https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Menag Sebut Jika Alam Rusak Seharusnya Manusia Merasakan Dampaknya, Kenapa?

Agus Mughni | Minggu, 21/12/2025 16:26 WIB



Menag menjelaskan bahwa ekoteologi menuntut keterpaduan antara iman, ilmu, dan amal yang tidak bisa dipisahkan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam Seminar Nasional bertema Ekoteologi : Integritas Spiritualitas, Kebijakan, dan Sains Menuju Indonesia Hijau Berkelanjutan yang digelar di Ruang VIP Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (Foto: Kemenag)

Jakarta, Jurnas.com - Alam semesta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itu, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan spiritual. Jika alam mengalami kerusakan, manusia seharusnya turut merasakan dampaknya.

Demikian disampaikan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertema “Ekoteologi : Integritas Spiritualitas, Kebijakan, dan Sains Menuju Indonesia Hijau Berkelanjutan yang digelar di Ruang VIP Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (20/12).

Dalam kesempatan itu, Menag menjelaskan bahwa ekoteologi menuntut keterpaduan antara iman, ilmu, dan amal yang tidak bisa dipisahkan. Ia menyebut relasi tersebut sejalan dengan konsep mitos, logos, dan ethos yang ada dalam setiap agama.

Baca juga :
Menag: Tak Ada Dalil yang Bisa Menyebabkan Perempuan Itu Terpinggirkan

“Tidak bisa dipisahkan antara mitos, logos, dan ethos. Logos itu bukan sekadar ilmu. Logos itu lebih induk, dan salah satu cabang pentingnya adalah ilmu,” ujar Menag. 

Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa ekoteologi harus diwujudkan dalam bentuk nyata melalui apa yang ia sebut sebagai kurikulum cinta. Kurikulum ini, menurutnya, mengajarkan manusia untuk mencintai seluruh ciptaan, bukan hanya sesama manusia.

Baca juga :
Menag: Pesantren Harus Jadi Tempat Paling Aman bagi Anak

Dalam konteks ini, Menag menyinggung konsep Tat Twam Asi dalam tradisi Hindu yang bermakna “aku adalah dia”. Pandangan tersebut, menurutnya, sejalan dengan perspektif ekoteologi yang memandang alam sebagai bagian dari diri manusia.

“Ketika sungai dikotori, dijadikan toilet umum atau tong sampah, saya sedih, karena sungai itu aku,” tuturnya.

Baca juga :
Menag Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak

Menag juga menekankan bahwa dalam pandangan Islam, seluruh ciptaan hidup dan bertasbih kepada Allah, termasuk yang selama ini dianggap benda mati. Karena itu, menebang pohon atau merusak alam berarti memutus kehidupan banyak makhluk yang bergantung padanya.

“Begitu satu pohon ditebang, berapa ratus burung dan berapa ribu serangga yang punah. Dalam bahasa agama Islam, semuanya itu hidup dan bertasbih,” katanya.

Menurut Menag, jika cinta terhadap alam telah tertanam dalam hati, maka kesadaran untuk menjaga lingkungan akan tumbuh tanpa harus dipaksakan.

Ia menambahkan, tujuan dari pendekatan ini bukan menjadikan manusia sebagai makhluk tanpa salah, melainkan menumbuhkan kesadaran moral agar manusia tidak menjadi perusak.

“Kita akan menjadikan manusia jadi malaikat. Tapi itu tentu tidak mungkin. Minimal, jangan jadi iblis,” tegasnya.

Sebagai penutup, Menag menegaskan bahwa alam semesta harus dipandang sebagai bagian dari diri manusia. Ketika alam terluka, manusia seharusnya turut merasakan penderitaannya.

“Mulai hari ini, kita menganggap alam semesta ini bagian dari kita. Kalau dia sakit, seharusnya kita juga sakit,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Menag juga merekomendasikan buku The Sacred Nature karya Karen Armstrong sebagai bacaan reflektif untuk memperkuat kesadaran ekoteologis. Menurutnya, dunia modern perlu kembali menemukan keseimbangan antara rasionalitas dan kearifan tradisional. 

“Kita terlalu banyak didikte oleh otak kiri, padahal otak kanan itu yang menghidupkan tiga setengah juta orang lamanya penduduk dunia ini. Jadi ternyata Barat kini menyadari kekeliruannya, menempuh jalan tradisional. Karena itu, inilah saatnya kita merdeka mengembalikan proporsi kita ke jalan yang benar. Shiratal mustaqim kita adalah ekoteologi,” pungkas Menag.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Menteri Agama Nasaruddin Umar Kerusakan Alam Kehidupan Manusia Seminar Ekoteologi

Terkini | Rabu, 05/08/2026 08:06 WIB

Humanika

5 Agustus 2026, Cek Daftar Peringatan Hari Ini

Olahraga

Kalah dari Persib, Taktik Shin Tae-yong di Persija Mulai Dipertanyakan

Gaya Hidup

Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi Global, Peneliti Temukan Risiko Besar

News

Menkomdigi Minta Waspadai Hoaks Demo, Banyak Video Lama Kembali Viral

News

Menteri ATR Targetkan Pelayanan Balik Nama Hak Tanah Paling Lama 10 Hari

News

KPK Geledah Kantor Imigrasi Jakarta Selatan Terkait Kasus Silmy Karim

Gaya Hidup

Bagaimana Cara Membuat Alat Sederhana untuk Melihat Gerhana Matahari

News

Legislator: Negara Jangan Hanya Menyita, Aset Rampasan Harus Tetap Bernilai

News

KPK Siap Hadapi Praperadilan Tersangka Suap Auditor BPK Muara Enim

News

Kemenkes Tegaskan Anak Harus Dilindungi dari Promosi Vape

News

Kapal Migran Terbakar di Selat Inggris, 157 Orang Berhasil Diselamatkan

News

Basarnas Alihkan Operasi SAR KMP Muatiara Sentosa 2 jadi Operasi Rutin

News

Jaksa Agung Cabut Sementara Status Jaksa Febrie Adriansyah

Humanika

Apa Mahar Terbaik dalam Pandangan Islam?

Info Bank BNI

Ganda Putra Indonesia Raih Tiga Gelar, BNI Apresiasi Pembinaan PBSI

News

Ketua Komisi III: Tidak Benar Ada Surat Presiden Soal Pengganti Kapolri

Humanika

7 Perkara yang Membatalkan Salat Menurut Fikih

Humanika

6 Hal Mubah dalam Salat yang Boleh Dilakukan Tanpa Membatalkan Ibadah

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777