https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Ketimpangan Lingkungan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Agus Mughni | Sabtu, 18/10/2025 16:15 WIB



Penelitian mengungkap bahwa mereka yang tinggal di lingkungan tertinggal memiliki perubahan struktur otak yang berkaitan dengan risiko demensia Ilustrasi - seorang mengidap penyakit demensia (Foto: Alodokter)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru dari Wake Forest University School of Medicine menemukan bahwa lingkungan tempat tinggal seseorang bukan hanya memengaruhi kenyamanan hidup, tapi juga bisa membentuk cara kerja otak seseorang itu.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa mereka yang tinggal di lingkungan tertinggal memiliki perubahan struktur otak yang berkaitan dengan risiko demensia. Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan otak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik atau gaya hidup.

Para peneliti mempelajari 679 orang dewasa dalam program Healthy Brain Study yang menjalani pemindaian otak dan tes darah. Hasilnya menunjukkan tanda-tanda awal Alzheimer yang kemudian dikaitkan dengan kondisi sosial dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Baca juga :
Ini Manfaat Berpuasa untuk Kesehatan Otak Anda

Penilaian dilakukan menggunakan tiga indeks, yakni Area Deprivation Index (ADI), Social Vulnerability Index (SVI), dan Environmental Justice Index (EJI). Ketiganya digunakan untuk menggambarkan tingkat ketimpangan ekonomi, sosial, dan lingkungan di suatu wilayah.

Data menunjukkan bahwa lingkungan dengan tingkat polusi tinggi, akses terbatas terhadap layanan dasar, dan tekanan sosial yang besar, berdampak langsung pada struktur otak. Terjadi penipisan korteks, aliran darah yang terganggu, serta sirkulasi otak yang tidak merata. Semua ini merupakan penanda awal gangguan kognitif.

Baca juga :
Tanpa Disadari, Kebiasaan Ini Membuat Kamu Mudah Lupa

Dampak paling nyata terlihat pada peserta yang tinggal di wilayah dengan skor kerentanan tertinggi. Mereka menunjukkan jejak biologis dari stres jangka panjang, seperti kerusakan jaringan otak dan tekanan pada sistem vaskular.

Kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akibat dari puluhan tahun kebijakan yang timpang. Segregasi, zonasi industri, hingga kurangnya investasi publik menjadi penyebab utama terbentuknya lingkungan yang membebani otak.

Baca juga :
Rutin Konsumsi Roti Kemasan Dikaitkan dengan Risiko Demensia

Menurut Sudarshan Krishnamurthy, penulis utama studi ini, faktor-faktor seperti kualitas udara, keamanan perumahan, akses terhadap makanan sehat, hingga peluang ekonomi memiliki pengaruh mendalam terhadap otak manusia. Bahkan, pengaruh ini tetap terlihat meski faktor kesehatan pribadi seperti tekanan darah atau kolesterol sudah diperhitungkan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi dan lingkungan tempat seseorang tinggal dapat meninggalkan jejak yang bertahan lama pada kesehatan otak,” ujar dia dikutip Earth, Sabtu (18/10).

Krishnamurthy menambahkan bahwa perbaikan kondisi otak masyarakat tak cukup dilakukan melalui pendekatan medis saja. Ia menekankan pentingnya intervensi kebijakan di tingkat lingkungan, seperti perencanaan kota, sistem transportasi, hingga penyediaan ruang hijau.

“Faktor sosial berbasis lokasi mungkin sebagian dapat mencerminkan dampak dari rasisme struktural terhadap kesehatan otak,” ujar dia.

Indeks seperti ADI, SVI, dan EJI dapat digunakan pemerintah untuk memetakan wilayah yang paling rentan dan membutuhkan bantuan segera. Melalui kebijakan berbasis data, sumber daya bisa dialokasikan secara lebih adil dan tepat sasaran.

Langkah konkret seperti pengurangan polusi, peningkatan kualitas udara, dan penyediaan layanan kesehatan yang merata bisa menjadi bagian dari strategi perlindungan otak jangka panjang. Ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi juga peran penting bagi arsitek kota, lembaga pendidikan, hingga pengambil kebijakan.

Ke depan, tim peneliti berencana memperluas studi ini dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan melakukan pemantauan jangka panjang. Mereka juga ingin mengetahui apakah pindah ke lingkungan yang lebih sehat dapat mengurangi risiko demensia.

Penelitian ini membuka peluang untuk mengeksplorasi bagaimana interaksi sosial, keterlibatan budaya, dan hubungan antarwarga bisa menjadi penyangga terhadap dampak negatif lingkungan. (*)

Studi ini didanai oleh National Institutes of Health dan American Heart Association, dan dipublikasikan di jurnal Alzheimer’s & Dementia: Behavior & Socioeconomics of Aging. Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Ketimpangan sosial Kesehatan Otak Ketimpangan Lingkungan Risiko Demensia

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777