Jakarta, Jurnas.com - Hampir satu miliar orang di dunia terpapar gelombang panas dan asap kebakaran hutan dalam tahun yang sama. Indonesia termasuk lima negara dengan akumulasi paparan tertinggi, berdasarkan analisis global terhadap data selama periode 2000–2019.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances itu memperkirakan sekitar 916 juta orang setiap tahun mengalami setidaknya satu hari ketika gelombang panas dan polusi asap kebakaran terjadi bersamaan. Jumlah tersebut bertambah sekitar 287 juta orang setiap dekade.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa ancaman gabungan gelombang panas dan asap kebakaran tidak hanya terkonsentrasi di negara-negara yang selama ini dikenal memiliki persoalan kebakaran hutan. Sejumlah negara di Afrika justru mencatat jumlah hari paparan per orang paling tinggi.
Lima negara menyumbang sekitar setengah dari seluruh akumulasi hari paparan pada periode 2010–2019, yakni Republik Demokratik Kongo, Indonesia, Meksiko, Brasil, dan Rusia.
Jika dihitung berdasarkan rata-rata jumlah hari paparan per orang, Zambia menempati posisi pertama dengan 28,8 hari per tahun. Republik Demokratik Kongo berada di urutan kedua dengan 24,3 hari, disusul Malawi sebanyak 21,7 hari.
Gelombang panas menjadi penyebab utama peningkatan paparan
Penelitian yang dipimpin Yao Wu dari School of Public Health and Preventive Medicine, Monash University, Australia, bersama Yuming Guo dan Shanshan Li itu melibatkan peneliti dari Peking University dan University of Tasmania.
Tim peneliti mencocokkan data suhu harian dengan perkiraan konsentrasi asap kebakaran di atmosfer. Penghitungan dilakukan pada setiap petak wilayah berukuran sekitar 28 kilometer, kemudian dipadukan dengan peta persebaran penduduk untuk memperkirakan jumlah orang yang terpapar.
Hasilnya menunjukkan rata-rata hari paparan gabungan per orang meningkat dari 1 hari per tahun pada dekade pertama menjadi 1,7 hari pada dekade kedua.
Dari total peningkatan tersebut, sebanyak 70,5 persen disebabkan semakin seringnya masyarakat mengalami gelombang panas dan asap kebakaran secara bersamaan. Sementara itu, 29,5 persen lainnya berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
“Dengan kata lain, masalah ini terutama membesar karena masyarakat semakin sering mengalami kedua bahaya tersebut secara bersamaan, bukan hanya karena jumlah penduduk bertambah,” kata Wu dalam wawancara dengan Earth.com.
Peningkatan gelombang panas menjadi faktor dominan. Hari-hari dengan gelombang panas bertambah di 87 persen wilayah yang dianalisis, sedangkan hari-hari dengan paparan asap kebakaran meningkat di 28 persen wilayah, terutama di Amerika Utara.
Peneliti juga menemukan pola waktu yang menarik. Secara global, kemungkinan dimulainya episode asap kebakaran mulai meningkat sekitar dua hari sebelum gelombang panas terjadi dan mencapai puncaknya pada hari pertama gelombang panas.
Afrika menanggung beban paparan terbesar
Berdasarkan akumulasi hari paparan penduduk, Afrika menyumbang sekitar 39 persen dari total paparan gabungan di seluruh dunia. Satu hari paparan dalam penghitungan ini berarti satu orang mengalami kedua bahaya tersebut selama satu hari.
Kesenjangan juga terlihat berdasarkan tingkat pendapatan negara. Penduduk negara berpendapatan rendah rata-rata mengalami 4,4 hari paparan gabungan setiap tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk negara berpendapatan tinggi yang rata-rata hanya 0,4 hari.
Perbedaan tersebut semakin melebar selama dua dekade pengamatan karena negara-negara berpendapatan rendah mencatat peningkatan paparan paling cepat.
Wu mengatakan negara yang mengalami paparan tertinggi belum tentu merupakan negara yang paling banyak mendapat perhatian internasional terkait kebakaran hutan.
Cambodia menjadi salah satu negara dengan perubahan paling mencolok. Pada dekade pertama, negara tersebut berada di peringkat ke-40 dengan rata-rata 1,6 hari paparan per orang setiap tahun. Namun, pada dekade kedua, posisinya naik ke peringkat kesembilan dengan rata-rata 12,1 hari.
Menurut Wu, peningkatan itu menarik karena terjadi ketika Kamboja mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi tidak selalu diikuti penurunan paparan terhadap bahaya lingkungan.
Republik Demokratik Kongo juga mengalami peningkatan besar. Rata-rata paparan di negara tersebut naik dari 11,8 hari per orang per tahun pada dekade pertama menjadi 24,3 hari pada dekade kedua.
Sementara itu, Eropa dan Oseania mencatat sedikit penurunan paparan. Namun, perubahan tersebut terlalu kecil untuk dipastikan bukan sekadar variasi statistik.
Cara melindungi diri dari panas dan asap kebakaran
Wu menyarankan masyarakat untuk memperhatikan peringatan gelombang panas dan kualitas udara secara bersamaan ketika kedua bahaya tersebut terjadi. Aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga berat, sebaiknya dibatasi.
Masyarakat juga dianjurkan berada di tempat yang sejuk dengan udara bersih, menggunakan pendingin ruangan dan penyaring udara jika tersedia, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Namun, perlindungan dari panas dan asap terkadang membutuhkan langkah yang berbeda. Membuka jendela, misalnya, dapat membantu menurunkan suhu di dalam rumah, tetapi sekaligus memungkinkan asap masuk.
Bagi rumah tangga yang tidak memiliki pendingin atau penyaring udara, Wu menyarankan penggunaan peneduh pada jendela serta mengurangi sumber panas di dalam rumah. Pilihan lainnya adalah memanfaatkan ruang publik yang menyediakan tempat sejuk dengan kualitas udara lebih bersih.
Kelompok lanjut usia, anak-anak, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu perlu mendapat perhatian khusus.
Penelitian belum mengukur dampak langsung terhadap kesehatan
Meski memperlihatkan besarnya populasi yang terpapar, penelitian ini tidak menghitung jumlah orang yang jatuh sakit akibat kombinasi gelombang panas dan asap kebakaran. Analisis tersebut hanya mengukur paparan, bukan dampak kesehatan yang dialami setiap individu.
Data asap yang digunakan berasal dari pemodelan atmosfer dan diperiksa menggunakan hasil pengukuran stasiun pemantau kualitas udara di wilayah yang memilikinya. Model tersebut masih memiliki keterbatasan dalam memperkirakan ketinggian kepulan asap, sehingga berpotensi melebihkan polusi di sekitar lokasi kebakaran dan meremehkan paparan di wilayah yang lebih jauh.
Penghitungan juga tidak memasukkan karbon monoksida.
Keterbatasan lainnya adalah periode penelitian yang hanya mencakup data hingga akhir 2019. Wu memperingatkan bahwa gelombang panas dan kebakaran yang terjadi setelah periode tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa paparan gabungan terus meningkat, khususnya di negara berpendapatan rendah. Namun, tim peneliti belum dapat memberikan angka untuk perkembangan setelah 2019.
Penelitian selanjutnya akan diarahkan untuk mengkaji dampak paparan gabungan terhadap kesehatan, terutama di negara-negara yang selama ini masih minim diteliti. Pemetaan tersebut juga diharapkan dapat membantu pengembangan sistem peringatan dini yang memperhitungkan gelombang panas dan asap kebakaran secara bersamaan. (*)
Sumber: Earth





