https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Tanggul Laut Bukan Solusi, Pesisir Tetap Terancam Banjir Rob

Mutiul Alim | Kamis, 18/12/2025 17:10 WIB



Menurut Sapto, keberadaan struktur beton dapat mengganggu arus laut, menyebabkan perubahan gelombang, hingga menimbulkan erosi atau sedimentasi di wilayah lain Fenomena banjir rob (Foto: Antaranews)

Jakarta, Jurnas.com - Banjir rob dalam beberapa tahun terakhir menghantui kawasan pesisir di Indonesia. Fenomena alam ini berdampak signifikan bagi aktivitas masyarakat sehingga dikategorikan sebagai bencana yang perlu diwaspadai.

Akademisi Universitas Airlangga (Unair) Dr. Eng. Sapto Andriyono mengatakan banjir rob dipicu oleh penurunan tanah (land subsidence) yang membuat daratan lebih rendah dari lautan. Namun, solusinya bukanlah pembangunan tanggul laut.

Menurut Sapto, keberadaan struktur beton dapat mengganggu arus laut, menyebabkan perubahan gelombang, hingga menimbulkan erosi atau sedimentasi di wilayah lain.

Baca juga :
Mendiktisaintek Instruksikan Riset Pembangunan Tanggul Laut Pantura

Selain pasang dan hujan, pengerasan lahan melalui pembangunan masif juga memperparah penurunan tanah. Sejumlah penelitian memperkirakan beberapa kawasan pesisir utara Jawa dapat hilang dalam beberapa dekade mendatang jika laju penurunan tanah tidak dikendalikan.

Banyak kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan, termasuk mangrove beralih fungsi menjadi pemukiman, pergudangan, hingga kawasan industri.

Baca juga :
Prabowo: Tanggul Laut Raksasa demi Selamatkan 50 Juta Penduduk

"Daerah resapan itu sebenarnya sangat diperlukan. Namun kini banyak mangrove yang berubah menjadi kawasan perumahan dan industri. Ketika kawasan resapan hilang, tekanan air ke daratan semakin tinggi," kata Sapto dikutip dari laman resmi Unair pada Kamis (18/12).

Sapto menyebut hutan mangrove merupakan benteng alami terbaik untuk meredam banjir rob. Mangrove memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas sehingga mampu menjadi barrier alami sebelum air mencapai permukiman.

Baca juga :
Pemerintah Lanjutkan Proyek Tanggul Laut Raksasa di Pantura

"Mangrove itu ideal, hanya mangrove yang mampu bertahan pada kondisi asin seperti itu. Harapannya di Surabaya, green belt mangrove bisa diperkuat dan dipertebal," dia menambahkan.

Masifnya pembangunan juga mendorong intrusi air laut semakin jauh ke daratan. Hal ini menggeser akuifer air tawar dan membuat masyarakat pesisir semakin sulit mendapatkan sumber air tawar langsung dari tanah.

"Semakin banyak bangunan, intrusi laut meningkat dan air tawar terdorong menjauh. Nanti, membuat sumur air tawar pun jadi sulit," kata Sapto.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Tanggul Laut Akademisi Unair Penurunan Tanah Sapto Andriyono

Terpopuler

Selasa, 07/07/2026 06:06 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Norwegia

Selasa, 07/07/2026 04:04 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Prancis vs Maroko

Rabu, 08/07/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Spanyol vs Belgia

Selasa, 07/07/2026 11:44 WIB
Olahraga

Persib Resmi Lepas Andrew Jung dengan Harga Fantastis

Humanika

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777