Sabtu, 03/10/2026 00:18 WIB

Tak Semua Negara yang Dilanda Bencana Besar Alami Kelaparan, Ini Sebabnya





Bencana besar seperti banjir, badai, gempa bumi dan kekeringan kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko kelaparan

Ilustrasi tsunami (Foto: RRI)

Jakarta, Jurnas.com - Bencana besar seperti banjir, badai, gempa bumi dan kekeringan kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko kelaparan. Namun, studi global terbaru menunjukkan bahwa hubungan tersebut ternyata tidak sesederhana itu.

Penelitian terhadap 87 negara selama 2011–2019 menemukan bahwa negara yang mengalami bencana lebih parah tidak selalu mengalami peningkatan kelaparan yang lebih besar. Sebaliknya, sejumlah negara mampu menjaga kondisi pangan meski berulang kali menghadapi bencana dengan tingkat keparahan di atas rata-rata.

Filipina, India, Vietnam, Nepal, Thailand dan Jepang termasuk dalam kelompok tersebut. Negara-negara itu mengalami berbagai bencana besar selama periode penelitian, tetapi proporsi penduduk yang tidak memperoleh cukup kalori justru mengalami penurunan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa besarnya dampak bencana bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah negara akan mengalami peningkatan kelaparan. Ketahanan sistem pangan dan kemampuan negara menyerap guncangan turut berperan.

Penelitian ini dipimpin Christophe Béné dari Alliance of Bioversity International and CIAT bersama 26 peneliti lainnya dan diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Para peneliti menggabungkan data mengenai bencana dengan indikator kelaparan dan kondisi sistem pangan di berbagai negara.

Data bencana berasal dari EM-DAT, basis data internasional yang mencatat berbagai kejadian seperti banjir, badai, gempa bumi, kekeringan, epidemi dan bencana lainnya.

Sementara itu, tingkat kelaparan diukur berdasarkan proporsi penduduk yang tidak mendapatkan asupan kalori yang cukup atau undernourishment.

Ketika tingkat keparahan bencana dibandingkan dengan perubahan tingkat kelaparan, peneliti tidak menemukan pola yang jelas. Negara yang mengalami bencana lebih berat tidak secara otomatis menjadi negara yang mengalami kenaikan kelaparan lebih tinggi.

Sebaliknya, beberapa negara yang menghadapi bencana besar justru mencatat penurunan kelaparan.

Filipina, India, Nepal, Thailand, Vietnam dan Jepang menjadi contoh yang menonjol. Negara-negara tersebut mengalami berbagai kejadian ekstrem, mulai dari hujan monsun hingga topan dan gempa bumi, tetapi tingkat kelaparan tetap menurun selama periode yang diteliti.

Setelah menganalisis perubahan di masing-masing negara dari waktu ke waktu, peneliti menemukan tiga perubahan yang berkaitan dengan lebih kecilnya lonjakan kelaparan setelah terjadi guncangan.

Pertama adalah kualitas pemerintahan dan layanan publik. Ketika kemampuan pemerintah dalam menjalankan layanan publik meningkat, perubahan tingkat kelaparan setelah bencana cenderung lebih kecil.

Kedua adalah keragaman sumber pangan. Negara yang tidak terlalu bergantung pada satu sumber pangan memiliki lebih banyak pilihan ketika salah satu sumber terganggu akibat bencana.

Keragaman tersebut disebut peneliti sebagai redundancy, yakni adanya cadangan atau alternatif dalam sistem pangan sehingga kegagalan satu bagian tidak langsung melumpuhkan keseluruhan sistem.

Ketiga adalah pertumbuhan ekonomi. Yang berkaitan dengan stabilitas pangan bukan semata-mata seberapa kaya sebuah negara pada satu titik waktu, melainkan perubahan kondisi ekonominya selama periode penelitian.

Artinya, negara dengan tingkat pendapatan lebih rendah tetapi mengalami pertumbuhan ekonomi dapat memiliki pola ketahanan yang berbeda dibandingkan negara lebih kaya yang pertumbuhannya stagnan.

Peneliti menemukan pola lain ketika membandingkan kondisi antarnegara. Negara yang mengalami fluktuasi harga pangan lebih besar juga cenderung mengalami perubahan tingkat kelaparan yang lebih besar.

Temuan tersebut mengingatkan pada dampak krisis harga pangan global pada 2008 dan 2009. Studi tersebut mengutip salah satu perkiraan yang menyebut krisis harga pangan ketika itu mendorong sekitar 75 juta orang tambahan ke dalam kondisi kekurangan gizi.

Penelitian juga menemukan bahwa negara dengan jaringan komunitas dan hubungan sosial yang lebih kuat cenderung mengalami perubahan tingkat kelaparan yang lebih kecil.

Namun, perubahan modal sosial dalam satu negara selama sembilan tahun tidak menunjukkan pengaruh yang terukur terhadap perubahan kelaparan dari tahun ke tahun. Peneliti menilai manfaatnya kemungkinan baru terlihat dalam jangka lebih panjang.

Tidak semua wilayah menunjukkan pola yang sama. Afrika Utara dan Asia Barat, Oseania, serta Afrika sub-Sahara mengalami perubahan tingkat kelaparan yang lebih besar terlepas dari tingkat keparahan bencana.

Peneliti menyebut konflik bersenjata kemungkinan menjadi salah satu faktor yang ikut menjelaskan kondisi tersebut. Sementara itu, banyak negara di Oseania merupakan negara kepulauan kecil yang menghadapi berbagai jenis guncangan, mulai dari gangguan ekonomi hingga kenaikan permukaan laut.

Ketergantungan pada impor biji-bijian juga tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan peningkatan atau penurunan kelaparan dalam analisis tersebut.

Peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Studi hanya memasukkan kejadian yang bersifat mendadak, sehingga tekanan jangka panjang seperti kekeringan berkepanjangan atau kenaikan permukaan laut tidak tercakup dalam analisis.

Selain itu, 87 negara yang diteliti memang mencakup berbagai kawasan dan tingkat pendapatan, tetapi belum tentu sepenuhnya mewakili seluruh dunia. Data pada tingkat nasional juga dapat menyamarkan kondisi yang sangat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Jenis bencana juga membutuhkan bentuk kesiapsiagaan yang berbeda. Strategi menghadapi kekeringan tidak selalu sama dengan strategi menghadapi banjir, gempa bumi atau badai.

Keterbatasan data lokal turut menjadi persoalan. Tanpa data yang dikumpulkan secara rutin pada tingkat daerah hingga nasional, pemerintah akan lebih sulit menentukan kebijakan yang tepat sebelum dan setelah bencana terjadi.

Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa dampak bencana terhadap pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kerusakan yang terjadi.

Kemampuan pemerintah menjalankan layanan publik, keberagaman sumber pangan, pertumbuhan ekonomi, kestabilan harga dan kekuatan jaringan sosial menjadi bagian dari kemampuan suatu negara menghadapi guncangan.

Jose-Luis Vivero-Pol dari World Food Programme, salah satu penulis penelitian, menekankan pentingnya keberagaman dan cadangan dalam sistem pangan, bukan hanya mengejar efisiensi atau rantai pasok yang sangat bergantung pada sistem just-in-time.

Dengan kata lain, ketika bencana datang, sistem pangan yang memiliki lebih banyak pilihan dan jalur alternatif memiliki lebih banyak ruang untuk menyerap gangguan.

Namun, penelitian ini tidak menyatakan bahwa negara dengan sistem tersebut pasti terbebas dari kelaparan setelah bencana. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan statistik, bukan bukti bahwa faktor-faktor tersebut secara langsung menyebabkan tingkat kelaparan lebih rendah. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Bencana Besar Risiko Kelaparan Ketahanan Pangan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :