Jakarta, Jurnas.com - Polusi ozon di permukaan bumi mencapai tingkat mengkhawatirkan sepanjang 2026. Analisis terbaru Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) memperkirakan hanya sekitar 5 persen penduduk dunia yang menghirup udara dengan kadar ozon dalam kategori baik menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebaliknya, hampir 40 persen populasi dunia terpapar ozon dalam kategori terburuk yang dipantau CAMS. Asia menjadi kawasan dengan tingkat paparan paling tinggi, disusul sejumlah wilayah di Amerika Utara dan Eropa yang juga mengalami kualitas udara tidak sehat.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan Atmosphere Watch 2026 yang diterbitkan CAMS pada 30 September. Laporan ini mencakup pemantauan ozon, asap kebakaran hutan, dan debu gurun selama periode 1 Januari hingga 15 September 2026.
Direktur CAMS Laurence Rouil mengatakan, salah satu temuan paling menonjol tahun ini adalah banyaknya peristiwa polusi berskala besar yang terjadi dalam waktu berdekatan.
"Ketika kami menggabungkan sejumlah besar data yang dihasilkan CAMS setiap hari, temuan paling mencolok adalah lebih dari separuh populasi dunia masih terpapar tingkat polusi udara yang tidak sehat," kata Rouil dalam jawaban tertulis kepada Earth.com melalui kantor pers Copernicus.
Ozon di Permukaan Bumi Berbeda dengan Pelindung Atmosfer
Ozon selama ini dikenal sebagai gas di lapisan atmosfer atas yang membantu melindungi bumi dari radiasi ultraviolet matahari. Namun, ozon yang terbentuk di dekat permukaan bumi justru menjadi salah satu polutan udara yang dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Ozon permukaan tidak dilepaskan secara langsung dari kendaraan, pabrik, atau sumber polusi lainnya. Gas ini terbentuk melalui reaksi nitrogen oksida hasil pembakaran bahan bakar dengan senyawa organik yang berasal dari lalu lintas, kegiatan industri, pelarut rumah tangga, tumbuhan, hingga kebakaran hutan.
Sinar matahari dan suhu panas mempercepat proses pembentukan ozon tersebut. Kondisi cuaca panas dan minim angin juga membuat konsentrasinya lebih mudah meningkat di suatu wilayah.
Ozon di dekat permukaan bumi dapat bertahan selama beberapa hari. Sementara itu, ozon di lapisan atmosfer yang lebih tinggi bisa bertahan selama beberapa pekan sehingga memungkinkan gas tersebut berpindah melintasi perbatasan negara bahkan samudra.
Dampak perpindahan polutan ini terlihat dalam analisis CAMS terhadap gelombang panas pada 28 Juli. Di Bergamo, Italia, ozon yang terbawa dari wilayah lain di Belahan Bumi Utara diperkirakan memberikan kontribusi sebesar seluruh sumber emisi manusia di Eropa jika digabungkan.
Asia Mengalami Paparan Ozon Terburuk
CAMS memperkirakan sekitar enam dari 10 penduduk Asia terpapar ozon dalam kategori sangat buruk. Bahkan, sembilan dari 10 penduduk kawasan tersebut mengalami kualitas udara dalam kategori buruk atau lebih parah.
Sejumlah kota yang mencatat paparan ozon tertinggi di masing-masing kawasan antara lain Delhi, Kairo, Milan, Mexico City, dan Rio de Janeiro.
Di Eropa, sekitar separuh penduduk mengalami kualitas udara buruk atau lebih parah selama musim panas 2026. Gelombang panas yang terjadi berulang kali turut mendorong peningkatan konsentrasi ozon.
CAMS mencatat Eropa telah berhasil menurunkan berbagai polutan yang diatur dalam undang-undang kualitas udaranya, kecuali ozon. Standar Eropa membatasi frekuensi konsentrasi ozon melampaui 120 mikrogram per meter kubik, tetapi sejumlah wilayah masih kesulitan menghadapi peningkatan kadarnya.
Sementara itu, lebih dari dua pertiga penduduk Amerika Utara terpapar ozon dalam kategori buruk atau lebih parah. Paparan terutama terjadi di wilayah pesisir timur dan barat Amerika Serikat serta kota-kota besar.
Laporan tersebut menyebut penurunan emisi selama beberapa dekade belum banyak mengubah tingkat ozon di kawasan itu. Salah satu faktor yang turut berkontribusi adalah kebakaran hutan yang menyediakan bahan pembentuk ozon.
Kondisi lebih baik tercatat di Oseania, Amerika Selatan, dan sebagian besar Afrika. Seluruh penduduk Oseania, 81 persen penduduk Amerika Selatan, serta 56 persen penduduk Afrika diperkirakan mengalami paparan ozon dalam kategori baik atau sedang.
Asap Kebakaran Hutan dan Debu Melintasi Wilayah
Selain ozon, laporan CAMS menyoroti penyebaran asap kebakaran hutan dan debu gurun yang memengaruhi kualitas udara hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari sumbernya.
Pada 22 Juli, kebakaran di wilayah Gironde dan Landes, Prancis, menghanguskan hampir 50.000 hektare lahan dan memaksa sekitar 40.000 orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Asap kebakaran tersebut menyebar hingga mencemari udara di wilayah yang berjarak ratusan kilometer.
Kebakaran di sekitar Ávila dan Madrid, Spanyol, juga menghanguskan area dengan luas serupa dan menyebabkan sekitar 56.000 orang mengungsi.
Pada Agustus, kebakaran di High Fens menjadi peristiwa kebakaran terbesar di Belgia dalam satu abad terakhir. Asapnya menyebar melewati Jerman hingga mencapai Polandia.
Di Amerika Utara, asap kebakaran hutan dari Northwest Territories dan Ontario, Kanada, bergerak menuju wilayah utara Amerika Serikat pada Juli. Sejumlah kota, mulai dari Chicago hingga Philadelphia, mengeluarkan peringatan kualitas udara beberapa hari sebelum final Piala Dunia di New Jersey. Hujan badai kemudian membantu membersihkan udara menjelang pertandingan.
Indonesia juga mengalami dampak kebakaran lahan gambut di Kalimantan. CAMS mencatat kebakaran gambut yang diperburuk oleh kondisi El Niño yang berkembang mendorong konsentrasi partikel halus di udara hingga mencapai beberapa ratus mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, debu dari Gurun Sahara melintasi Samudra Atlantik menuju kawasan Karibia. Kepulauan Canary bahkan menjadi wilayah dengan peringatan debu terbanyak di Eropa.
WHO Sarankan Kurangi Aktivitas Berat di Luar Ruangan
Menghadapi peningkatan ozon, CAMS mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan prakiraan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Rouil mengatakan, prakiraan ozon kini tersedia secara luas dan semakin dapat diandalkan. Informasi tersebut memungkinkan masyarakat mengambil langkah pencegahan sebelum episode polusi mencapai puncaknya.
WHO menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas fisik berat atau berkepanjangan di luar ruangan, terutama pada sore hari ketika konsentrasi ozon dapat meningkat.
Anak-anak, orang lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit kardiovaskular juga perlu mengambil tindakan pencegahan tambahan.
Rouil menegaskan, langkah untuk mengurangi polusi udara sebenarnya telah diketahui. Pengalaman Eropa menunjukkan regulasi selama beberapa dekade mampu menurunkan kadar sulfur dioksida, partikel halus, dan nitrogen dioksida. Upaya pengendalian emisi tersebut perlu terus dilanjutkan.
Data Paparan Ozon Berasal dari Pemodelan Global
Angka paparan dalam laporan CAMS bukan berasal dari pengukuran langsung di setiap rumah atau lokasi tempat tinggal penduduk. Data tersebut merupakan hasil pemodelan global yang menggabungkan pengamatan satelit, stasiun pemantauan di darat, serta peta persebaran populasi.
Model yang digunakan melacak lebih dari 50 jenis bahan kimia di atmosfer untuk memperkirakan tingkat paparan di wilayah yang tidak memiliki alat pemantau kualitas udara.
Dalam analisisnya, CAMS menggunakan metode pengukuran yang mengacu pada pedoman WHO, yakni konsentrasi ozon tertinggi selama delapan jam setiap hari yang kemudian dirata-ratakan selama enam bulan dengan tingkat paparan terburuk.
WHO menetapkan pedoman ozon sebesar 60 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, CAMS mengategorikan konsentrasi di atas 110 mikrogram per meter kubik sebagai kualitas udara sangat buruk. Hampir 40 persen penduduk dunia diperkirakan masuk dalam kategori paparan tersebut.
Laporan yang mencakup data hingga 15 September 2026 itu belum menghitung jumlah kematian akibat paparan ozon sepanjang tahun ini. Sebagai gambaran, WHO memperkirakan polusi udara luar ruangan menyebabkan lebih dari 4 juta kematian dini setiap tahun.
CAMS juga menyebut hubungan antara kebakaran hutan di Eropa dan peningkatan ozon musim panas masih terus diteliti. Di tengah kondisi El Niño yang semakin berkembang dan kebakaran yang telah terjadi di Indonesia, lembaga tersebut memperkirakan kebakaran hutan masih akan menjadi perhatian dalam beberapa bulan mendatang. (*)
Sumber: Earth





