Gaya Hidup

Asap Karhutla Dikaitkan dengan Risiko Autisme Anak, Ini Temuan Peneliti

Bagikan:FacebookX
Ilustrasi : Paparan asap kebakaran hutan selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko diagnosis autisme pada anak (Foto: Via Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Paparan asap kebakaran hutan selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko diagnosis autisme pada anak. Studi terhadap 893.212 ibu dan anak di Amerika Serikat menemukan bahwa hubungan tersebut paling kuat ketika paparan terjadi pada pertengahan hingga akhir masa kehamilan.

Penelitian yang dipimpin Stefania Papatheodorou dari Rutgers School of Public Health bersama peneliti Harvard dan sejumlah institusi lain itu menganalisis catatan kesehatan anak yang lahir pada 2007–2014. Hasilnya menunjukkan, perbedaan paparan partikel asap kebakaran hutan sebesar 0,75 mikrogram per meter kubik udara, yang dirata-ratakan sepanjang kehamilan, berkaitan dengan peningkatan risiko diagnosis autisme sebesar 30 persen.

Selama masa pemantauan, sebanyak 8.357 anak tercatat menerima diagnosis autisme. Peneliti memperkirakan sekitar 1,9 persen anak akan menerima diagnosis tersebut pada usia delapan tahun.

Meski demikian, angka kenaikan 30 persen merupakan peningkatan risiko relatif, bukan kenaikan sebesar 30 poin persentase. Sebagian besar anak, termasuk yang terpapar asap lebih tinggi, tidak menerima diagnosis autisme.

Peneliti juga menegaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan statistik dan tidak membuktikan asap kebakaran hutan secara langsung menyebabkan autisme.

“Asap kebakaran hutan dapat menyebar jauh melampaui wilayah tempat kebakaran terjadi, dan paparan asap dapat terjadi meskipun asap tersebut tidak terlihat,” kata Papatheodorou.

Untuk memperkirakan paparan, peneliti menggunakan model komputer yang melacak polusi dari kebakaran hutan setiap minggu. Analisis berfokus pada partikel halus PM2.5, yakni partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Penelitian yang sama tidak menemukan hubungan yang kuat antara paparan asap kebakaran hutan dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Perbedaan paparan yang sama dikaitkan dengan peningkatan risiko ADHD sebesar 3 persen, tetapi peneliti tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa hubungan tersebut terjadi secara kebetulan.

Peneliti belum menguji secara langsung mekanisme yang mungkin menghubungkan paparan asap dengan perkembangan otak janin. Salah satu kemungkinan yang dibahas adalah peradangan akibat partikel halus yang masuk ke paru-paru dan memengaruhi tubuh.

Studi lain terhadap 8,6 juta kelahiran di California pada 2001–2019 juga menemukan hubungan antara asap kebakaran hutan dan autisme. Namun, hubungan dengan paparan rata-rata relatif lemah, sedangkan kaitan lebih jelas terlihat pada paparan berat dan peristiwa asap berintensitas tinggi.

Kedua penelitian tersebut sama-sama menunjukkan adanya hubungan, tetapi masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan temuan dan memahami dampaknya.

Penelitian terbaru ini memiliki keterbatasan karena paparan diperkirakan berdasarkan wilayah tempat tinggal ibu, bukan jumlah asap yang benar-benar dihirup. Selain itu, seluruh keluarga yang diteliti menggunakan Medicaid sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada populasi lain.

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan tersebut dan memahami lebih baik potensi dampak asap kebakaran hutan,” kata Papatheodorou.

Ia menyarankan ibu hamil memantau informasi kualitas udara dan perkembangan kebakaran hutan, termasuk yang terjadi jauh dari tempat tinggal. Ketika polusi meningkat, masyarakat dapat membatasi aktivitas di luar ruangan, mencegah asap masuk ke rumah, serta menggunakan penyaring udara jika tersedia.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics. (*)

Sumber: Earth