Bendera AS dan Iran (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Penasihat senior Gedung Putih secara pribadi memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa konflik dengan Iran berpotensi berlangsung hingga bertahun-tahun, bahkan bisa berlanjut sampai akhir masa jabatannya. Penilaian tersebut diungkap dalam laporan The Wall Street Journal pada Rabu.
Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta sejumlah pejabat senior lainnya disebut telah membahas kemungkinan bahwa Teheran masih mampu bertahan menghadapi tekanan Washington. Tekanan itu mencakup blokade laut, sanksi ekonomi, dan operasi militer.
Penilaian internal tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan Trump di hadapan publik. Pada Rabu, Trump mengatakan perang akan berakhir "segera" setelah pemilu sela November dan mengklaim Iran "tidak bisa bertahan lebih lama lagi".
Konflik yang kini memasuki bulan ketujuh tersebut telah menewaskan 18 personel militer AS. Perang juga memunculkan kekhawatiran mengenai penggunaan sumber daya militer AS serta dampaknya terhadap pasar energi global.
Tekanan terhadap ekonomi AS turut terlihat dari harga bensin. Menurut data American Automobile Association (AAA), rata-rata harga bensin di AS mencapai 4,22 dolar AS per galon pada Rabu, naik dari 4,01 dolar AS sebulan sebelumnya dan 3,19 dolar AS setahun sebelumnya.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan keinginannya agar konflik segera berakhir, sembari tetap mendukung kampanye ekonomi yang lebih luas terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut strategi tersebut sebagai "Operation Economic Outcast", yang diposisikan sebagai alternatif dari operasi tempur besar-besaran.
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales membela pendekatan pemerintahan Trump. Menurutnya, Trump telah menghancurkan kemampuan militer Iran dan melumpuhkan sisa perekonomian negara tersebut melalui blokade laut dan sanksi.
"Presiden Trump telah menghancurkan kemampuan militer Iran dan melumpuhkan apa yang tersisa dari ekonominya yang buruk dengan blokade laut paling kuat dalam sejarah dunia dan sanksi yang menghancurkan," kata Wales.
Ia menambahkan, "Hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan dia lakukan dan kapan."
Vance juga menolak memprediksi kapan permusuhan akan berakhir. Ia menilai pengungkapan strategi dan jadwal perang kepada Iran justru tidak bertanggung jawab.
"Tidak bertanggung jawab bagi kami untuk menguraikan strategi dan jadwal kami kepada bangsa Iran yang tidak bisa memenuhi komitmennya dan tidak bisa berhenti menembaki kapal-kapal komersial," ujar Vance.
Sementara itu, Pentagon dilaporkan tengah menyiapkan perpanjangan penempatan sejumlah unit pertahanan udara di Timur Tengah tanpa batas waktu yang pasti. Laporan tersebut juga menyebut unit ekspedisi Marinir AS ketiga diperkirakan dikerahkan ke kawasan itu pada musim gugur tahun ini.
Pakar Iran dari Brookings Institution, Suzanne Maloney, menilai blokade laut AS kecil kemungkinan menghasilkan keputusan yang menentukan dalam waktu dekat.
Menurut Maloney, blokade tersebut juga kemungkinan tidak akan memberikan hasil yang menentukan dalam jangka menengah. Karena itu, penggunaan blokade secara realistis harus didasarkan pada rencana pengepungan dalam jangka panjang.
"Blokade laut AS kemungkinan tidak menghasilkan hasil yang menentukan dalam waktu dekat atau bahkan jangka menengah," kata Maloney.
"Prospek keberhasilannya pun meragukan, terutama karena konsekuensi yang tidak diinginkan," ujarnya. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Penasihat senior Gedung Putih Presiden AS Donald Trump AS Iran Perang Iran

























