Ilustrasi - Lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Allan Feitor)
Jakarta, Jurnas.com - Umat Islam di seluruh dunia memiliki berbagai momentum bersejarah yang diperingati setiap tahunnya dalam kalender Hijriah.
Dua di antara peringatan agung yang paling melekat dalam tradisi masyarakat Nusantara adalah Maulid Nabi dan Isra Miraj.
Kendati sama-sama berpusat pada pemuliaan sosok junjungan Nabi Muhammad SAW dan dirayakan dengan penuh khidmat, keduanya merujuk pada peristiwa dengan latar belakang sejarah, waktu kejadian, serta esensi spiritual yang sangat berbeda.
Perbedaan pertama terletak pada pengertian dasar dan waktu terjadinya peristiwa tersebut. Peringatan Maulid Nabi berasal dari kata milad yang berarti hari kelahiran, yaitu momen untuk mengenang hadirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah di Makkah.
Sementara itu, Isra Miraj merupakan peringatan atas mukjizat perjalanan malam luar biasa yang dialami Rasulullah pada 27 Rajab, sekitar dua tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.
Perjalanan tersebut mencakup Isra, yakni perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, serta Miraj, yaitu diangkatnya beliau dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha di langit ketujuh.
Latar belakang lahirnya kedua peristiwa agung ini pun memiliki konteks sejarah yang bertolak belakang. Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awwal menjadi fajar baru yang menandai dimulainya era pencerahan untuk mengikis kegelapan zaman jahiliyah.
Sebaliknya, peristiwa Isra Miraj terjadi pada masa-masa penuh kesedihan atau Amul Huzni, tak lama setelah wafatnya sang istri tercinta Sayyidatina Khadijah RA dan sang paman pelindung Abu Thalib.
Allah SWT memperjalankan Rasulullah dalam Isra Miraj sebagai bentuk penghiburan spiritual sekaligus peneguhan atas makam kenabian beliau di hadapan para anbiya terdahulu.
Adapun inti dari peringatan Maulid Nabi berpusat pada ikhtiar menumbuhkan rasa cinta (mahabbah), memperbanyak bacaan shalawat, serta mengkaji sirah nabawiyah untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, inti paling krusial dari peristiwa Isra Miraj adalah penerimaan perintah shalat fardhu lima waktu.
Syariat shalat diturunkan secara langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha tanpa perantara Malaikat Jibril, yang menegaskan kedudukan shalat sebagai tiang agama sekaligus sarana komunikasi utama antara hamba dengan Sang Pencipta.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Maulid Nabi Isra Miraj Kelahiran Nabi Info Keislaman






















