Jakarta, Jurnas.com - Virus flu burung H5N1 mengancam populasi burung nasar di berbagai belahan dunia. Ribuan burung dilaporkan mati akibat wabah ini, sementara para peneliti memperingatkan bahwa penurunan jumlah burung pemakan bangkai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan memperbesar risiko penyebaran patogen.
Burung nasar memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Mereka memakan bangkai hewan, termasuk daging yang telah membusuk dan mengandung berbagai patogen berbahaya bagi satwa lain. Aktivitas ini membantu mengurangi penumpukan bangkai yang dapat menjadi sumber penyebaran penyakit.
Namun, kemampuan burung nasar bertahan dari paparan banyak patogen tidak membuat mereka kebal terhadap H5N1. Sebuah surat ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Conservation Biology memperingatkan bahwa virus tersebut menjadi ancaman serius bagi populasi burung nasar yang sebelumnya telah tertekan akibat peracunan, kehilangan habitat, dan perburuan.
Jika populasi mereka terus menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh spesies yang terinfeksi. Berkurangnya burung nasar juga dapat mengurangi kemampuan alami lingkungan untuk membersihkan bangkai, sehingga memperbesar persoalan kesehatan ekosistem.
Ribuan Burung Nasar Mati, Spesies Langka Ikut Terdampak
Sedikitnya 16 dari 23 spesies burung nasar di dunia telah menghadapi persoalan konservasi. Kondisi ini membuat kematian tambahan akibat wabah penyakit berpotensi memperburuk populasi yang sudah rentan.
Di Amerika Serikat dan Amerika Selatan, ribuan burung nasar hitam Amerika dan burung nasar kalkun dilaporkan mati akibat H5N1.
Dampak serupa juga terjadi di Eropa. Wabah pada 2022 menewaskan sedikitnya 16 burung nasar griffon dewasa di Spanyol dan Prancis. Ratusan anak burung turut dilaporkan mati di lokasi perkembangbiakan.
Kondor California menjadi salah satu spesies yang menghadapi risiko besar. Populasinya pernah menyusut hingga hanya 27 individu pada 1987. Dalam salah satu kejadian wabah H5N1, sekitar 6 persen populasi liarnya mati hanya dalam enam pekan.
Burung nasar berjanggut di Eropa juga terdampak. Sementara itu, informasi mengenai dampak H5N1 terhadap burung nasar di Afrika dan Asia masih terbatas, antara lain karena pemantauan yang belum memadai dan populasi burung yang telah menurun tajam di sejumlah wilayah.
Keterbatasan data tersebut menyulitkan penilaian mengenai skala kematian yang sebenarnya. Tanpa pemantauan yang memadai, penurunan populasi akibat wabah berisiko tidak terdeteksi sejak awal.
Kematian Burung Nasar Bisa Memicu Rantai Penularan
Peneliti menyoroti kemungkinan terbentuknya lingkaran penularan yang memperburuk situasi. Burung nasar merupakan satwa sosial yang kerap berkumpul di sekitar bangkai untuk mencari makan. Perilaku ini membuat mereka berpotensi terpapar virus ketika mendatangi bangkai hewan yang terinfeksi H5N1.
Rantai risikonya dapat berkembang ketika semakin banyak hewan terinfeksi mati dan meninggalkan bangkai yang berpotensi mengandung virus. Burung nasar yang memakan bangkai tersebut dapat ikut terinfeksi. Jika semakin banyak burung mati, kemampuan lingkungan untuk menghilangkan bangkai pun berkurang.
Bangkai yang tertinggal kemudian berpotensi menjadi sumber paparan bagi satwa lain. Dengan demikian, kematian burung nasar dapat memperlemah salah satu mekanisme alami yang membantu mengurangi penumpukan bangkai di lingkungan.
“Semakin banyak bangkai yang terinfeksi, semakin besar risiko penularan bagi burung nasar,” kata Morant.
Ia menjelaskan paradoks yang muncul ketika jumlah burung nasar terus berkurang.
“Karena bangkai-bangkai ini dapat menjadi sumber infeksi, muncul sebuah paradoks: semakin banyak burung nasar yang mati, semakin berkurang kemampuan untuk menghilangkan bangkai, patogen semakin menyebar dan penularan meningkat.”
H5N1 juga tidak terbatas menginfeksi burung. Virus tersebut telah terkonfirmasi pada lebih dari 48 spesies mamalia di seluruh dunia. Kondisi ini menambah perhatian terhadap penyebaran virus di antara satwa, meskipun dampaknya terhadap setiap spesies dapat berbeda.
Lima Langkah untuk Melindungi Burung Nasar dari H5N1
Surat ilmiah dalam Conservation Biology mengusulkan lima langkah terkoordinasi untuk menghadapi ancaman tersebut. Rekomendasi ini ditujukan kepada peneliti, pengelola konservasi, dan pembuat kebijakan di negara-negara yang menjadi habitat burung nasar.
Langkah pertama adalah memperkuat pemantauan populasi, termasuk mencatat lokasi kematian dan tingkat penyebaran wabah. Data tersebut diperlukan untuk menentukan respons yang sesuai. Spesies migran perlu mendapat perhatian khusus karena pergerakannya melintasi batas negara.
Morant mencontohkan perbedaan kondisi spesies di wilayah Basque.
“Di wilayah Basque, populasi burung nasar griffon berada dalam kondisi sehat, tetapi burung nasar Mesir lebih rentan. Kita perlu memberikan perhatian khusus kepada spesies migran,” ujarnya.
Langkah kedua adalah mengevaluasi vaksinasi jika kondisi lapangan memungkinkan. Program vaksinasi telah diterapkan pada kondor California sebagai respons terhadap ancaman akut H5N1. Pendekatan tersebut perlu terus dievaluasi ketika populasi burung menghadapi risiko serius.
Ketiga, tempat pemberian pakan atau feeding stations harus dikelola secara ketat. Fasilitas ini digunakan dalam program konservasi untuk menyediakan makanan bagi burung nasar, tetapi juga menjadi lokasi berkumpulnya banyak burung.
Karena itu, bangkai yang disediakan sebagai pakan perlu dipastikan bebas dari H5N1. Pengendalian sumber makanan dinilai penting untuk mengurangi risiko paparan di lokasi yang dikunjungi banyak individu.
Keempat, peneliti dan petugas yang menangani burung nasar harus menerapkan protokol biosekuriti secara ketat. Virus dapat bertahan pada bulu dan jaringan tubuh setelah burung mati sehingga penanganan bangkai membutuhkan langkah pencegahan yang sesuai.
Kelima, negara-negara yang memiliki populasi burung nasar perlu menyusun rencana aksi sesuai kondisi masing-masing dan menghubungkannya melalui kerangka kerja sama lintas negara.
Perbedaan kondisi sosial ekonomi dan regulasi membuat pendekatan yang sama tidak selalu dapat diterapkan di setiap wilayah. Namun, koordinasi internasional tetap diperlukan karena burung migran bergerak melintasi batas negara.
Populasi Sulit Pulih karena Reproduksi Lambat
Burung nasar menghadapi tantangan lain yang membuat dampak wabah semakin mengkhawatirkan: tingkat reproduksi yang relatif lambat. Satwa ini berumur panjang, tetapi sebagian besar spesies hanya membesarkan satu anak setiap tahun.
Karakteristik tersebut membuat pemulihan populasi membutuhkan waktu lama setelah terjadi kematian massal. Jika kematian berlangsung terus-menerus, jumlah individu baru yang tumbuh mungkin tidak cukup untuk menggantikan burung yang hilang.
Penurunan populasi juga tidak selalu terlihat sebagai keruntuhan besar dalam waktu singkat. Populasi dapat terus melemah ketika kematian berulang menghambat regenerasi, sementara H5N1 menambah tekanan melalui kematian akut.
Bagi spesies dengan jumlah individu liar yang terbatas, kehilangan sebagian populasi dalam beberapa pekan dapat menghambat upaya konservasi yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Morant mengatakan peringatan tersebut bertujuan mendorong komunitas ilmiah dan pihak yang bertanggung jawab atas konservasi untuk menyiapkan tindakan bersama.
“Kami ingin memperingatkan komunitas peneliti dan pihak yang bertanggung jawab atas konservasi agar mereka dapat menetapkan tindakan yang terkoordinasi,” katanya.
“Untuk mengatasi situasi epidemiologis yang berbahaya ini, sangat mendesak untuk mengembangkan rencana lintas negara yang terkoordinasi dan mengintegrasikan tindakan tersebut ke dalam struktur tata kelola bersama.”
Peringatan yang diterbitkan dalam Conservation Biology menegaskan pentingnya pemantauan wabah, pengendalian sumber pakan, biosekuriti, evaluasi vaksinasi, dan koordinasi internasional. Langkah-langkah tersebut diusulkan untuk melindungi burung nasar sekaligus mempertahankan peran ekologis mereka dalam mengurangi penumpukan bangkai dan membantu menjaga kesehatan lingkungan. (*)
Sumber: Earth





