Gaya Hidup

Perempuan Lebih Mudah Kedinginan, Peneliti Temukan Petunjuknya

Perempuan sering merasa lebih cepat kedinginan dibandingkan laki-laki, bahkan ketika berada di ruangan dengan suhu yang sama
Ilustrasi - Perempuan sedang kedinginan (Foto: Hello Sehat)

Jakarta, Jurnas.com - perempuan-menanggung-beban-paling-besar-dalam-rumah-tangga/" rel="noopener noreferrer" target="_blank">Perempuan sering merasa lebih cepat kedinginan dibandingkan laki-laki, bahkan ketika berada di ruangan dengan suhu yang sama. Perbedaan ini ternyata mungkin tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan atau kondisi tubuh, tetapi juga cara saraf di kulit mendeteksi suhu dan pengaruh hormon testosteron.

Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang diterbitkan pada 28 Oktober di jurnal The Journal of Physiology. Melalui eksperimen terhadap tikus, para peneliti menemukan bahwa sensor suhu pada kulit tikus betina merespons perubahan temperatur secara berbeda dibandingkan tikus jantan.

Perbedaan respons itu membuat tikus betina cenderung memilih lingkungan yang lebih hangat. Rata-rata suhu permukaan yang disukai tikus jantan sekitar 32 derajat Celsius, sedangkan tikus betina memilih suhu sekitar 36 derajat Celsius. Selisihnya mencapai 4 derajat Celsius.

Salah satu faktor yang berperan dalam perbedaan tersebut adalah testosteron, hormon yang kadarnya umumnya lebih tinggi pada jantan.

Peter McNaughton, farmakolog dari King's College London sekaligus salah satu penulis penelitian, mengatakan temuan ini bukan sekadar pengamatan mengenai kebiasaan hewan. Hasilnya berpotensi memiliki implikasi praktis, termasuk dalam merancang bangunan dan ruang yang dapat mengakomodasi kebutuhan suhu berbeda.

Sensor suhu di kulit memengaruhi pilihan lingkungan

Kulit memiliki protein sensor pada ujung saraf yang bertugas mendeteksi panas dan dingin. Ketika sensor tersebut aktif, ion bermuatan masuk ke dalam sel saraf sensorik dan memicu sinyal listrik yang kemudian diteruskan ke otak.

Michael Caterina, ahli saraf dari Johns Hopkins University yang tidak terlibat dalam penelitian, menjelaskan bahwa protein tersebut bekerja seperti generator listrik kecil pada ujung saraf.

Sinyal yang dikirimkan sel saraf kemudian diproses oleh jaringan saraf di otak sehingga tubuh dapat merasakan kondisi panas atau dingin. Respons inilah yang ikut memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan di suatu lingkungan atau berpindah ke tempat lain.

Perbedaan preferensi suhu juga ditemukan pada sejumlah spesies lain. Tikus dan burung betina, misalnya, diketahui cenderung menyukai suhu yang sedikit lebih hangat dibandingkan pejantan.

Untuk meneliti penyebabnya, tim melibatkan 30 tikus jantan dan 27 tikus betina. Mereka ditempatkan di atas dua pelat yang bersebelahan, dengan satu pelat bersuhu tetap 33 derajat Celsius dan pelat lainnya memiliki suhu yang dapat diubah.

Kamera kemudian merekam pergerakan tikus dan menghitung berapa lama masing-masing hewan berada di setiap pelat.

Ketika pelat kedua memiliki suhu lebih rendah, tikus jantan maupun betina lebih banyak menghabiskan waktu di pelat bersuhu 33 derajat Celsius. Namun, ketika suhu pelat kedua dinaikkan menjadi 38 derajat Celsius, tikus betina menghabiskan waktu lebih lama di permukaan yang lebih hangat dibandingkan tikus jantan.

Para peneliti juga mengukur suhu internal dan suhu kulit kedua kelompok tikus. Hasilnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan di antara keduanya.

Menurut McNaughton, bagian atas kandang yang terbuka memastikan suhu udara tidak menjadi faktor yang memengaruhi pilihan tikus. Dengan demikian, perbedaan preferensi tersebut berkaitan dengan respons sensor suhu pada kulit.

Perubahan protein sensor mengubah preferensi suhu

Peneliti kemudian menguji peran protein yang mendeteksi panas dengan menghilangkan protein tersebut melalui rekayasa genetik pada tikus.

Pada tikus jantan, penghilangan protein itu mengurangi kecenderungan mereka menghindari permukaan yang lebih panas. Preferensi suhu mereka pun meningkat menjadi sekitar 35 derajat Celsius, mendekati pilihan suhu tikus betina.

Namun, penghilangan atau pemblokiran protein pendeteksi panas tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap preferensi suhu tikus betina.

Tim juga menguji protein yang berfungsi mendeteksi dingin. Ketika protein tersebut dihilangkan atau diblokir, tikus jantan dan betina menjadi tidak terlalu menghindari permukaan bersuhu rendah.

Pada tikus betina, perlakuan tersebut juga mengurangi waktu yang mereka habiskan di permukaan hangat. Sementara itu, preferensi suhu tikus jantan tidak berubah.

Caterina menjelaskan bahwa tikus betina tampaknya sedikit lebih responsif terhadap aktivasi reseptor dingin dan sedikit kurang responsif terhadap reseptor panas.

Testosteron menjadi faktor penting dalam perbedaan suhu

Untuk mengetahui apakah hormon berperan dalam perbedaan tersebut, peneliti melakukan eksperimen terhadap produksi testosteron.

Sekelompok tikus jantan diberi obat yang menghambat produksi hormon tersebut. Beberapa minggu setelah perlakuan, tikus-tikus itu menghabiskan lebih banyak waktu di pelat bersuhu 38 derajat Celsius dibandingkan tikus jantan dengan kadar testosteron normal.

Sebaliknya, tikus betina yang diberi testosteron kehilangan kecenderungannya memilih suhu lebih hangat.

Peneliti juga menguji pengaruh hormon estrogen dan progesteron dengan memberikan hormon tersebut kepada tikus jantan serta memblokirnya pada tikus betina. Hasilnya, perlakuan tersebut tidak mengubah preferensi suhu kedua kelompok.

Temuan ini mengarahkan peneliti pada kesimpulan bahwa testosteron merupakan salah satu faktor paling penting dalam perbedaan preferensi suhu antara jantan dan betina.

“Jadi, tampaknya testosteron merupakan faktor penentu yang paling penting,” kata McNaughton.

Meski demikian, perubahan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan perbedaan antara kedua kelompok. Artinya, masih ada faktor lain yang belum berhasil diidentifikasi oleh para peneliti.

Mekanisme pasti bagaimana testosteron memengaruhi protein sensor suhu juga belum diketahui. Karena perubahan terjadi setelah beberapa minggu, peneliti menduga hormon tersebut tidak bekerja secara langsung pada protein, melainkan mungkin memengaruhi aktivitas gen. Dugaan ini masih membutuhkan penelitian lanjutan.

Apakah temuan ini berlaku pada manusia?

Penelitian tersebut belum melakukan pengujian langsung terhadap manusia. Namun, McNaughton mencatat bahwa protein sensor suhu yang diteliti juga terdapat pada manusia. Sejumlah penelitian pada manusia pun menunjukkan bahwa protein tersebut memiliki perilaku yang serupa.

Karena itu, temuan pada tikus dapat menjadi petunjuk untuk memahami mengapa perempuan dan laki-laki memiliki preferensi suhu berbeda. Meski begitu, hasil eksperimen hewan ini belum cukup untuk memastikan bahwa mekanisme yang sama sepenuhnya berlaku pada manusia.

Caterina menilai penelitian tersebut memberikan informasi penting mengenai cara kerja protein yang bertanggung jawab mendeteksi suhu. Pemahaman lebih jauh mengenai mekanisme ini juga berpotensi membantu penelitian kondisi seperti nyeri neuropatik, ketika seseorang mengalami peningkatan sensitivitas terhadap panas maupun dingin.

Menurutnya, memahami sinyal yang membentuk pengalaman manusia terhadap suhu merupakan bagian penting untuk mengenali cara tubuh bekerja. (*)

Sumber: Live Science