin mudah terhubung secara emosional dengan teknologi.

“Manusia harus tetap berhati-hati terhadap seberapa jauh mereka memanusiakan benda dan membangun keterikatan emosional dengannya,” ujar Chang.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Emotion dan disebut sebagai salah satu studi pertama yang berhasil memetakan hubungan langsung antara antropomorfisme, rasa syukur, dan perubahan perilaku manusia dalam berbagai konteks. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kebiasaan Manusia Ikatan Emosiaonal

Terkini | Senin, 18/05/2026 10:40 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777