Seorang awak kapal mengibarkan bendera Iran di kapal tanker minyak Iran Adrian Darya 1, yang sebelumnya bernama Grace 1, di Selat Gibraltar, Spanyol, 18 Agustus 2019. REUTERS
London, Jurnas.com - Blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran mulai melemahkan kapasitas produksi minyak negara tersebut. Tindakan ini meningkatkan risiko kerusakan jangka panjang pada kapasitas produksi minyak Iran yang mungkin tidak dapat dipulihkan sepenuhnya meski ketegangan mereda.
Sejak pertengahan April, pasukan AS telah memblokade kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
Akibatnya, Iran terpaksa mengalihkan minyak mentah yang tidak terjual ke fasilitas penyimpanan di darat maupun kapal tanker (penyimpanan terapung).
Namun, kapasitas penyimpanan ini mulai mencapai batas maksimal, termasuk di fasilitas utama Pulau Kharg.
Jika tangki penyimpanan penuh, Iran terpaksa melakukan "shut-in" atau menutup sumur minyak untuk menghentikan aliran mentah, menurut keterangan Jim Krane, pakar energi dari Rice University, yang dikutip dari Arab News pada Rabu (6/5).
“Penyimpanan sudah penuh, kapal penuh, dan selat ditutup. Tidak ada cukup permintaan lokal untuk menyerap semua minyak yang keluar dari tanah,” ujar Jim.
Para ahli memperingatkan bahwa menutup sumur minyak bukanlah perkara sederhana yang bisa langsung dipulihkan hanya dengan memutar keran kembali. Sebab, terdapat sejumlah risiko teknis yang mungkin dihadapi, mulai dari kehilangan tekanan reservoir, hingga kerusakan ladang.
Data dari Kpler menunjukkan ekspor Iran sempat stabil di angka 1,84 juta barel per hari pada Maret dan 1,71 juta pada April. Namun, dengan pengetatan blokade, sistem ini mulai mengalami penumpukan.
“Jika pasokan Iran rusak secara struktural, bukan hanya terhambat sementara, hal itu akan memperketat prospek pasokan jangka menengah di pasar global,” kata Bachar El-Halabi, pakar pasar energi global.
Meskipun produsen Teluk lainnya dapat meningkatkan produksi untuk menggantikan volume Iran yang hilang, langkah tersebut membawa risiko politik dan keamanan tinggi, mengingat kecenderungan Iran untuk menyerang infrastruktur energi tetangganya saat merasa terdesak.
Rabu, 06/05/2026 18:01 WIB
Rabu, 06/05/2026 17:15 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB