Fatmawati sang penjahit bendera merah putih (Foto: Instagram/@Puti_Soekarno)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap kali peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia digelar, kibaran Sang Saka Merah Putih senantiasa membumbung tinggi di langit Nusantara.
Namun, di balik kain dwicolor yang mengangkasa dengan gagah tersebut, terdapat kisah kelembutan, perjuangan, dari seorang Ibu Fatmawati.
Sebagai Ibu Negara Republik Indonesia pertama sekaligus istri dari Proklamator Ir. Soekarno, Fatmawati memegang peranan sejarah dalam detik-detik menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
17 Ucapan HUT Ke-81 RI yang Penuh Makna
Lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923, Fatmawati memiliki nama asli Fatimah. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hassan Din dan Siti Chadijah.
Sejak usia muda, ia dikenal sebagai sosok yang mandiri, teguh memegang nilai agama, serta aktif dalam kegiatan organisasi kepemudaan.
17 Agustus 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Pernikahannya dengan Ir. Soekarno pada tahun 1943 membawa Fatmawati ke dalam pusaran perjuangan kemerdekaan nasional di Jakarta.
Di tengah situasi politik yang serba sulit dan di bawah pengawasan ketat pemerintah pendudukan Jepang, Fatmawati setia mendampingi Bung Karno memperjuangkan cita-cita kedaulatan bangsa.
Dihimpun dari berbagai sumber, kisah penjahitan Bendera Pusaka bermula pada bulan Oktober 1944. Saat itu, janji kemerdekaan mulai didengungkan dan Bung Karno meminta Fatmawati untuk menyiapkan sebuah bendera kebangsaan yang layak dikibarkan saat hari kemerdekaan tiba.
Namun, mencari kain di tengah kondisi perang Asia Timur Raya bukanlah hal mudah. Bahan pakaian sangat langka, dan perdagangan diatur ketat oleh militer Jepang.
Berkat bantuan dari Shimizu, seorang perwira Jepang yang menjadi perantara hubungan dengan tokoh Indonesia, kain katun berkualitas bagus berhasil didapatkan. Kain tersebut adalah bahan blok katun (sering disebut bahan kain Jepang) berwarna merah dan putih.
Dalam keadaan hamil tua menantikan kelahiran putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra, Fatmawati menjahit kain merah dan putih tersebut secara manual menggunakan mesin jahit engkol tangan merk Singer di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Pada Jumat pagi, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, naskah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno.
Sesaat setelahnya, bendera merah putih hasil jahitan tangan Fatmawati dikibarkan untuk pertama kalinya oleh Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan SK Trimurti di halaman rumah Pegangsaan Timur.
Atas jasa-jasanya yang sangat besar bagi negara, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ibu Fatmawati berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 118/TK/2000.
Ibu Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia, saat perjalanan pulang usai menunaikan ibadah umrah, dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Fatmawati Bendera Merah Putih Hari Kemerdekaan 17 Agustus

















