Jum'at, 11/09/2026 20:18 WIB

Benarkah Manusia Selalu Berperang?





Ilustrasi siap berperang (FOTO: GETTY IMAGE)

Jakarta, Jurnas.com - Perang sering dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah manusia. Namun, berbagai penelitian arkeologi dan sejarah menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa manusia memang telah mengenal kekerasan sejak masa prasejarah, tetapi perang dalam pengertian sebagai konflik yang terorganisasi oleh pemerintahan ternyata muncul jauh lebih belakangan.

Dikutip dari Live Science, sejarawan Stanford University Ian Morris menjelaskan bahwa jawaban atas pertanyaan apakah manusia selalu berperang sangat bergantung pada bagaimana perang didefinisikan.

Jika perang dipahami sebagai konflik yang melibatkan pemerintahan atau negara, sebagian besar perjalanan sejarah manusia justru berlangsung tanpa perang.

"Selama hampir 99 persen sejarah manusia, belum ada pemerintahan," kata Morris, sejarawan Stanford University sekaligus penulis War! What Is It Good For? Conflict and the Progress of Civilization from Primates to Robots.

Namun, ketiadaan pemerintahan bukan berarti manusia pada masa itu hidup sepenuhnya damai. "Orang selalu bertarung dan saling membunuh," ujar Morris.

Perbedaannya terletak pada skala dan bentuk kekerasan. Konflik antarmanusia telah terjadi sejak zaman prasejarah, tetapi kekerasan tersebut belum tentu dapat disebut sebagai perang seperti yang dipahami dalam konteks negara modern.

Sejumlah penelitian arkeologi yang dirangkum dalam kajian tahun 2022 menunjukkan bahwa perang hampir tidak ditemukan ketika manusia masih hidup sebagai pemburu dan peramu yang berpindah-pindah.

Profesor emeritus sejarah George Mason University Peter Stearns mengatakan perang baru berkembang setelah manusia mulai mengenal pertanian dan menetap. "Sedikit atau bahkan tidak ada perang pada masyarakat pemburu dan peramu sebelum munculnya pertanian," kata Stearns.

Kesimpulan tersebut didasarkan pada penelitian terhadap ribuan kerangka manusia purba dari berbagai wilayah. Para arkeolog mencari tanda-tanda kekerasan, termasuk bekas tusukan, tebasan, benturan keras, hingga temuan kuburan massal yang dapat menunjukkan adanya konflik berskala besar.

Hasil penelitian menunjukkan bukti perang hampir tidak ditemukan sebelum sekitar 8.000 SM. Luka yang mengindikasikan konflik berskala besar baru lebih banyak muncul setelah manusia hidup menetap dan membentuk komunitas yang lebih besar.

Meski demikian, kehidupan masyarakat prasejarah tidak sepenuhnya bebas dari kekerasan.

Di situs arkeologi Nataruk, Kenya, ditemukan 27 kerangka manusia berusia sekitar 10.000 tahun yang menunjukkan tanda-tanda kematian akibat kekerasan. Sementara di Jebel Sahaba, Sudan, ditemukan jasad berusia sekitar 13.000 tahun dengan bekas serangan antarkelompok.

Namun, menurut Morris, temuan semacam itu umumnya tidak langsung dikategorikan sebagai perang.

"Para peneliti biasanya mendefinisikan perang sebagai kekerasan yang diorganisasi oleh pemerintah atau kekerasan kolektif yang menewaskan lebih dari jumlah tertentu," jelasnya.

Kelompok pemburu-pengumpul pada masa itu umumnya hanya terdiri atas puluhan orang dan belum memiliki pemerintahan formal. Karena itu, konflik yang terjadi lebih tepat dipahami sebagai kekerasan antarkelompok daripada perang dalam pengertian yang lebih luas.

David Christian, profesor emeritus sejarah dari Macquarie University, Australia, memiliki pandangan serupa. "Selama sebagian besar sejarah manusia, komunitas masih sangat kecil sehingga sulit menyamakan kekerasan dengan perang," ujarnya.

Gambaran tersebut berubah ketika manusia mulai membentuk kerajaan dan kekaisaran dalam skala besar. Perang kemudian menjadi bagian yang semakin dominan dalam sejarah negara-negara besar.

Menurut penelitian Jared Morgan McKinney dari Air War College, perang bahkan menjadi kondisi yang paling umum dalam sejarah negara-negara besar. Periode yang dikenal sebagai masa damai pun tidak selalu berarti tidak ada konflik sama sekali.

Salah satu contohnya adalah Pax Romana. Periode tersebut sering dikaitkan dengan perdamaian, tetapi menurut kajian McKinney, kondisi itu sebenarnya berlangsung karena satu kekuatan berhasil mendominasi pihak lain.

Meski perang menjadi pola yang kuat dalam sejarah negara, berbagai periode panjang tanpa perang besar tetap tercatat di sejumlah wilayah dunia.

Salah satu contoh terjadi sekitar 1400–1200 SM, ketika Mesir Kuno dan Kekaisaran Het berhasil menghindari perang besar melalui perjanjian diplomatik. Kedua kekuatan tersebut saling mengakui kedudukan masing-masing.

Hubungan Romawi dan Persia juga relatif damai pada sekitar 387–501 M. Para sejarawan menyebut periode tersebut sebagai Long Fifth Century, ketika kedua kekuatan memilih menghindari konflik karena menghadapi ancaman dari luar.

Di Asia Timur, Dinasti Song di China mampu menjaga perdamaian dengan kerajaan-kerajaan tetangganya sekitar 1000–1200 M. Salah satu caranya adalah melalui pembayaran rutin yang nilainya jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan perdagangan yang diperoleh.

Ian Morris juga menyoroti hubungan antara China, Korea, dan Jepang sekitar 1600–1850. Kawasan tersebut relatif stabil dalam periode tersebut, berbeda dengan Eropa yang saat itu dipenuhi peperangan.

Sementara di Amerika Utara, Konfederasi Haudenosaunee atau Liga Lima Bangsa Iroquois mampu mempertahankan perdamaian antarsuku selama kurang lebih tiga abad, dari sekitar 1450 hingga 1777.

Di Amerika Selatan, para peneliti juga mencatat hampir tidak ada perang besar antarnegara berdaulat sejak 1935. Periode tersebut kemudian dikenal sebagai South American Long Peace.

Mengapa perdamaian bisa bertahan? Peter Frankopan, profesor sejarah global dari University of Oxford, menilai perang memang kerap menjadi cara negara mempertahankan kepentingannya. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa perdamaian dapat bertahan ketika kekuatan-kekuatan besar memilih menjaga keseimbangan.

"Perang mahal dan berisiko. Karena itu, pada banyak periode sejarah, stabilitas dan perdamaian tercapai ketika para rival mampu menyeimbangkan kekuatan masing-masing," ujar Frankopan.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perang bukan satu-satunya pola yang muncul dalam sejarah manusia. Ketika kepentingan, kekuatan, dan risiko membuat konflik menjadi terlalu mahal, negara-negara yang bersaing dapat memilih mempertahankan stabilitas.

Jared McKinney pun menyimpulkan bahwa perang memang menjadi pola dominan dalam sejarah manusia, tetapi pola tersebut tidak berlaku tanpa pengecualian.

"Perang adalah sesuatu yang normal dalam sejarah. Namun, seperti yang ditunjukkan berbagai contoh tersebut, setiap pola selalu memiliki pengecualian." (*)

Sumber: Live Science

 
KEYWORD :

Manusia Selalu Perang Sejarah Perang Masa Tanpa Perang




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :