Bendera Israel berkibar dengan latar belakang permukiman Israel Maale Adumim di Tepi Barat yang diduduki Israel, 14 Agustus 2025. REUTERS
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penilaian intelijen Central Intelligence Agency (CIA) yang diklasifikasikan dilaporkan memperingatkan bahwa perpecahan politik, ekonomi, dan sosial yang semakin dalam dapat membuat Israel menghadapi risiko konflik sipil hingga keruntuhan negara.
Laporan tersebut diungkap oleh Drop Site News pada Senin (5/10), yang mengutip dua sumber Amerika Serikat yang mengetahui isi dokumen.
Penilaian berjudul “Fracture From Within” itu disebut disusun pada Agustus oleh Red Cell, unit analisis CIA yang bertugas menantang asumsi intelijen yang sudah ada dan mengembangkan analisis alternatif.
CIA tidak memberikan tanggapan ketika dimintai komentar terkait laporan tersebut. Karena itu, isi penilaian yang diberitakan belum dapat diverifikasi secara independen.
Menurut laporan tersebut, sejumlah tekanan dalam negeri Israel dinilai berpotensi saling memperkuat, terutama menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober.
Faktor yang disebut antara lain tekanan ekonomi, meningkatnya belanja militer, perselisihan mengenai wajib militer, kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki, serta ketegangan politik terkait upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mempertahankan kekuasaan.
Penilaian tersebut dilaporkan melihat perang berkepanjangan di Gaza serta konflik dengan Lebanon dan Iran sebagai faktor yang semakin memperdalam perpecahan di dalam masyarakat Israel.
Para tentara yang kembali dari pertempuran juga menjadi perhatian. Setelah menjalani mobilisasi dan operasi militer dalam waktu panjang, sebagian tentara dilaporkan mengalami trauma psikologis serius.
Situasi tersebut dinilai dapat menambah tekanan sosial ketika Israel menghadapi perdebatan politik yang sudah tajam. Menurut laporan Drop Site News, kombinasi antara pengalaman perang, mobilisasi pasukan cadangan, dan perpecahan politik menjadi salah satu kondisi yang diperhatikan dalam analisis tersebut.
Salah satu persoalan paling sensitif yang disebut dalam penilaian itu adalah pengecualian wajib militer bagi laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks.
Persoalan tersebut semakin menonjol setelah Israel berulang kali memobilisasi pasukan cadangan untuk menghadapi konflik yang berkepanjangan. Di tengah beban militer yang meningkat, pengecualian bagi kelompok ultra-Ortodoks memicu ketidakpuasan dari sebagian masyarakat yang merasa beban wajib militer tidak dibagi secara merata.
Perselisihan tersebut bukan sekadar persoalan militer, tetapi juga menyentuh hubungan antara kelompok agama, pemerintah, dan masyarakat Israel secara lebih luas. Karena itu, isu wajib militer disebut sebagai salah satu garis perpecahan internal yang paling tajam.
Tekanan ekonomi juga menjadi bagian dari perhatian CIA yang dilaporkan. Bertahun-tahun konflik telah meningkatkan kebutuhan belanja militer Israel, sementara rumah tangga juga menghadapi tekanan biaya hidup.
Kondisi ekonomi yang memburuk, menurut laporan tersebut, berpotensi memperkuat ketegangan yang sudah ada apabila berlangsung bersamaan dengan polarisasi politik dan kelelahan akibat perang.
Penilaian tersebut juga disebut mempertimbangkan kemungkinan bahwa tekanan ekonomi dapat berinteraksi dengan persoalan lain, sehingga menciptakan kondisi yang lebih sulit bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas politik dan sosial.
Perjuangan Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan juga disebut sebagai salah satu sumber ketegangan politik dan konstitusional.
Penilaian tersebut muncul hanya beberapa pekan sebelum pemilu Israel pada 27 Oktober. Menurut laporan yang mengutip sumber yang mengetahui dokumen tersebut, dinamika politik menjelang pemilu dapat menjadi salah satu faktor yang memperbesar ketegangan internal yang sudah ada.
Dalam konteks tersebut, persoalan politik domestik tidak berdiri sendiri. Perdebatan mengenai perang, wajib militer, kondisi ekonomi, dan arah pemerintahan bertemu dengan persaingan politik yang semakin tajam.
Penilaian CIA yang dilaporkan juga mencantumkan meningkatnya kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki sebagai salah satu tekanan yang berpotensi memperburuk ketidakstabilan internal.
Selain persoalan domestik, laporan tersebut disebut menyoroti meningkatnya isolasi internasional Israel. Salah satu perhatian yang disebut adalah berkurangnya dukungan di Amerika Serikat, yang selama ini menjadi salah satu pendukung utama Israel. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Central Intelligence Agency Masyarakat Israel AS-Iran AS Israel



























