Selasa, 11/08/2026 04:13 WIB

Asap Kebakaran Hutan Balikkan Penurunan Polusi Ozon





Polusi tersebut juga dapat terbawa angin melintasi negara bagian, bercampur dengan polusi perkotaan, bahkan menghasilkan ozon setelah kepulan asap tebal berlalu

Ilustrasi asap kebakaran hutan (Foto: DW)

Jakarta, Jurnas.com - Upaya Amerika Serikat menurunkan polusi udara selama bertahun-tahun mulai menghadapi tantangan baru dari kebakaran hutan. Riset terbaru menunjukkan emisi kebakaran hutan telah membalikkan tren penurunan ozon permukaan secara nasional sejak 2015.

Ozon permukaan atau ground-level ozone berbeda dari lapisan ozon di atmosfer atas. Gas ini terbentuk ketika nitrogen oksida dan senyawa organik volatil bereaksi dengan bantuan sinar matahari, dan dapat merusak paru-paru serta meningkatkan risiko kematian dini.

Kebakaran hutan menambah bahan kimia yang memicu pembentukan ozon. Polusi tersebut juga dapat terbawa angin melintasi negara bagian, bercampur dengan polusi perkotaan, bahkan menghasilkan ozon setelah kepulan asap paling tebal telah berlalu.

Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari University of Iowa menggunakan model deep learning untuk memetakan konsentrasi ozon di seluruh wilayah daratan Amerika Serikat.

Dikutip dari Earth, model tersebut menggabungkan data pemantauan EPA dengan informasi cuaca, atmosfer, satelit, kondisi lahan, dan populasi.

Hasilnya berupa peta harian dengan resolusi sekitar 1 kilometer untuk periode 2003 hingga 2024. Model mampu menjelaskan 88 persen variasi ozon harian dan mendeteksi 75,3 persen kejadian ketika konsentrasi ozon melampaui standar kualitas udara.

Data tersebut menunjukkan perubahan yang tidak sepenuhnya terlihat dari jaringan pemantauan langsung. Stasiun EPA hanya mencakup sekitar 2 persen wilayah daratan AS dan melayani sekitar 26 persen populasi.

Dari 2003 hingga 2015, ukuran ozon nasional yang digunakan regulator turun rata-rata 0,65 bagian per miliar (ppb) setiap tahun. Setelah 2015, trennya berbalik dan meningkat 0,13 ppb per tahun.

Jika periode penurunan polusi yang tidak biasa pada 2020 dan 2021 dikeluarkan dari perhitungan, peningkatannya mencapai 0,20 ppb per tahun.

Peneliti kemudian membandingkan kondisi dengan dan tanpa emisi kebakaran hutan. Dua metode yang digunakan menghasilkan pola yang hampir sama.

Tanpa emisi kebakaran hutan, konsentrasi ozon diperkirakan masih akan turun sekitar 0,25 ppb per tahun setelah 2015. Emisi kebakaran disebut telah menghapus sekitar 3,9 tahun kemajuan penurunan ozon secara nasional.

Dampaknya lebih besar di sejumlah wilayah. Di kawasan Barat, kebakaran hutan diperkirakan menghapus sekitar 6,2 tahun kemajuan, sedangkan di Midwest mencapai 5,3 tahun.

Riset tersebut juga memperkirakan peningkatan beban kesehatan akibat paparan ozon yang berkaitan dengan kebakaran hutan. Sejak 2013, estimasi kematian dini terkait paparan tersebut meningkat rata-rata sekitar 318 kasus per tahun.

Rata-rata estimasi kematian tahunan pada 2013-2023 sekitar 46 persen lebih tinggi dibandingkan periode 2003-2013. Tahun 2023 menjadi yang tertinggi dengan perkiraan 7.974 kematian dini, disusul 5.737 pada 2021 dan 3.996 pada 2020.

Angka tersebut merupakan estimasi risiko pada tingkat populasi, bukan jumlah kematian yang secara langsung dapat ditelusuri ke satu kebakaran atau satu kepulan asap.

Kebakaran juga membuat semakin banyak penduduk tinggal di wilayah yang melampaui standar ozon nasional sebesar 70 ppb. Pada 2022-2024, sekitar 102 juta orang tinggal di wilayah yang tidak memenuhi standar tersebut.

Tanpa pengaruh kebakaran hutan, jumlah itu diperkirakan 43 juta lebih rendah.

Peristiwa kebakaran hutan Kanada pada 2023 menunjukkan bagaimana asap dari wilayah yang jauh dapat memengaruhi kualitas udara di Amerika Serikat. Proporsi penduduk yang tinggal di wilayah dengan konsentrasi ozon di atas standar meningkat dari 21 persen pada 2020-2022 menjadi 44 persen pada 2023.

Temuan ini menunjukkan pengendalian emisi kendaraan, pembangkit listrik, dan industri saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan penurunan ozon. Kebakaran hutan dapat membawa polusi melintasi batas wilayah dan mengganggu hasil pengendalian emisi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil tersebut memiliki keterbatasan. Konsentrasi ozon di antara stasiun pemantauan tetap merupakan hasil estimasi, sementara skenario tanpa kebakaran merupakan simulasi yang bergantung pada asumsi mengenai pergerakan dan reaksi emisi.

Meski demikian, kedua metode yang digunakan untuk memisahkan pengaruh kebakaran menghasilkan hasil yang serupa. Studi ini menegaskan bahwa perubahan pola kebakaran dan asap perlu diperhitungkan dalam kebijakan kualitas udara.

Menurut temuan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, perlindungan kualitas udara ke depan tidak hanya membutuhkan pengendalian sumber polusi yang dapat dikendalikan manusia, tetapi juga pemantauan yang lebih luas, pencegahan kebakaran, pengelolaan asap lintas wilayah, dan upaya mengurangi risiko perubahan iklim. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Asap Kebakaran Hutan Polusi Ozon Dampak Kebakaran Hutan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :