Jakarta, Jurnas.com - Anak orangutan tidak hanya mengandalkan induknya untuk mengenal makanan di hutan. Mereka juga belajar melalui eksplorasi mandiri, mulai dari memegang benda hingga mencoba bahan makanan yang belum pernah dicicipi. Kombinasi kedua cara belajar ini berkaitan dengan kemampuan mereka mengenal lebih banyak jenis makanan sebelum hidup mandiri.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Revathe Thillaikumar, peneliti pascadoktoral di Max Planck Institute of Animal Behavior, Jerman, bersama sejumlah peneliti dari Universitas Nasional Indonesia dan institusi lainnya. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Science.
Tim peneliti menganalisis data pengamatan lapangan selama 12 tahun terhadap 21 anak orangutan di Suaq Balimbing, Sumatra. Penelitian ini mengkaji bagaimana pembelajaran sosial, yakni belajar dengan mengamati individu lain, bekerja bersama pembelajaran individual melalui eksplorasi langsung.
Dalam wawancara dengan Earth.com, Thillaikumar menjelaskan bahwa kemampuan hewan selama ini kerap dipahami seolah-olah hanya mengandalkan salah satu dari dua pendekatan tersebut.
“Kita sering menganggap hewan menggunakan pembelajaran sosial atau pembelajaran individual untuk mengembangkan keterampilan mereka,” kata Thillaikumar.
Anak orangutan perlu waktu delapan tahun untuk mengenal makanan di hutan
Bagi orangutan Sumatra yang berstatus kritis terancam punah, mengenali makanan bukan perkara sederhana. Orangutan dewasa diketahui mengonsumsi sekitar 250 jenis makanan yang dipilih dari ribuan pilihan yang tersedia di hutan.
Sebagian makanan harus diolah terlebih dahulu sebelum dapat dimakan, bahkan ada yang memerlukan alat. Anak orangutan perlu mempelajari jenis makanan yang bisa dikonsumsi, cara menyiapkannya, serta waktu dan lokasi untuk menemukannya.
Proses tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Anak orangutan tinggal bersama induknya selama sekitar delapan tahun sebelum hidup mandiri. Masa ini menjadi kesempatan penting untuk mempelajari keterampilan yang dibutuhkan agar dapat mencari makan sendiri.
Dalam penelitian tersebut, peneliti menilai keluasan pola makan berdasarkan jumlah jenis makanan yang dikonsumsi anak orangutan sebelum berpisah dari induknya. Makanan hanya dihitung jika anak orangutan menelannya tanpa terlebih dahulu disiapkan oleh induknya.
Selama sekitar 4.700 jam pengamatan, tim mencatat 303 jenis makanan yang dikonsumsi oleh 13 dari 21 anak orangutan yang diteliti.
Anak orangutan mengamati induk, lalu mencoba sendiri
Peneliti membedakan dua perilaku utama dalam proses belajar anak orangutan. Pertama, peering, yaitu mengamati individu lain dari jarak dekat ketika sedang makan. Perilaku ini memungkinkan anak orangutan memperhatikan makanan yang dipilih dan cara individu lain mengonsumsinya.
Kedua, eksplorasi individual, yakni ketika anak orangutan menangani suatu benda selama beberapa waktu, merusaknya, atau mencoba memakan sesuatu tanpa benar-benar menelannya.
Dalam lebih dari 1.700 jam pengamatan terperinci, peneliti mencatat 2.113 kejadian peering dan 4.649 kejadian eksplorasi.
Sekilas, angka tersebut menunjukkan bahwa anak orangutan lebih sering mengeksplorasi daripada mengamati. Namun, analisis waktu memperlihatkan bahwa sebagian besar eksplorasi berlangsung setelah mereka melihat individu lain makan.
Rata-rata, aktivitas eksplorasi anak orangutan tetap berada di atas tingkat biasanya selama sekitar dua setengah jam setelah mereka terakhir melakukan peering. Dari 4.649 kejadian eksplorasi yang tercatat, hanya 414 yang berlangsung setelah jeda lebih dari periode tersebut.
Dengan demikian, sebagian besar eksplorasi kemungkinan berkaitan dengan makanan yang baru saja mereka lihat dikonsumsi orangutan lain. Eksplorasi yang benar-benar dilakukan secara mandiri diperkirakan terjadi sekitar sekali setiap empat jam pengamatan, atau sekitar seperlima frekuensi peering.
Temuan ini memperlihatkan bahwa proses belajar melalui pengamatan dan praktik langsung tidak selalu berlangsung secara terpisah. Anak orangutan dapat mengamati terlebih dahulu, kemudian mengeksplorasi makanan yang baru dikenalnya.
Anak orangutan punya cara belajar berbeda
Meski berada di lokasi penelitian yang sama, setiap anak orangutan menunjukkan pola belajar yang berbeda. Ada yang lebih sering mengamati individu lain, sementara yang lain lebih banyak melakukan eksplorasi secara mandiri.
Dalam analisisnya, tim memperhitungkan usia dan jenis kelamin anak orangutan, ketersediaan makanan di hutan pada saat pengamatan, serta jumlah orangutan lain yang berada di sekitarnya.
Dari 21 individu yang diteliti, orangutan bernama Chindy tercatat paling sering melakukan peering, sedangkan Nuk paling jarang. Besarnya perbedaan frekuensi mengamati antarindividu ini menjadi salah satu temuan yang menarik bagi para peneliti.
“Karena pembelajaran sosial diperkirakan memberikan manfaat berdasarkan teori, individu seharusnya tidak terlalu berbeda satu sama lain dalam kecenderungan mereka melakukan pembelajaran sosial,” ujar Thillaikumar kepada Earth.com.
Meski demikian, perbedaan frekuensi mengamati ternyata lebih kecil dibandingkan variasi eksplorasi mandiri. Peneliti mengemukakan bahwa belajar sendiri berpotensi membawa risiko, seperti keracunan akibat mengonsumsi makanan yang tidak sesuai atau menghadapi predator. Risiko tersebut mungkin berperan dalam mempertahankan tingkat pembelajaran sosial tertentu.
Penelitian juga tidak menemukan hubungan langsung antara kebiasaan mengamati dan eksplorasi mandiri. Anak orangutan yang sering mengamati belum tentu paling aktif bereksplorasi. Chindy, misalnya, tercatat berada di bawah rata-rata dalam eksplorasi mandiri.
Tim kemudian menggunakan model untuk memperkirakan hubungan antara frekuensi mengamati, eksplorasi mandiri, dan keluasan pola makan ketika anak orangutan mulai hidup mandiri.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa anak orangutan yang memiliki tingkat pengamatan dan eksplorasi mandiri tinggi diperkirakan mempunyai pola makan paling beragam.
Namun, manfaat pengamatan terlihat lebih besar pada individu yang jarang melakukan eksplorasi sendiri. Di antara anak orangutan dengan tingkat eksplorasi mandiri rendah, individu yang lebih sering mengamati diperkirakan memiliki ragam makanan 1,5 kali lebih luas dibandingkan individu yang jarang mengamati.
Sementara itu, pada kelompok dengan tingkat eksplorasi mandiri tinggi, perbedaan keluasan pola makan antara individu yang sering dan jarang mengamati diperkirakan sebesar 1,2 kali.
Pola tersebut tetap terlihat ketika peneliti mengubah batas waktu yang digunakan untuk membedakan eksplorasi yang berkaitan dengan pengamatan sebelumnya dan eksplorasi yang lebih mandiri.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pengamatan terhadap orangutan lain berpotensi membantu menutup sebagian keterbatasan eksplorasi individual. Meski begitu, penelitian tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti bahwa satu perilaku secara langsung menyebabkan pola makan menjadi lebih luas.
Kerusakan habitat dapat mengurangi kesempatan belajar anak orangutan
Penelitian ini tidak secara khusus mengukur dampak kerusakan habitat terhadap proses belajar orangutan. Namun, Thillaikumar mengingatkan bahwa perubahan hutan akibat aktivitas manusia berpotensi memengaruhi kesempatan anak orangutan untuk mempelajari sumber makanan.
“Gangguan yang begitu besar berpotensi memengaruhi frekuensi kesempatan belajar yang tersedia bagi mereka, sekaligus jumlah jenis makanan yang dapat mereka pelajari,” kata Thillaikumar kepada Earth.com.
Jika hutan berubah dan jenis makanan yang tersedia berkurang, anak orangutan berpotensi kehilangan kesempatan untuk mengamati orangutan lain maupun mencoba sumber makanan yang berbeda. Karena itu, perlindungan orangutan tidak hanya berkaitan dengan menjaga keberadaan individu, tetapi juga mempertahankan kondisi alam yang memungkinkan pengetahuan tentang makanan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Thillaikumar juga menyoroti pentingnya proyek penelitian jangka panjang, seperti SUAQ Project yang berbasis di Suaq Balimbing, untuk mendukung upaya memahami dan melindungi satwa liar di tengah tekanan aktivitas manusia.
Meski demikian, penelitian ini belum membuktikan bahwa anak orangutan dengan pola makan lebih beragam memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi. Tim tidak mengukur asupan energi maupun tingkat kelangsungan hidup individu yang diamati. Data keluasan pola makan juga berasal dari 13 anak orangutan di satu lokasi, sehingga hasilnya perlu ditafsirkan sesuai cakupan penelitian.
Peneliti berikutnya berharap dapat menelusuri bagaimana perbedaan cara belajar memengaruhi asupan energi, peluang bertahan hidup, dan keberhasilan orangutan dalam membesarkan keturunannya. Sri Suci Utami-Atmoko dari Universitas Nasional, salah satu penulis penelitian, menilai pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui pengamatan terhadap orangutan liar sepanjang hidupnya. (*)
Sumber: Earth






