https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Akhir Alam Semesta Mungkin Lebih Dekat, Ini Temuan Studi Terbaru

Agus Mughni | Selasa, 09/12/2025 12:18 WIB



Studi Baru: Alam Semesta Bisa Berakhir Lebih Cepat dari Perkiraan Ilustrasi - Studi Baru Ungkap Alam Semesta Bisa Berakhir Lebih Cepat dari Perkiraan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi teoretis terbaru mengklaim bahwa alam semesta bisa berakhir jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan sebelumnya, sebab objek paling tangguh seperti lubang hitam hingga bintang neutron ternyata tidak benar-benar abadi.

Temuan ini menunjukkan bahwa proses kuantum yang tak kasatmata hari ini perlahan dapat menghapus seluruh sisa materi di kosmos ketika waktu menjauh hingga ke era pasca-bintang.

Penelitian dari tiga ilmuwan Radboud University di Belanda; Heino Falcke, Michael Wondrak, dan Walter van Suijlekom ini menggabungkan relativitas umum dengan teori medan kuantum untuk menelusuri nasib objek super-padat.

Baca juga :
Ini Amal Perbuatan Pertama yang Dihisab pada Hari Kiamat

Mereka mempertanyakan apakah bintang neutron dan katai putih, yang tidak memiliki event horizon layaknya lubang hitam, juga dapat menguap oleh mekanisme mirip radiasi Hawking.

Melalui pendekatan itu, mereka menemukan bahwa kelengkungan ekstrem ruang-waktu di sekitar objek padat cukup kuat untuk memisahkan pasangan partikel virtual dan menjadikannya nyata. Proses ini membuat energi terbawa keluar secara perlahan sehingga massa objek tersebut terus terkikis seiring waktu.

Karena objek seperti bintang neutron memiliki permukaan, sebagian partikel yang tercipta jatuh kembali dan memanaskan lapisannya sebelum dipancarkan ulang sebagai radiasi.

Baca juga :
Sinyal Radio dari Dekat Lubang Hitam Bima Sakti Bisa Uji Teori Einstein

Sementara itu, partikel lain langsung melesat ke luar angkasa, sehingga dari kejauhan objek tampak memiliki suhu yang dibentuk oleh proses kuantum tersebut.

Menurut perhitungan mereka, waktu penguapan ditentukan terutama oleh kerapatan objek sehingga semakin padat suatu sisa bintang maka semakin cepat ia kehilangan massa. Dengan demikian bintang neutron memiliki masa hidup mirip lubang hitam bermassa bintang, sedangkan katai putih lebih lambat menghilang dan lubang hitam supermasif justru bertahan paling lama.

Walau mekanisme ini berlangsung pada skala waktu yang nyaris tak terbayangkan, para peneliti menilai pemahaman tersebut penting untuk memperjelas cara fisika kuantum bekerja di medan gravitasi ekstrem. Mereka berharap studi ini menjadi langkah menuju pemahaman lebih dalam tentang radiasi Hawking yang selama ini masih misterius.

Dengan demikian, seluruh benda, mulai dari lubang hitam hingga gas antargalaksi yang tampak membeku dalam waktu kosmik, perlahan berubah menjadi aliran partikel samar. Dan bila penelitian ini benar, akhir alam semesta bukanlah ledakan dahsyat, melainkan penguapan senyap yang berlangsung sangat panjang namun tetap memiliki batas. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Akhir Alam Semesta Hari Kiamat Lubang Hitam

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777