https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Membumikan Filsafat Jadi Tantangan Besar Para Akademisi

Syafira | Jum'at, 29/08/2025 22:30 WIB



Perlunya gerakan yang mampu membumikan filsafat agar tidak berhenti sebagai teori, melainkan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Dosen Filsafat, Otong Sulaeman (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua STAI Sadra, Otong Sulaeman mengatakan, membumikan filsafat menjadi tantangan besar bagi akademisi dan kampus. Hal ini dikarenakan filsafat dipandang terlalu melangit, dan dikenalkan dengan cara yang keliru, sehingga banyak orang enggan mempelajarinya.

“Dipelajari oleh orang yang kadang-kadang motivasinya gaya-gayaan, untuk menunjukkan bahwa dia punya kemampuan untuk beretorika, tapi bukan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang terjadi,” ujar Otong saat ditemui di Kampus STAI Sadra, Kamis (28/08/2025).

Ia menekankan perlunya gerakan yang mampu membumikan filsafat agar tidak berhenti sebagai teori, melainkan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Baca juga :
Menko Yusril Pastikan Pemerintah Senang Jika Kritik Akademisi Makin Tajam

Hal ini menjadi salah satu upaya yang tengah dilakukan STAI Sadra. Sebagaimana nama Sadra yang diusung, kampus tersebut diharapkan dapat melahirkan Neo-Sadrian, yakni generasi yang mampu mengimplementasikan pemikiran-pemikiran Mulla Sadra dalam kehidupan sosial.

Dengan begitu, menurutnya peranan anak muda, terutama mahasiswa sangat menentukan arah masa depan filsafat, karena setiap perubahan di masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kontribusi generasi muda.

Baca juga :
10+ Filsuf Iran Paling Berpengaruh di Dunia, dari Al-Ghazali-Mulla Sadra

“Artinya dia secara akal makin matang, makin dewasa sampai di titik itu, kemudian secara fisiknya memungkinkan untuk melakukan apa pun yang menjadi idealismenya,” kata Otong.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, ilmu-ilmu memiliki fungsi masing-masing, namun filsafat berperan sebagai kunci sekaligus memberikan sumbangsih besar dalam perkembangan pengetahuan.

Baca juga :
Akademisi USU: Banjir Akibat Akumulasi Cara Memperlakukan Tanah

Karena itu, menurutnya tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari filsafat. Bahkan seseorang yang kehilangan jati diri hakikatnya tetap memiliki falsafah hidup.

“Kehilangan jati diri, pada akhirnya sebenarnya mau tidak mau ada falsafah hidup yang dia pegang, cuma falsafah hidup yang mana, selama ini yang salah, namanya nihilisme,” kata dia.

Ketua STAI Sadra itu menegaskan bahwa setiap orang sesungguhnya menganut filsafat tertentu, meskipun dalam beberapa kasus, filsafat tersebut diyakini sebagai sesuatu yang keliru.

(Bunga Adinda/Magang berkontribusi pada artikel ini)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Filsafat Akademisi Kampus Sadra

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777