Jum'at, 02/10/2026 12:35 WIB

Stok Rudal AS Menipis, Pentagon Kucurkan Anggaran Baru





Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengumumkan pemberian kontrak senilai USD$24,4 miliar kepada Raytheon

Rudal SM-6 milik Amerika Serikat (AS) dari kapal induk (Foto: AFP)

Washington, Jurnas.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengumumkan pemberian kontrak senilai USD$24,4 miliar kepada Raytheon, unit usaha RTX, untuk mempercepat produksi rudal pencegat Standard Missile-6, guna menggantikan amunisi dalam jumlah besar yang habis selama perang dengan Iran.

"Amunisi ini merupakan senjata perang anti-udara dan anti-permukaan yang krusial. Perjanjian lima tahun dengan dua tahun opsi tambahan, akan mendorong produksi yang lebih cepat," demikian keterangan resmi Pentagon dikutip dari Reuters pada Jumat (2/10).

Angkatan Laut AS menyatakan bahwa kontrak multiyear ini dirancang untuk menjamin pasokan yang stabil dan andal bagi rudal SM-6, yang dapat menjalankan misi serangan ofensif maupun pertahanan rudal.

Militer menambahkan bahwa kesepakatan tersebut "memberikan industri pertahanan kepastian jangka panjang yang dibutuhkan, untuk memperluas kapasitas tenaga kerja dan mengamankan rantai pasokan krusial.

Kontrak SM-6 menjadi bagian dari rangkaian kesepakatan amunisi bernilai besar yang dikejar Pentagon tahun ini, guna mendesak para kontraktor mempercepat output produksi di bawah kebijakan pemerintahan Donald Trump yang memprioritaskan produksi senjata dibanding imbal hasil pemegang saham.

Langkah tersebut menyusul kesepakatan sementara senilai USD$20,7 miliar untuk rudal udara-ke-udara AMRAAM milik Raytheon pada akhir September, serta kontrak pencegat Patriot senilai USD$58,6 miliar yang diberikan kepada Lockheed Martin pada Juli.

Kendati demikian, eksekutif industri memperingatkan bahwa Kongres belum mengalokasikan anggaran untuk kesepakatan tersebut, sehingga kontraktor belum dapat berinvestasi dalam skala besar hingga anggota dewan mengambil tindakan.

Pengeluaran amunisi yang masif sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari telah memicu kecemasan atas ketersediaan stok senjata AS.

"Pengeluaran amunisi dalam Operasi Epic Fury telah mengakibatkan kelangkaan inventaris strategis dan mengungkap hambatan basis industri untuk pasokan ulang amunisi," ujar Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS dalam laporannya bulan lalu.

Sikap senada disampaikan dalam laporan Kantor Anggaran Kongres pada 15 September, yang menggarisbawahi dampak terhadap pasokan pertahanan rudal yang akan menyisakan Amerika Serikat dengan berkurangnya inventaris pencegat selama beberapa tahun.

Sementara itu, Teheran terus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz lebih dari tujuh bulan pasca-serangan awal, di saat AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut laporan Wall Street Journal, Presiden Donald Trump telah menyampaikan kepada para menterinya bahwa dia memperkirakan akan melanjutkan pengeboman ke Iran pada akhir November mendatang.

KEYWORD :

Kontrak Rudal Raytheon Stok Rudal AS Operasi Epic Fury




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :