Ilustrasi - ini ciri-ciri Disgrafia pada anak yang perlu diketahui (Foto: IJEA Journal)
Jakarta, Jurnas.com - Anak yang enggan mengerjakan tugas sekolah, tulisan tangannya acak-acakan, atau membutuhkan waktu sangat lama hanya untuk menyalin beberapa kalimat sering kali dicap malas oleh lingkungan sekitarnya.
Padahal, kondisi tersebut bisa jadi bukan disebabkan oleh rasa malas atau kurangnya motivasi, melainkan tanda dari disgrafia.
Dikutip dari berbagai, disgrafia merupakan sebuah kesulitan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan ekspresi tulisan.
Anak dengan disgrafia mengalami hambatan dalam koordinasi motorik halus serta pemrosesan informasi yang diperlukan untuk mengubah pikiran menjadi tulisan tangan yang rapi dan terstruktur.
Kondisi ini sama sekali tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan anak. Sebagian besar anak yang mengalami disgrafia justru memiliki kemampuan intelektual yang normal atau bahkan di atas rata-rata, namun mereka kesulitan saat harus menyampaikan ide-ide tersebut secara tertulis di atas kertas.
Ada beberapa ciri utama disgrafia pada anak yang perlu diwaspadai oleh orang tua dan tenaga pendidik sejak dini:
1. Bentuk dan Ukuran Huruf Tidak Konsisten
Campur aduk antara huruf besar dan huruf kecil dalam satu kata, serta ukuran huruf yang sangat bervariasi atau tidak proporsional.
2. Cara Memegang Alat Tulis yang Tidak Lazim
Anak kerap memegang pensil atau pulpen dengan posisi cengkeraman yang sangat kuat hingga tangan cepat lelah dan terasa sakit.
3. Kesulitan Memposisikan Tulisan
Tulisan sering keluar dari garis buku, jarak antar kata tidak teratur, atau bentuk tulisan tidak tegak lurus.
4. Proses Menulis Sangat Lambat
Membutuhkan waktu jauh lebih lama dibanding teman sebayanya saat menyalin teks dari papan tulis maupun menuliskan jawaban.
5. Penghilangan Kata atau Huruf
Sering secara tidak sengaja melewatkan huruf dalam sebuah kata atau memotong kalimat di pertengahan proses menulis.
Penanganan disgrafia membutuhkan peran aktif dari lingkungan sekitar, mulai dari orang tua hingga guru di sekolah.
Intervensi dapat dilakukan melalui terapi okupasi untuk melatih motorik halus, pemberian waktu tambahan saat ujian, serta penggunaan teknologi bantu seperti perangkat pengetikan digital untuk menunjang aktivitas belajar anak.
Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai disgrafia, masyarakat diharapkan dapat menghentikan pelabelan negatif terhadap anak, sehingga mereka bisa mendapatkan pendampingan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Orang Tua Gangguan Saraf Hari Kesadaran Disgrafia Internasional






















